bear and rose

BEAR AND ROSE

  1. Ahlan wa Sahlan fî Al-Ardh Al-Kinānah

“Perjalanan panjang melintasi alam hijau hingga sampai pada suatu tempat yang disebut lembah khayal. Bruang jantan dan setangkai mawar, kisah fiktif yang pernah ada di muka bumi.

Putri fathimah Oglu memaksa pendekar khayal untuk bercerita. Ibrahim malah membumbui akan kemampuan syahrul bercerita.Fathimah, Ibrahim, syahidah  putri fathimah, maya, silvia dan syahrul pada kumpul di cafe dekat sungai Nil. Mereka satu dari beribu kumpulan keluarga kecil yang pernah singgah di cafe tepi sungai Nil. Maya, silvia hanya tersenyum melihat raut wajah kebingungan syahrul.

”Ayolah …tuan syahrul” syahidah merengek.

“Mengapa harus cerita? lebih baik kita pesan jus Manggo atau apa lah,!!”

“Cerita, cerita, cerita, “gadis kecil itu semangkin menggebu-gebu.

“Ayolah syahrul?” fathimah memelas.

“Ok! kita bercerita, setuju?”

“Setuju”

“Maya tidak setuju?”

“Setuju dong..” maya pura-pura happy padahal dirinya sedang berangan-anagan bisa mendaki bukit sinai.

“semua bercerta..setiap kita bercerita kemudian rekan selanjutnya menyambung cerita yang diceritakan oleh rekan disebelahnya. Setuju?”

“Yup..let do it” Ibrahim semangat.

“ok siapa takut?” fathimah terlihat lebih semangat

“yeah” syahidah terlihat senang sambil menepuk kedua tangan kecilnya keras-keras.

“Bear and rose” syahrul memulai ceritanya.

“lho kok bengong? Buruan cerita…”silvia menegur sang pengkhayal kelas wahid.

“silahkan ukhty silvia dilanjutkan” dengan wajah tanpa dosa syahrul mempersilahkan silvia.

“ayo..kak silvia pasti bisa!” syahidah mendengar kata bear, seperti mendengar i love u.

“ok..ok..Bear N Rose”

 

  1. Bear N Rose

“Cerita ini bo’ongan lho..”itulah kata-kata yang muncul dari lisan silvia. Entah mengapa silvia ingin bercerita khayal yang kedengarannya hanya kisah bodoh yang seharusnya tidak diceritakan. Kisah bodoh dan kisah cerdas keduanya sama-sama kisah, tinggal menyikapi dari sudat pandang apa pembaca mengambil himahnya.

“Bear” silvia mengawali dengan kata yang berarti seekor bruang.

“I love it” syahidah memeluk ibunya dengan mata kecil penuh harap agar dibelikan boneka bear berukuran terbesar.

Dahulu di sebuah desa khayal hidup sekelompok suku pedalaman, mereka hidup menyatu dengan alam, dengan semesta. Seekor bayi bruang ditemukan disangkar induknya, bruang jantan yang malang. Mayat, seekor indukan bruang betina tergeletak berlumuran tanah dan darah kering, luka senjata api merobek dada  dan mencabi-cabik beberapa bagian tubuh bruang.

Rose seorang gadis yang sedang berpetualang di tepi hutan melihat bayi beruang kecil tersentuh hatinya. Jatuh hati dengan bayi bruang yang malang. Rose menamakan bruang kecil dengan panggilan bear. Weleh-weleh singkat cerita bruang itu berubah menjadi seekor bruang jantan yang besar tapi tidak sangar sebab beruang jantan itu hidup di lingkungan manusia.

“Udahan gitu aja” Silvia mengakhiri ceritanya.

“Yaaaa…pendengar kecewa.” Syahrul protes, meskipun dirinya juga bukan seorang pendongeng papan atas.

“Ok lah kalau gitu, bagaimana kalau kita jalan aja?”

“Ide bagus mas.. ide itu kedengarannya begitu smart” kata-kata yang muncul dari lisan maya.

“Not baaaaaaaddddd” Ibarahim menambahkan.

“Jalan  ke mana?” silvia ngebet nanyak.

“Gini aja..fathimah, syahidah, silvia, maya kalian semuakan perempuan? Bagusnya ke pasar Attabah  jalan-jalan sambil shoping ya cari baju ala-ala middleastlah..gimana?”

“Yang nganter siapa?” Maya berharap

“Tenang aja.. ana telpon dulu temenku di Wihdah mudah-mudahan dia ngak sibuk?”

“Good job” Ibrahim menggut-manggut, merasa senang karena mereka berdua ingin mengenang  Hardrock cafe.

“Assalamu’alaikum Ukhtiy? Bla..bla.bla..aiwa..bla..bala..beres..bla bla ..bla..masyi insyaAllah”

“Gimana mas bisa?” Maya bersuara

“Beres..aman insyaAllah kalian nanti di jemput, kami ada sedikit petualangan, syahidah jangan nakal!!”

“Ok “ fathima juga setuju.

  1. HARD ROCK CAFE

Sudah sangat terarasa lama tidak berpetualang mengunjungi Hard Rock Cafe. Siang hari terkesan lesu, tidak bergairah layaknya Night Edvanture. Namun, pelayanan tetap istimewa dan memuaskan. Kursi-kursi tersusun rapi artistik dengan menonjolkan materi berbahan kayu, sangat elit untuk wilayah timur tengah yang memang minim material kayu, di sudut sebelah kanan tersusun minuman softdrink segar dan makanan ringan yang siap disajikan.

“Hey long time not seen”

“Not too long.. just spend my little time in Paris”

“Pariss..that’s awsome?” wanita berambut kriting berwarna hitam terurai panjang dan tertata rapi, tercium aroma harum terasa sedikit menusuk hidung, owner hard rock cafe itu menyapa kedua pria yang baru saja datang.

“Aiwa.. ?”

“Saya savina” savina memperkenalkan nama samarannya

“syahrul”

“Masih sering travelling ke luar negeri?” Ibrahim berbasah-basi

“Harus dong?”

“Siapa nie?” syahrul mengedip

Rãqishah” Ibrahim betutur

“Pesan sesuatu?”

“Soft drink, dua”

“Rãqishah maksudnya?”

hight class Dancer kapal pesiar”

“Sok tahu kamu?”

“Forget it..”

“Silahkan!  may I join both of you?”

“Why not..”

“Nikmat sekali” syahrul menikmati soft drink.

“Masih sering ke Itali?” Ibrahim kembali basah-basih

“Italia tidak bisa dipisahkan dari hidupku, my fashion, my styl, my heart… Itali” wanita berambut keriting hitam nan wangi ini terlihat senang sekali, ketika dirinya dikaitkan dengan italia, Syahrul bertanya-tanya ada apa gerangan antara keduanya.

“Masih suka menghisap syisa[1]?” ibrahim kembali bertanya

“Syisa is my tradition..”

“Masih sering menikmati kegilan sungai nil”

“That’s my Job..bagaimana mungkin aku dipisahkan dari sungai nil?”

“Nice” Ibrahim meneguk soft drink

“Still clean?” savina mengedipkan mata kirinya ke syahrul.

“Clean ” Ibrahim memotong jawaban syahrul.

“So cute..you’r my little puppy” mata savina semangkin membening.

“Don’t touch him, he still clean” nada Ibrahim sedikit lebih keras

“Why..? I will clean it!”

“Don’t.. dont touch him!”

“Nice” mata savina meredup dinikmati minuman milik syahrul.

“Ada yang perlu saya bersihkan?” dengan penuh keluguan dan kebodohan.

“stupid!” savina bertutur ringan

“You need little care with someone, he can’t and still stupid” ibrahim menjelaskan siapa syahrul.

“Nice”

“Boleh saya bercerita?” savina membuka sedikit pembicaraan

“Boleh..” syahrul manggut.

“Kamu suka tari tradisonal?” savina bertutur lembut

“Tentu..tari saman dari takengon, it’s not bad”

“I see..saman it’s not bad..” savina tersenyum dan berfikir kalau sih syahrul ini lugu apa goblok.

“Savina itu namaku dalam bahasa arab berarti kapal, aku memang suku berlayar, kalau kamu beranggapan itu nama saya yang sebenarnya maka itu pikiran yang bodoh. Selain owner hardrock cafe saya seorang seniman, peminat tari memanggilku penari tradisional.”

“Nice story” Ibrahim kembali menikmati soft drink.

“Kamu penari tradisional?”

“Benar..sebagai penari tradisional tentunya lebih diminati oleh para pecinta tari, mereka rela membayar dengan emas untuk dua atau tiga pertunjukan tari tradisional. It’s art!!..menyenangkan sekali..it’s fun.”

“Sudah ke negara mana saja pertunjukan tarinya?”

“Eropa, amerika, asia and middleast”

“Kamu sungguh hebat!!” syahrul terkagum.

“Apa pendapatmu tentang tarianku?” savina mencoba bertanya ringan.

“Tidak buruk, menarik dan artistik!” jawaban lugu tapi bodoh.

“Not bad!..how could you say it’s not bad?” savina sedikit berkaca-kaca.

“Yup it’s part of traditional dance, you made it” syahrul tambah terlihat tolol.

“Lalu apa pendapatmu dengan seorang >eisha<?”

“Don’t..ask about it! Are you stupid?” Ibrahim sedikit tidak setuju membahas perkara tidak penting.

“He is clean..I wan’t to know how man respect my job?” savina berkeras hati, matanya berbicara.

“Don’t let him know your secret!!” Ibrahim memberi ultimatum

“I see him..” savina tetap berkeras hati.

“Hufff… itu hal yang tidak mudah untuk dijawab. Dan pastinya menjalani propesi seniman seperti itu juga sulit. Saya muslim dan saya ingin hidup dengan cara islamiy meskipun untuk istiqamah itu sama sulitnya dengan menjalani propesi seniman. Menjaga cinta, menjaga kesucian itu ‘azamku, dan itu butuh kekuatan. Menjadi seorang seniman tradisional sepertimu itu sulit dan berat dijalani bukan?”

“Yup..” savina berkaca-kaca, kali ini matanya benar-benar membening tidak seperti bening mata pertamanya.

“Pernah mendengar cerita Nabi Yusuf?”

“Ya aku suka cerita Nabi Yusuf dan sering membacanya tak jarang air mataku bercucuran. Aku dan yusuf sama-sama hanyut di sungai nil tetapi bayi Yusuf itu tetap suci sedangkan aku tidak”

“Kisah Nabi Yusuf sangat inspiratif..aku juga suka membacanya”

“Lantas apa pendapatmu tentang diriku”

“pekerjaanmu itu menarik bila berada di tempat yang baik, tapi sepertinya dirimu berada pada tempat yang tidak baik”

“Engkau memiliki sedikit solusi”

“Jalani saja pekerjaanmu tetapi ikuti hati nuranimu”

“Bagaimana jika aku tetap tidak berubah?”

“Apa defenisi berubah menurutmu?”

“Berubah menurutku berbusana seperti para pelajar al-Azhar, memakai pakaian serba hitam dan cadar”

“Itu bahagian dari perubahan, tidak mengapa..tapi ada yang lebih penting dari pakaian serba hitam”

“Apa itu?” savina terlihat penuh harap

“Saat ini hatimu telah menjawab”

“Benar” savina terlihat menagis, air matanya kembali membasahi ke dua pipi putih nan cubi.

“don’t give up sweety!” Ibrahim bertutur

“I’ll try..” savina optimis

“Butuh mangkuk?” Syahrul serius

“Untuk apa?” savina terlihat bodoh

“Untuk menampung air mata yang bercucuran! Ha ha ha” syahrul tertawa

“Ahh..bodoh!!” savina melempar kaleng pepsi ke arah syahrul.

“waduhh ada yang suka timpuk kaleng!”

“Mau makan enak nggak?” savina menawarkan kuliner lezat

“Boleh” Ibrahim sudah lama tidak menikmati Hawãwisy.

Wait a second..Tunggu ya Syahrul?” Savina tersenyum kepada Syahrul tetapi bukan senyuman yang biasa ia suguhkan untuk para pecinta tarian tradisional. Kali ini senyum masa kecilnya dua puluh tahun yang silam senyum tanpa pamrih hanya Allah yang akan membalas seyumannya.

“Boleh….. ditunggu”

“Jangan kabur?”

“Pasti”

“Taraaaaannkkkkk…” Hawawisy kuliner daging domba yang sebenarnya menu malam disuguhkan untuk teman lama savina, Ibrahim.

“Silahkan dinikmati, masakan aku sendiri lho?” savina bangga bisa masak hawawisy.

“Nikmatttt..” Ibrahim terlihat menikmati

“Bener.. enak!” Syahrul juga comen yang sama.

“Thank you..” Savina senang bisa menjamu tamunya.

“Merried alredy?” Ibrahim mengisi pembicaraan

“Yup..yes am merried girl!” Savina dingin

“Me too” Ibrahim bangga bisa menikah dengan fathimah.

“With Oglu girl?”

“Aku tidak bisa menikah kecuali dengan perempuan Oglu..hah haha”

“Nice..keep it”

“Always keep it!”

“Huu huu ..” Syahrul bergumam

“Kamu sudah menikah?” Savina mengisi cerita

“InsyaAllah”

“InsyaAllah” Savina senang bisa ngobrol dengan dua makhluk unik di hadapannya.

“Alhamdulilah…”

“Alhamdulilah..”

“Syukran yaa ‘asl…” Ibrahim menyelipkan seratus euro di bawah kaleng pepsi.

“Don’t do that!!” Savina tidak ingin kedua manusia unik itu menyelipkan uang.

“Engaku tidak suka yang halal?”

“Yup..I will take it! Mau ke mana lagi?”

“Masjid al-Azhar? ikut?” Ibrahim berbasa-basi

“Iya ikut..!!” savina berlari menuju ruangan dalam cafe.

“Apaaaa? IIIIkkkkutt?” Ibrahim terbelalak.

“Should we make  litttl lie to be  perfect?” Syahrul bingung harus bagaimana.

“Sudah lama sekali aku tidak ke Mesjid al-Azhar!” savina sudah berbusana layaknya akhwat salafiy, dengan cadar dan baju panjang warna hitam, kaus kaki dan sendal kulit warna coklat, tas warna coklat made in italy,terlihat fashionable.
“Apaaa???” ke dua manusia unik terbelalak.

“dulu waktu aku kecil ibuku membawaku ke masjid al-Azhar, aku ingin mendoakan ibu di sana”

“Jadi sedih” Ibrahim tidak bisa menolak

“Thank you” Savina kegirangan seperti anak kecil.

 

₪ ₪ ₪

 

Taksi putih melintas di jalanan, taksi putih identik dengan mahal, elit dan nyaman tentunya, ber-AC, dan memuaskan tentunya. Savina masuk di pintu depan dekat dengan supir. Ibrahim dan Syahrul memasuki pintu bagian belakang sambil menelpon posisi para ladies. Savina terdiam begitu pula Ibrahim dan Syahrul.

Masjid al-Azhar berada di hadapan savina, gadis yang bersetus menikah tapi hakikatnya mereka tidak pernah menikah sebab mereka hanya menikah di atas kertas for a secret reason. Savina berlari menuju tempat berwhudhu’ dan menuju masjid terlihat bingung, hanya duduk tesimpuh, merendahkan diri dengan tangan menengadah, lafazh-lafazh berbahasa arab terucap dari bibirnya yang merah, memohon, meminta agar ibunya mendapat hidayah Allah.

Kedua manusia unik seperti tahun-tahun sebelumnya menikmati nikmatnya beribadah di masjid al-Azhar. berdiri di karpet merah menikmati nikmatnya menghadap tuhan. Keduanya berhaharap bisa beribadah di masjid al-Haram yang pastinya lebih nikmat.

“al-Hamdulillah” savina terlihat bersemangat.

“Sudah berdoa”

“al-Hamdulillah, sudah”

“Maaf savina, kami ingin menjemput para ledies”

“Oh..silahkan…aku ingin berlama-lama di sini”

“see you savina”

“see you”

Manusia unik itu menuju attabah menjemput para ledies yang asik shoping sepertinya. Melintasi berbagai sovenier hingga pakaian ala Arab. Dari jauh sudah terlihat bayang-bayang belanjaan yang ada di setiap tangan para ledies. Cuman syahidah yang terlihat sedikit belanjaannya.

“assalamu’alaikum?”

“wa’alaikum salam”

“sudah selesai belanjanya buk syahidah?” syahrul bertanya serius.

“udah!”

“beli apan nih?”

“beli boneka unta”

“kita pulang?” Ibrahim mengajak para ledies.

“boleh”

“Syukran ya ukhtiy, udah bantuin teman-teman belanja”

“afwan akhiy.. saya juga belanja kok, nie beli pernak-pernik”

“he he he hobbiy shoping juga ya”

“shoping is life” syah’idah bertutur

“waduh..anak bos ibrahim kok bersemangat seperti itu”

“heh hehe” syahidah tertawa

 

₪ ₪ ₪

  1. always keep it

Tidak ada yang sempurna, setiap diri pasti memiliki celah, setiap diri memiliki nota hitam. Baik dan buruk itu berbeda, menjadi baik itu tidak mudah, bergelut pada keburukan juga terasa sengsara, hati terasa berat tak kunjung lega. Allah subhanah wa ta’alã berfirman alã bi dzikrillãh tathmain al-qulūb. Merasa paling suci itu bisikan syethãn, merasa hina dan nista ada tuhan yang Maha Pengampun dosa.

Menjaga cinta itu cita diri, menjaga kesucian itu ‘azam dalam diri, untuk seorang yang menjaga cinta. Bila dirinya memilih cinta Allah maka pilihannya itu sebenar-benar cinta. Cintai dia dengan sebenar-benar cinta, sayangi dia dengan sebenar-benar kasih sayang.

Untuk cinta yang jauh di sana bahkan diri belum pernah menapakkan kaki di belahan bumi itu, I’will keep it, always keep it, diri hanya ingin dinilai oleh Allah. Tergolong apakah cinta ini, diri berharap cinta ini tergolong dalam bahagian cinta dan kasih sayangNya.

Untuk cinta, diri bahagia meskipun dahulu diri terbaring berpeluh dingin meratapi segala perkara yang tidak terfikir, secepat inikah? mengapa? Pertanyaa-pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak pantas ditanyakan membuat diri terkapar, bikin jasad tambah slim, meskipun tidak demen program diet. Itu dahulu kini diri bahagia, satu sebabnya I still keep it. Dan diri menganggap keputan itu memiliki alasan.

always keep your words, menyalin setiap kata-kata, untuk cinta yang selalu tersenyum bahagia dengan hijab hijaunya. Doakan diri mendapatkan yang terbaik menurut Allah ta’ala. Bila diri tidak layak untuk sekedar duduk mungkin diri masih tetap bisa menjadi seorang sahabat muslim.

₪   ₪    ₪

  1. I am Still strong InsyaAllah

Untuk mundur dari peperangan itu sikap cemen yang harus dijauhi, ada sebuah ungkapan yang keren untuk didengarkan dan dijalani, “‘Isy kariman aw mut syahidan”. Makna dari ungkapan keren ini dapat diaplikasikan untuk mereka yang pernah terperosok ke dalam keterpurukan, tujuannya agar kembali bangkit menatap hari dengan penuh rasa percaya diri dan istiqamah di jalanNya.

“Udah dulu…ngantuk” seorang sahabat baru saja memberi motifasi agar bangkit dan melanjutkan perjuangan.

“ane udah semangat nih?” syahrul mood

“udah besok-besok lagi ane bacakan buku motifasi”

“jadi barusan kamu baca buku?”

“bener!”

“ya udah deh, ane jadi ngantuk juga..syukran motifasinya”

“afwan”

“Tingttung..tungthing” suara laptop yang barusan dibuka syahrul

“menulis…menulis..menulis apa? Aku bukan penulis seperti Ibrahim, akhhh ” syahrul melipat kedua tangannya di atas meja diikuti kepala yang merunduk tepat diatas kedua tangan, penat ingin tidur.

“wahhh…ya ya..kisah perjuangan savina, ya..” syahrul ngoceh sendiri.

“tit tit tit tit, “ dicari nomer posel savina dan muncul seketika, langsung dipencet.

“alllu “ savina menerima panggilan syahrul

“hey..quwais?”

“ya baik, ada apa?”

“kapan bisa ketemu””

“kini lagi di suwes, besok savina ke cairo..”

“ok”

“Mathar al-Qahirah”

Benda bermaterial besi itu telah mendarat dan para penumpang keluar dari burung besi. Savina juga terlihat sibuk mengangkat barang-barangnya. Terlihat berbagai benda-benda yang terlihat aneh berada di tangan savina.  Italia negara tujuan savina, sedikit berdusta kepada syahrul agar terlihat lebih rendah diri.

“waou dari mana ?”

“soory..dari itali, ada yang pesan” savina jujur, wajah yang dihias dengan make up mahal, senyum bibir yang tersentuh lipstik pink terlihat basah dan mengkilap, bulu mata hitam yang lentik dan lensa mata hijau dilekatkan di kornea wanita berambut kriting hitam dibelah dua terlihat modis dan itali sekali.

“could you help me? Or what can i do for?” savina memulai pembicaraan serius.

“yup..” syahrul membantu mengangkat belanjaan dan memanggil taksi bandara.

“sorry merepotkan”

“biasa saja savina”

“ada sesuatu yang penting?”

“I wan’t made your career”

“Don’t be Idiot!..syahrul, it’s bisnis not life styl!, you should know that!” savina kecewa dan tersinggung

“aku serius! Aku ingin menjadi jurnalis terkemuka?”

“aku juga serius, lebih baik engkau mencari hal yang lebih positif dan bermanfaat untuk dirimu”

“ini impianku”

“aku juga punya mimpi”

“lantas apa mimpimu?”

“mimpiku menikmati hidup”

“lantas kemewahan ini tidak engkau nikmati?”

“semua ini hanya topeng syahrul”

“baik kalau begitu” syahrul terdiam, dan tidur pulas

“Qum ya wala’!” sopir taksi mengagetkan syahrul.

“fein dah?”

“vila qanathir” savina menjawab

“engkau tinggal di sini?”

“ya ..sebentar” savina menghampiri sopir taksi yang kerepotan mengankat barang dari bagasi.

“syukran..syukran..” sopir bertopi itu langsung tersenyum mendapat seratus dolar america.

“syukran lillah ya ‘am”

“ini vila tempat tinggalmu?”

“benar..sebentar” savina mengeluarkan hijab hitam dan gamis hitam miliknya, Savina telah berubah menjadi seperti bidadari yang sholehah.

“aku tinggal bersama adikku..udah nanti aku kenalkan!”

“assalamu’alaiku”

“ahlan ahlan” seorang akhwat berhijab putih dengan wajah yang bersih menyambut kakak tercinta.

“kenalkan ini teman kerja kakak, syahrul namanya”

“nama saya aminah” gadis itu tersenyum dan kembali menundukkan pandangannya, gadis yang masih memiliki rasa malu bila dilihat seorang pria.

“silahkan akhiy” aminah mempersilahkan untuk duduk menikmati masakan kesukaan kakaknya, mahsyi dan ikan mujair goreng. Tidak disangka wanita semodis savina ternyata suka ikan mujair goreng.

“syukran” syahrul menikmati masakan aminah.

“afwan akhiy” aminah ke belakang menjemput minuman dingin.

“syahrul..engkau masih ingin melanjutkan kisah hidupku?”

“tentu saja!”

“engkau tahu adiku siapa?”

“aku tidak tahu”

“Baik..aminah adalah seorang mahasiswi universitas cairo, aktifis gerakan dakwah terkemuka di negeri ini, tentu engkau sudah tahu. Bila engkau liput kisah hidupku, engkau tidak iba dengan dirinya?”

“lantas aminah tidak tahu tentang hidupmu?”

“tidak, aminah hanya tahu kalau kakaknya adalah seorang desainer!”

“bukankah namamu?”

“savina bukan namaku”

“tlek tlek”suara sendal aminah

“afwan..ukhtiy kenal dengan savina?”

“siapa itu ukhti savina?”

“savina temanmu mengkin?” savina pura-pura.

“ya sudah..tidak mengapa” mata syahrul berbicara kalau savina memang hebat menyembunyikan identitas dirinya.

“silahkan diminum akhiy” aminah mempersilahkan

“afwan..aminah”

“kakakku seorang desainer busana muslimah yang hebat bukan?” aminah memuji kakaknya

“tentu, kakakmu adalah desainer paling hebat di negeri ini, siapa nama lengkap kakakmu?”

“ukhuk” savina terbatuk-batuk..

“ibuku..memberi nama kakaku…”

“tar..” sura gelas yang sengaja dijatuhkan sebab suaranya tidak alami, seperti dibenturkan ke lantai.

“ya Allah..kakak?” aminah tergopoh-gopoh membersihkan serpihan gelas kaca yang pecah dan pergi menuju ke belakang membuang serpihan kaca ke tong sampah.

“jangan pernah lakukan itu lagi syahrul?”

“maaf..aku hanya ingin tahu”

“engkau bisa terbunuh..ini bisnis besar, untuk membunuhmu hanya membutuhkan setengah dari bayaranku. Kau tahu itu syahrul?”

“baik kalau begitu..aku tidak akan mengusik perivasimu”

“terima kasih, untuk tidak berbuat konyol”

“bagaima syahrul masakan adikku enak?”savina begitu hebat merubah amarah menjadi ramah tama saat adiknya aminah datang.

“subhanallaah ini seperti masakan ibuku” syahrul berbasa-basi..

“alhamdulilah kalau begitu” aminah tersenyum dan merah pipinya karena gembira, terlalu lugu gadis mesir ini.

“terima kasih, aminah..desainer terhebat..aku ada acara di cairo sebentar lagi..sekali lagi terima kasih jamuannya..assalamu’alaikum”

“wa’alaikum salam” aminah tersenyum.

“wa’alaikum salam” savina terperangah.

“tulit tulit” suara Sort message hp milik syahrul,

“Hard Rock Cafe, 23-59 on time, are you ready!”

  1. Wisma Nusantara

Sungguh perjalanan yang menyenagkan, petualangan ke Negeri padang pasir yang dipenuhi oleh rahasia-rahasia yang terkubur begitu dalam. Menguak setiap rahasia itu tidak mudah, nyawa akan menjadi taruhannya. Tapi apalah arti nyawa bila raga terus dijajah oleh penguasa kegelapan. Auuuuuu…

Pukul 21.00 malam, pengunjung dari paris ibrahim, fathimah dan anakya menginap di hotel sedangkan silvia dan maya memilih Wisma Nusantara. Ada kisah yang harus diselesaiakan oleh keduanya. Ya kisah itu kisah saat mereka berada di negeri minang kabau negeri beradat. Kisah Mas Garin dan shahabatnya Muhammad Natsir.

Pukul 21.28 malam Syahrul muncul di Wisma Nusantara, kedatangan Syahrul langsung disambut oleh Mas Garin dan Muhammad Natsir. Natsir datang dengan mobil pribadinya begitu pula Mas garin keduanya bekerja di Kedutaan dan sedikit bisnis Rempah-rempah Nusantara seperti kayu manis,kelapa kering dan berbagai rempah yang telah dikeringkan.

Salam cupika cupiki, syahrul merangkul erat-erat kedua sahabatnya sahabat yang banyak membantu baik meteri maupun pengetahuan. Mas garin dan Natsir terlihat gembira sebab bidadari keduanya telah berada di hadpaan mereka. Rencananya mereka akan melakukan edvanture ke bukit tursina.

“Terima Kasih, Ya Rul..udah anter bidadari-bidari itu dari Paris”

“Sama-sama Mas” Syahrul dingin

“Ikut ke  sinai besok” Natsir menawarkan petualangan bersama

“Udah nyantai aja mas..takut ganggu” syahrul dingin

“Aaaa lah..ngak ganggulah..” Natsir geleng-geleng

“Udah makan Rul?” Mas Garin menawarkan

“belum, laper !”

“Sip kita Makan bareng”

“afwan akhiy..pesan apa” waiter menawarkan menu

“Nasi goreng daging, minumnya kopi panas mbak” syahrul sudah tak sabar untuk makan.

“baik mas”

“Udah ketemu Silvia sir?”

“Udah” Natsir senyum-senyum sendiri

“kamu mas?”

“Udah juga” Mas garin juga senyum

“Eih mereka datang”

“ah masak?” kedua pria itu menoleh

“ckk acakk akka” syahrul puas ngerjain Natsir dan Mas Garin.

“asem” Mas garin memukul pundak syahrul

“assalmu’alaikum akhiy” Silvia datang dengan senyum menawan wajah yang berseri-seri.

“wa’alaikum salam ukhty..silahkan!”

Silvia dan Maya datang untuk makan bersama keduanya sudah pesan makanan porsi diet dan jus buah. Berbincang-bincang tentang sumatra barat dan studi. Mas Garin yang mendapat beasiswa di American Open dari pengusaha Dubai, dan Muhammad Natsir telah selesai program master di Cairo University. Semuanya merepeat kenangan. Syahrul lebih banyak mendengar. Tidak terlalu indah kisah pemuda bernama Syarul, kisah cinta yang tidak terwujud, studi yang gagal karena biaya, cita-cita yang hanya cita-cita. Satu jam syahrul menikmati cerita sahabatnya dan saanya untuk beranjak ke Hard Rock Cafe menemui Savina.

 

  1. Hard Rock Cafe

Tengah malam pemuda berjaket kulit dengan wajah penuh tanda tasydid menggunjungi Hard Rock Cafe. Sepertinya hal ini merupakan kesiasiaan. betapa tidak tengah malam yang seharusnya dimanfaatkan untuk shalat tahajjud malah digunakan untuk bergadang tidak tentu arah. Mungkin ia tersesat untuk sesaat.

Seorang perempuan dengan bibir tipis mata yang khas, bulu mata lentik tanpa cangkokan, masih natural. Memang savina memiliki idealis yang tidak dimiliki oleh rekan satu propesi dengannya. Pemuda berjaket duduk di sebelah savina dengan lemas ia merebahkan badan di sofa.

Savina memulai pembicaaraan dengan mimik dan raut muka serius bukan basa-basi. Satu yang dibutuhkan savina menjaga rahasia, itulah permintaanya. Syahrul dingin sebab niatnya berubah ia tidak lagi ingin mencari-cari sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat untuk orang banyak. Meliput savina telah hilang dari agenda syahrul.

Savina bertanya-tanya mengapa ia berubah pikiran untuk berhenti. Syahrul sekali lagi tetap dingin, ia hanya tersenyum dan membuka jaket hitamnya sebab terasa gerah. Meneguk minuman dingin pepsi, bersendawa dan mulai berucap.

“Aku bangga dengan dirimu” syahrul tersenyum

“what the hell..You proud of me..stupid!” savina membanting syisa dari bibir tipisnya ke bawah meja maksudnya tidak menghisab syisa lagi karena terperangga.

“yup..proud of you..” syahrul menunjukkan rasa kagumnya lewat senyumnya.

“Why?” savina bertanya dengan raut wajah kebingungan.

“for a reason” syahrul menjawab serius.

“so simpel brother?” savina ingin jawaban yang lebih logis.

“aku begitu bangga sebab dirimu diberitakan masuk surga” syahrul serius lagi.

“heavan?” savina malah merasa resah.

“ya orang sepertimu, diberitakan akan masuk ke dalam surga..tuhan tahu segalanya bahkan engakau tidak mengetahuinya”

“amin” savina tersenyum.

“engkau mau mendengar berita itu?”

“tell me.. i’ll give you suprise” savina serius

“aku pernah membaca sebuah khabar dari para sahabat Rasulllah, mereka adalah orang-orang yang dapat dipercaya, jujur, dan cintanya begitu besar kepada manusia pilihan Allah muhammad- shallallah ‘alaih wa sallam- di dalam khabar itu diberikatan bahwa seorang muslim tidak dibenarkan untuk menuduh saudanya seiman kafir sebab kekafiran itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Dan aku mulai ingat bahwa dalam khabar itu juga di beritakan akan surga. Ya seorang wanita yang dianggap hina oleh manusia, manusia sering menyebutnya sebutan yang tidak baik may be can we call she is >eisha<. Perempuan itu diberitakan masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan binatang yang dihinakan manusia. Perempuan itu memberi minum dengan sepatunya sendiri mengorbankan dirinya padahal ia juga kehausan di padang pasir. Sangat menarik sekali khabar tersebut.. pastinya khabar itu memiliki makna.

“boleh aku tahu maknanya” savina meneteskan air mata bening dari kelopak mata menuju pipi yang cubiy seraya berisak ia ingin kisah itu dilanjutkan.

“sangat sulit untuk ditemukan bagi mereka yang hidup dengan buku-buku dipustaka. Sangat sulit ditemukan bagi mereka yang hidup dibawah kaki orang-orang shaleh sebab mereka tidak merasakan kepedihan padang pasir kehidupan. Perempuan yang mengorbankan dirinya untuk seekor anjing, kedua subjek diumpamakan sebagai makhluk yang hina akan tetapi ada seorang wanita – yang masuk ke dalam surga begitu pula qithmir”

“aku jadi teringat akan dirimu, engkau korbankan dirimu untuk orang lain. Engaku rasakan pahitnya kehidupan itu sendiri demi kebahagian orang lain. Engkau rela dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang mengaku suci demi orang lain. Aku bagga akan dirimu.” Syahrul tersenyum.

“aku tetap saja seorang <eisha>” savina menyadari perbuatannya dan mengusap air matanya.

“engaku telah mengetahui rahasiaku, sungguh aku melakukan pekerjaan ini karena aku muak dengan kezhaliman orang-orang yang mengaku berstrata tinggi padahal mereka rendah. Aku melakukan ini kar ena mereka meggambil the under dog people. Aku tidak memiliki kekuasaan untuk merebut kembali hak under dog people hanya jalan ini yang dapat aku lakukan.”

“oleh karena itu aku bangga” syahrul tersenyum.

“orang-orang yang mencuri hak the under dog people itu dengan cara yang mudah dan mereka dengan mudah menghamburkannya. Mereka akan menghamburkan secepat kilat. Aku akan memberi tahu bahwa seorang pria akan membeli satu jas rancanganku seharga apartemen, begitu mudah mereka menghamburkan uang. Saat aku dapatkan uangnya akan aku kembalikan kepada mereka yang ada di africa, di negara-negara yang ditimpa bencara alam, bencana perang.”

“oleh karena itu aku bagga” syahrul tersenyum

“orang-orang yang mengambil hak orang lain mencintai propesiku, menggabil hak orang lain adalah kejahatan yang lebih buruk dari pekerjaanku.” Savina begitu dendam dengan penjahat kemanusiaan.

“aku bangga akan dirimu, meskipun engkau sosok perempuan namun engkau begitu kuat melawan kejahatan manusia dengan sendiri. Engkau mampu mengambil kembali hak-hak the under dog people” syahrul manggut-manggut.

“you can do right thing..syahrul. you can teach them how to be better in life. You can do that” savina memberi motivasi agar syahrul menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

“I’ll try..” syahrul tersenyum.

“are you quit?” savina bertanya

“from what?”

“your dream to be best jurnalis”

“I am quit..that right”

“hha haha “savina tertaw

“any thing funny?”

“yup you littel funny”

“why?”

“you have no commit!!”

“I am quit from jurnalis, not as traveler.”

“what country will be your destination?”

“UEA” syahrul tersenyum

“you have visited before?”

“yup..”

“your self?”

“yup”

“want a friend?”

“thank you..I am singel traveller”

“want some thing new?”

“thanks mom..”

“want new destination?”

“thaks mom..I want to visit desert”

“desert is past arab to day is not desert but gold”

“why?”

“you follow me to dubai you will know it..wanna join my traveling?”

“hell..you alredy merried!”

“that’s big guy is not my wife in rela. He is my bodygurd!”

“one hundret persen freak!” syahrul tidak percaya

“aku hanya mengalihkan mata manusia dari propesiku, dengan bersetatus sebagai wanita telah menikah manusia akan diam. Pria itu seorang budygurd terlatih dari pelatihan ternama, ia suka semua buah-buahan keculai buah melon.”

“what i can do?”

“be my new bodygurd!”

“I am not bodygurd” syharul terperangah.

“not be real bodygurd but just look like a bodygurd”

“I can’t di that!”

“just act like bodygurd you can’t?” savina tersenyum sinis mengejek seolah olah terlalu lemah.

“ok”

“yup..thas is my camp!” savina keceplosan

“I am not littel child savina?” syahrul merasa diperlakukan seperti anak ingusan.

“am so sorry”

“yup..i want to return to my friends home..thanks for your pepsi..”

“wait a seccon..you shoud pay?”

“what?”

“I want lawful money brother..dont you?”

“really sorry..how much”

“five pound for cold pepsi”

“yup..I pay”

“thanks” savina mencoba mencari uang yang halal, meskipun sedikit tapi itu halal. Sebenarnya savina mampu untuk membeli seratus container pepsi dengan uang hasil kerjanya. Tapi ia sadar seratus container yang haram itu tidak sebanding dengan satu kaleng persi yang terjual dengan cara yang halal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Sisya : rokok ala Timur Tengah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s