Dear

DEAR
Abraham Bin Ahmad
“Malam ini Aku harus menulismu, Aku memang tertinggal sejauh-jauhnya,setinggi-tingginya dirimu terbang sedangkan Aku termenung di sini dalam kondisi tertinggal. Mengarungi dunia yang sementara tanpamu tidak mustahil tapi sulit dan belum terbayangkan olehku sebelumnya” kupu-kupu terbang setelah mendengar ucapan seekor siput yang tertinggal oleh sepasang kupu-kupu.
Lima belas jam Sebelum siput lamban bertutur kepada kupu-kupu emas. hari saat itu cerah, para pengunjung sungai Nil berhamburan membludak,membanjiri tepian Nil. Harap maklum hari itu ada pesta rakyat biasa warga setempat menyebutnya Sami Nasyim sebuah kegiatan yang digandrungi oleh kaum adam,hawa baik muda maupun tua. Ikan asin adalah makanan yang istimewa terkhusus saat momen sami Nasyim.
Tikar plastik dan krumunan keluarga berkumpul merayakan sami nasyim. Makanan seperti ‘isy dan ikan asin pasti dapat ditemukan di setiap kumpulan keluarga. Tetapi tidak semua yang datang dan berkumpul bersama keluarga merayakan sami nasyim, ada juga yang datang karena hari itu hari libur maka dimanfaatkan untuk liburan bersama keluarga.
Sungai Nil dan budaya yang belum dirasakan oleh pemuda bermata biru Abraham. Pemuda berdarah prancis mesir ini terlihat bule sekali, hanya hidung yang menandakan dirinya seorang keturunan Arab. Ayah abraham seorang berdarah arab saudi namun telah tinggal bertahun-tahun dan menjadi warga Mesir entah apa yang menarik ayah abraham untuk menjadi warga mesir. Usut-diusut Elice ibu Abraham sosok wanita prancis yang menarik ayahnya menjadi warga mesir.
Sekilas tentang Abraham, pemuda berpasport prancis itu memiliki ketertarikan pada budaya dan seni. Dirinya terdaftar pada Universitas seni di negaranya Prancis tetapi sayang studinya terhenti untuk beberapa saat setelah dirinya banyak berinteraksi dengan padang pasir. Yaman adalah negara arab pertama yang Ia kunjungi bersama rekan-rekannya. Sedangkan Mesir adalah negeri arab ke delapan yang pernah Ia kunjungi. Saat dirinya meminum air Nil dirinya mulai tersihir oleh Mesir.
Sebagai pencinta budaya,seni dan perjalanan tentunya abraham menghabiskan waktu di Alam lepas. Negeri arab terlintas negeri yang gersang, keras, padang pasir maut, angit setan, dan Cinta. Orang-orang Arab sebelum menganut agama yang diredhai Allah Islam mereka pemuja Cinta. Sya’ir-Sya’ir cinta yang membunuh pendengarnya dan meracuni penulisnya adalah kebiasaan bangsa Arab. Cinta dan kata-kata seperti nafas. Cinta dan sastra seperti Air, mereka akan kehausan dan mati kekeringan. Cinta bagi bangsa Arab telah menjadi darah yang selalu mengalir pada tubuh mereka yang kekar berotot, berbulu, dan sangar.
Perang antar suku dan kabilah seperti permainan yang dirindukan, kekerasan adalah gaya hidup bangsa Arab tetapi dalam kekerasan ada Cinta sehingga mereka mampu bertahan dengan Budaya. Dan abraham memiliki sifat-sifat Arab yang diwarisinya dari Ayahnya. Keras, pantang menyerah dan memiliki cinta yang bersangatan. Abraham dalam hidupnya selalu menghargai Cinta.
Waktu menunjukan pukul sepuluh, saatnya berkunjung ke cafe Sisya untuk menikmati selang dengan tabung berisi air ditasnya terdapat arang yang terbakar merah. Diletakkan diatasnya sesuatu berbentuk persegi empat kecil yang memiliki rasa buah lalu disaplah rasa buah tersebut dari pipa yang hampir mirip dengan pipa gas. Keluar dari mulut penghisap sisya kepulan asap. Dengan wajah berseri-seri senyum yang tidak memiliki arti.
Abraham duduk untuk mengulang pengalaman menghisap sisya di Dubai. Kursi rotan dan meja plastik di atas meja terhidang kacang-kacangan teman untuk menikmati sisya. Diisapnya pipa hingga bergelembung perlahan sambil memejamkan mata lalu dikelurakan asap dari mulutnya. Mata tertuju pada pelayan gadis mesir berambut pirang tidak lurus mondar mandir menghidangkan pesanan dari pengunjung. Kabab, hawawisy, isy juga qibdah serta makanan-makan khas mesir yang umumnya tidak berkuah. Makanan garing simpel mudah dinikmati.
Abraham masih saja duduk di teras cafe tempat khusus untuk para pencinta Sisya. Mengeluarkan uang dari sakunya dan menyerahkan kepada kasir. Pemuda berbadan besar lagi kekar itu menuju ruang makanan berat. Hawawisy makanan yang berbahan daging domba dan rempah-rempah mesir diolah menjadi santapan yang lezat. Segelas syai pekat dengan ampas yang terlihat sepetiga dari gelas kaca.
1. Terjemah Cinta
Manusia tidak terlepas dari salah, benar, ingat, lupa, tidur, bangun, jujur, dusta, cinta, suka, duka, sedih, riang, murung dan senyum. Apabila manusia telah kembali kepada rabnya akan diberi surga bila rab manusia redho dengannya jika tidak neraka akan menjadi tempat kembali.
Menerjemahkan cinta tidak seperti menejemahkan lembaran-lembaran teks-teks arab di pustaka. Tidak pula seperti menerjemahkan bahasa asing saat diucapkan dari mulut saudara asing. Terjemah cinta dengan benar hanya dapat dilakukan bagi mereka yang tulus hatinya benar cara berfikirnya dan dirinya sadar.
Terjemah cinta yang dilakukan oleh anak manusia yang sedang terbang tinggi melambung di angkasa dengan khayalan-khayalan yang menjulang tinggi tidak dapat diterima, sebabnya hanya satu terjemahannya bersumber dari Khayalan. Cinta manusia yang diterjemahkan dari hati yang tulus, cara berfikir yang benar menghasilkan amal yang benar, perbuatan yang ikhlas tidak mengharap dari makhluk.
Salah dalam menterjemahkan cinta salah pula mengartikannya, deretan-deretan cinta semangkin panjang terasa. Waktu semangkin berlalu kenangan dan perbuatan melipat bagaikan tumpukan kertas berbahsa asing. Sulit untuk diterjemahkan dengan hati yang tulus. Karena sang penterjemah tidak pernah belajar ilmu ikhlas, untuk bahasa asing mungkin sang penulis menguasai lebih dari empat bahasa asing, ditambah satu bahasa ibu. untuk buku yang dibaca olehnya tidak kurang dari ratusan buku bahkan ribuah judul buku Tetapi bahasa cinta belum mampu diterjemahkan olehnya.
Abraham bin Ahmad pria berkebangsaan Prancis yang hobi menulis,menjelajah,dan wisata kuliner. Cinta pernah datang kepadanya saat dirinya mengunjungi kota Berlin saat kekasihnya ingin menyaksikan liga terbesar eropa. Perjuangan cintanya juga berakhir di kota penuh dengan sejarah. Sejarah peperangan dari tahun ke tahun hingga saat ini dirinya harus berperang mengalahkan cinta palsunya.
Berawal dari tiket yang berikan oleh fathimah oglu wanita berdarah turki. Sebanarnya fathimah tidak pernah menganggap abraham sosok tamtan hati sebab fathimah telah memiliki tambatan hati tetapi abraham belum mengetahuinya dan fathimah sengaja tidak memberi tahu. Berawal dari satu hobbi yang sama yaitu seni, cara hidup yang sama abraham tersentuh hatinya. Dan yang menyentuh hati abraham wanita satu jurusan dengannya fathimah oglu.
Telah lama abraham mencoba menerjemahkan cinta selama itu pula abraham terbang di angkasa mengudara dari bumi terus berkhayal bahwa fathimah adalah kekasihnya di dunia. Terasa berbeda oleh abraham mengapa fathimah tetap saja merasa gerah padahal dirinya telah menghujani cinta untuknya.
Suatu ketika perempuan berambut pirang bermata indah itu mengajak abraham berkunjung ke negara tempat dirinya di lahirkan dan berkunjung ke rumah orang tuanya sekalian melihat pertandingan yang diminati abraham. Tiket pesawat telah dibeli oleh fathimah untuk dua penumpang. Abraham menerjemahkan kalau dua tiket itu adalah tiket kebahagiaan. Dengan gagah dirinya berkemas dari Prancis menuju Negara bekas kekuasaan hitler. Berlin tujuan sepasang mahasiswa seni.
Saat di pesawat fathimah memulai dengan pertanyaan-pertanyaan ringan. Dari karier, pekerjaan yang disukai hingga makanan kesukaan. Abraham merasa heran mengapa fathimah selama bertahun-tahun dengannya tidak tahu makanan kesukaanku? Satu terjemah cintanya tercoreng oleh tinta merah. Tidak hanya makanan kesukaan kini karier padahal Abraham selalu berkata bahwa dirinya ingin menjadi seorang penulis. Mengapa fathimah tidak tahu, dua terjemah cintanya tercoreng dengan tinta merah.
Abraham bertanya kepada fathimah tentang tanggung jawab, dengan cepat fathimah menjawab defenisi seorang pria yang pantas dikatakan bertanggung jawab. Menurut fathimah seorang pria mesti memiliki karier yang jelas, memiliki tabungan hidup untuk hari tua. Tidak lama setelah menjawab pertanyaan abraham. Fathimah menyebutkan seorang pria bernama Alan thohir seorang seniman juga pengusaha yang lama tinggal di kota london. Saat itu pula fathimah menyebutkan bahwa pria bernama alan adalah tamtatan hatinya.
Abraham hanya tersenyum malu karena sikapnya yang berlebihan kepada fathimah. Saat fathimah menerima minuman dari pramugari mengalir air mata bening dari parit-parit bulu mata abraham, Mengujur membasahi pipi kanan dan kirinya, dihapusnya air mata sebelah kiri secepat kilat. Saat fathimah menoleh alangkah terkejutnya fathimah degan air mata di pipi kanan abraham. Pria yang salah menerjemah cinta itu hanya bisa tersenyum dan berkilah kalau sesuatu merasuk ke dalam matanya dan terasa peri. Sesuatu itu cinta yang salah diterjemah tidak hanya hati yang merasakannya mata juga terkejut mengalirkan cairan bening disebut air mata.
2. Menjadi Penanti
Siput yang lamban menggerakkan kaki berlendir menuju batu besar di pinggiran sungai melihat masih adakah matahari di langit. kupu-kupu tetap berada di dedaunan, terbang sesaat namun kembali hinggap di dedaunan tidak lagi menyapa siput malang, terkadang kupu-kupu menetap untuk waktu yang lama.
Matahari kembali ke peraduan meninggalkan seekor siput lamban, sore hari siput lamban ber-ta’aruf lewat hati namun di belahan bumi lain kupu-kupu yang indah menatap matahari cerah bahkah mulai menampakkan cahaya indahnya. Siput mengira aliran yang tidak terlihat oleh mata itu cinta ternyata cinta yang dirasakan oleh siput tidak seperti apa yang dirasakan oleh kupu-kupu emas. Sesuatu yang tak terlihat oleh mata itu ternyata bukan bahasa Cinta. tak lain tak bukan hanya bias,bayangan dan harapan semu tak bermasa depan meskipun harapan itu ada namun, harapan semu penuh dengan derita. Seperti sore yang dialami oleh siput, siang yang dirasakan kupu-kupu. Cinta siput lamban hanya khayalan semata. sedangkan cinta yang hinggap pada kupu-kupu itu berwujud indah tetapi tidak untuk siput.
Sudah berminggu-minggu siput berada di atas batu, melihat dari kejauhan apakah kupu-kupu masih seindah biasanya ataukan kupu-kupu telah terbang bersama sayap-sayap menuju istana yang megah. Tuhanlah yang tahu dengan kupu-kupu indah itu, dan hanya pada Allah semua makhluk ber-tawakkal, berharap semua berjalan sesuai redhaNya.

Seperti biasa gadis yang baru saja menyelesaikan studinya di Madrasah al-Tsanawiyah al-Azhar, Manshurah ini bergegas membantu ayahnya merapikan Buku-buku dan perlengkapan ibadah seperti sajadah,ghamis,dan Niqab. Siwak,kahl,dan minyak wangi tidak ketinggalan. Ayahnya Umar berpropesi sebagai pedagang buku dan pakaian Muslim. Maktabah al-Sunnah merupakan nama toko ayahnya Umar, sedangkan nama gadis itu Zainab binti Umar al-Syarqawiy.
Kota Manshurah terlihat cerah lalu lalang kendaraan ramai lancar. Zainab termasuk pelanggan mobil angkutan Umum. Dipilih angkutan Umum yang didominasi oleh kaum hawa diangkat perbekalan makan siang yang disiapkan oleh ibunya. Mobil menuju wilayah penjualan buku terbesar kota Manshurah. Berbagai buku bacaan terkhusus buku-buku Islami tersedia di toko-toko buku Manshurah.
“Assalama’alaikum ya Baba?”
“Wa’alaikum Salam Ya Ghaliy” Umar tersenyum melihat gadis cantiknya datang membantunya.
“fi kitab al-Gadid tigi ya baba?”
“lissa ya ghaliy, bukrah InsyaAllah”
Zainab menuju Ruang Istirahat dan mempersiapkan makan siang untuk ayahnya. Makan siang tradisi mesir adalah roti ‘isy,lalapan seperti tomat,tursi,atau daun bawang bagi penggemar daun bawang. Untuk lauk biasa Ikan yang dibakar atau telur yang direbus ditambah dengan buah. Ibu zainab mengirimkan kesukaan Umar ikan bakar, lalapan tursi dan sedikit ful. Makanan terhidang, minuman air putih tertata rapi di meja makan.
“assalamu’alaikum..fi Ahad!!”
Seorang yang datang menayakan apakah ada orang di toko.
“Wa’alaikum salam..” Zainab menyambut pengunjung yang datang.
“Ahlan ya Ukhtiy..Tafadhal..” Zainab mempersilahkan gadis-gadis Malaysia yang sedang menyelesaikan studi di Universitas El-Manshurah. Gadis-gadis berbaju kurung itu di temani oleh seorang lelaki berambut disisir samping sebelah kanan, berbadan ideal untuk lelaki Asia. Gadis-gadis malaysia itu bernama Natasya dan Nur
Natasya gadis malaysia itu berdarah melayu india, Nur keturunan melayu asli. sedangkan pemuda di sampingnya bernama Syahrul teman berbelanja yang diminta oleh Natasya selain tukang angkat-angkat juga sebagai pemandu tempat berbelanja. Maklum gadis-gadis malaysia itu memiliki banyak lipatan uang dolar hingga belanjaan mereka tidak sanggup untuk mengangkatnya.
Syahrul dipersilahkan oleh zainab untuk masuk dan berkata bahwa barang-barang milik gadis malaysia itu tetap aman di depan toko buku Miliknya. In sya Allah. Syahrul tersenyum kepada Zainab begitu pula sebaliknya Zainab tersenyum kepada Syahrul. Natasya memanggil zainab bertanya tentang buku baru yang sudah terbit. Nur mencari buku sastra mesir dan buku-buku keislaman. Meskipun bahasa arab gadis-gadis melayu itu seadanya namun keingintahuan lebih dalam tentang bahasa arab dituangkan lewat membaca. Dalam dunia perkuliahan gadis-gadis melayu itu menggunakan pengantar bahasa inggris wajar kalau bahasa arab mereka tidak sebagus bahasa inggris.
“ya Zainab maujud kitabu Riwayah jadidah?” Nur bertanya apakah ada Novel baru?, zainab bergegas menunjukkan novel terbaru. Di rak sebelah kanan dekat dengan kasir tempat Novel-Novel karya sastrawan mesir dari Nazhif Mahfuz hingga novel novel terjemahan ada di toko milik Zainab.
“Syahrul yuk ikut! Kamu suka Novel?” Nur mengajak pria asal brebes, jawa timur.
“saya suka baca Novel”
“ambil saja Novel-Novel yang kamu suka nanti saya yang bayar”
“iya terima kasih”
“Syahrul Ini bagus atau tidak?”
“bagus, setipa Novel itu bagus”
“kamu mahu yang mana?”
“Aku nanti saja,”
“Zainab ambilkan buku yang tebal itu”
“ ini Nur?”
“ya yang Merah muda itu?”
“Syahrul ini untuk kamu” Nur menyerahkan novel kepada syahrul.
“ maaf Nur saya malu baca novel ini!”
“kenapa kamu malu?”
“ini Novel asal korea yang diterjemahkan, isinya tentang cewek aja”
Nur kembali mencarikan novel yang bagus untuk syahrul sampai-sampai lupa mencari novel untuk dirinya sendiri. Zainab mencoba menawarkan Novel untuk Syahrul. Buku berwarna kuning emas berjudul musafir al-shakhra’. Sepertinya syahrul tertarik dirainya buku kuning emas dan berbisik berapa pound mesir buku itu dibandrol. Zainab juga berbisik tiga puluh lima pound. Nur masih sibuk mencari-cari novel. Syahrul diam-diam mebayar dengan uangnya yang pas-pasan empat puluh poun. Dua lembar uang kertas berwarna hijau itu diberikan kepada Zainab dan dikembalikan lima pound mesir untuk syahrul.. zainab tertawa kecil menyikapi pemuda yang tidak ingin dibelikan Novel oleh Nur.
“Nur sudah dapat buku?” Natasya datang dengan buku-buku pilihannya bertumpuk, syahrul langsung membawanya ke kasir.
“belum natasya sudah dapat buku yang dicari?”
“al-Hamdulillah sudah”
“Syahrul?” Nur memanggil syahrul.
“Syahrul lagi angkat buku-bukuku Nur! yuk kita ke toko rempah-rempah Nur”
“kapan kita ke sini lagi Natasya?”
“minggu depan In sya Allah”
“ya sudah kita ke sana”
Zainab menghitung buku-buku yang dibeli temannya Natasya, Syahrul memasukkan buku berjudul musafir al-Shakhra’ ke dalam tas rangsel miliknya. Zainab menghantarkan Natasya dan Nur ke depan toko. Syahrul mencari taksi di persimpangan untuk mengankut barang-barang pulang menuju kontrakan miliki kedua gadis berbaju kurung. Zainab membantu Syahrul memasukkan buku-buku ke dalam taksi.
“Assalamu’alaikum zainab”
“wa’alaikum salam ya habati” Zainab melambaikan tangannya, Syahrul melihat wajah manis gadis mesir lewat kaca sepion, kemudian Ia tersenyum terkagum pada perilaku zainab yang sanggup menerjemahkan dengan sempurna bahasa mata yang dikedipkan kepadanya. Zainab mampu menerjemahkan bahwa dirinya tidak ingin dibelikan buku oleh gadis beruang Nur, meskipun pas-pasan bila dibeli dengan uang sendiri bacanya juga nikmat tidak terasa berhutang budi dan terhina. Syahrul salut dan mengagumi gadis bernama Zainab.

3. Penjajah Cinta
Mesir pada hakikatnya negeri yang tidak berkesudahan dijajah oleh kekuatan-kekuatan besar dari zaman ke zaman. Fir’aun penah memperbudak bani israil, Romawi memperbudak bangsa Mesir, Prancis menjajah negeri pimarida. Hingga kini penjajahan terus berlangsung Islam yang terjajah oleh kezaliman penguasa. Cinta yang terjajah oleh harta,keturunan dan kedudukan. Tidak hanya melanda penduduk asli mesir pendatang dari penjuru negeri yang ingin menuntut ilmu apabila terlena oleh cinta dirinya akan diperbudak oleh cintanya.
Negeri yang kaya akan sejarah, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Padang pasir yang luas melambangkan ilmu pengetahuan yang tak kan habis di jelajahi oleh penuntut ilmu. Sungai Nil yang jernih mengalir dari Uthopia hingga ke negeri mesir mengajarkan bahwa pengetahuan yang ada di negeri ini panjang. Asfur yang mengilaukan mata ibarat perempuan-perempuan mesir apabila lima perempuan mesir berjalan bersama maka semuanya cantik. Piramida yang kokoh tak ubahnya Sikap bangsa mesir yang istiqamah dan keras, sedangkan kapas yang tumbuh di tepian sungai nil ibarat hati penduduk negeri ini apabila mengenal islam maka hatinya selembut kapas bahkan lebih dari itu.
Nil cafe cairo, di pinggiran sungai Nil tedapat cafe untuk para penjelajah malam. Abraham menikmati kopi mesir dan kabab. Hadirlah para penari-penari asal pelosok yang ingin mencari lipatan-lipatan uang euro atau dolar dari turis asing. Dengan penutup muka yang transparan kain membalut sebahagian pohon kurma, dahan pohon itu bergoyang-goyang terhembus angin malam. Musik padang pasir menghibur pengunjung cafe.
Abraham meninggalkan Nil Cafe menuju kapal yang berlayar di sungai Nil. Lampu-lampu kapal yang gemerlap dihiasi oleh puluhan pohon-pohon kurma dan lambaian daun. Berlayar menuju jembatan terpanjang dan berkakhir di kawasan sungai Nil Rab’ah.
Hati abraham masih bergemuru diteguknya minuman berakohol dan berjalan menuju hotel kawasan dokki. Berjalan tanpa arah hingga dirinya tidak mampu untuk berjalan dan beristirahat di kursi kayu di bawa pohon hingga pagi hari. Abraham terasa nyaman tidur di kursi buruk dibandingkan dengan kasur hotel.
Pagi hari warga mesir masih belum terlihat ramai, aktfitas biasanya dilakukan pada pukul sembilan pagi. Berbeda dengan syahrul dirinya ingin menuju KBRI di pukul tujuh pagi dirinya telah berangkat. Dipilihnya angkutan Umum untuk menghemat ongkos taksi bukan transportasi mahasiswa Indonesia.
Sesampainya di kedutaan Republik indonesia syahrul menyelesaikan perpanjangan pasport. Bersilaturahmi dengan para staf KBRI dan teman-teman yang bekerja menjadi cleaning service. Setelah semua beres berlabu menuju maktabah kawasan Husaian. Di perjalanan menuju husain syahrul duduk di kursi menunggu angkutan Umum sambil menikmati Roti fino dan jubnah minumnya tamar hindi.
“hey anak muda..aku lapar” seorang pria berjaket kulit hitam mata yang sayu memanggilnya dari kursi sebelah.
“saudara mau?”
“ya aku lapar?”
“kebetulan aku beli dua fino”
“siapa namanmu?”
“namaku Syahrul! Sedang apa kamu di sini, sepertinya kamu bukan warga mesir!”
‘’ aku bukan warga Mesir!”
“ Sedang apa kamu di sini?”
“Mencari kebahagiaan yang kekal!”
“kebahagian yang kekal hanya ada di Syurga bung!”
“ya ya kamu benar di dunia kebahagiaan yang sementara”
“sebentar saya beli minum dulu”
“hey..hey jangan pergi dulu anak muda”
“sebentar..”
“kamu pernah minum arsus?” Syahrul tahu kalau pemuda disampingnya setengah sadar karena mabuk.
“minumlah !”
“ahhhkkkkk..minuman apa ini pahit sekali!” mata pemuda itu mulai terbelalak wajahnya murka mulutnya mengangah memuntahkan isi perut.
“Huakk..”
“Aku tidak akan pernah meminum minuman ini lagi!”
“Bung? Siapa namamu?”
“Aku Ibrahim, peminat seni dari prancis!”
“Oh rupanya anda pelajar juga!”
“Anak muda dari mana engkau ?”
“Panggil saja namaku wahai Ibrahim, Aku dari indonesia”
“baiklah syahrul, senang bertemu denganmu”
“sampai ketemu di lain waktu,aku ingin menuju Husein”
“boleh aku ikut denganmu?”
“mengapa tidak?”
Kedua anak muda yang baru saja kenal itu pergi menuju distrik Hesein, syhrul ingin mencari buku-buku seedangkan Ibrahim tidak memiliki tujuan. Sesampainya mereka di distrik Husein syahrul mengajak ibrahim untuk berwudhu dan melakukan shalat di masjid al-Azhar al-Syarif. Dibasu muka dari kotoran yang melekat, dibasahi mata yang melihat sesuatu yang diharamkan Allah, dibasahi tangan dengan air bersih menghilangkan kotoran zahir dan bathin hingaa kaki dibasahi air.
Ibrahim kembali bertakbir sudah puluhan tahun dirinya tidak bertakbir. Gerakkan shalat yang diajarkan oleh kakeknya kembali diingatnya. Mata ibrahim berkaca-kaca, dirinya tersentuh oleh hidayah allah. Diakhiri dengan salam dan wajahnya kembali cerah merona.
Syahrul terlihat bersiap-siap menuju luar masjid, ibrahim mengangangkat kedua tangannya berdoa kepada Allah agar dirinya diampuni. Sekeluar dari masjid keduanya menuju toko buku, ibrahim ingin dipertemukan dengan seorang syekh yang bisa mengajarkan kepadanya Agama. Syahrul menyampaikan kalau di Masjid al-Azhar banyak terdapat kajian keilmuan islam siapa saja boleh mengikutinya. Jika ibrahim berminat bisa bergabung untuk belajar ilmu agama.
Ibrahim meminta nomor yang bisa dihubingi,tidak beranjak lama dirinya undur diri ingin menuju dokki. Syahrul mengantakan ke stasiun metro setelah berbelanja di buku di maktabah. Ibrahim bertujuan menuju dokki sedangkan syahrul ingin kembali ke kota el-Manshurah dengan kereta lokomotif.
“hey ibrahim kalau ada waktu berkunjunglah ke kota Manshurah?”
“ya aku akan ke manshurah” ibrahim tersenyum.

4. Gaun pengantin
Sungguh terkejut Syahrul menerima surat undangan dari teman sekampung akan pernikahan yang akan diselenggarakan di masjid al-Salam. Syahrul langsung bertanya dengan teman satu rumahnya badrun. Pria asal nganjuk itu membenarkan bahwa suhardi akan segera menikah dengan seorang gadis dari sumatra.
“mantap sekali kawanku ini!”
“kapan kamu nyusul rul?”
“nanti kita susul, kamu mau juga nyusulkan?”
“tunggu saja tanggal maenya rul!”
“wah.. beneran iki Run?”
“yo iyo mosok ngapusi,yang pasti niat dahulu”
“ooo tak piker sebentar lagi”
Manusia Allah ciptakan berpasang-pasangan dan dengan izinya pula pasangan itu dipertemukan dengan ikatan yang suci pernikahan. Gaun putih bersih dipakai oleh seorang akhwat al-Azhar dengan hijab membalut wajah sumatra dan karangan bunga menghiasi pelaminan. Seorang pria berbaju hitam duduk disebelahnya mereka telah mengadakan akad pernikahan di Masjid al-Salam.
Walimatul’ursy dilaksanakan di kekeluargaan Minang sering disebut dengan KMM. Ajara terus berlanjut syahrul undur diri ingin kembali ke kota mansurah. Dipeluknya shahabat satu desa, brebes dibisikkan pesan singkat agar selalu mencintai kekasihnya.lalu pergi meninggalakan kota Cairo.
₪ ₪ ₪
Menjemput Ijazah di Universitas al-Azhar, pria bernama syahrul ini berhasil menakhlukkan studinya, fakultas Bahasa Arab Jurusan Jurnalistik. Masih tetap ingin tinggal di bumi Allah Mesir untuk meliput keindahan bumi Mesir, mengabadikan peristiwa perpolitikan dan pergerakan dakwah di negara pemikitas wisatawan.
Pertemuan dengan Ibrahim membuka keingintahuan tentang kota paris yang katanya kota para pemuja cinta. Sebagai pria berstatus sendiri hidup terasa lebih hidup sebab semuanya harus sendiri, nyuci sendiri, masak sendiri,nonton TV sendiri, mengadakan travelling juga sendiri, shalat tahajjud kalau pas lagi ngak futur juga sendiri, baca qur’an sendiri, bikin secangkir kopi juga sendiri tidak ada yang menemani tapi hidup terasa hidup.
Ibrahim memutuskan untuk kembali ke Paris, mengingat studinya belum dirampungkan. Untuk petualangannya di Bumi Mesir disisihkan terlebih dahulu. Melanjutkan studi yang masih macet menurutnya prioritas saat ini. Lagi pula Fathimah sudah selesai dari kampusnya sehingga ibrahim tidak pernah terluka oleh tatapan matanya, senyum manisnya, lembutnya hatinya. Fathimah kembali ke Berlin berkarir di Negara para pemain bola terbaik dunia. Entah apa karir yang ditekuni oleh fathimah yang jelas fathimah telah tiada di kota Paris.
Duta besar prancis yang ada di ramses dikunjungi oleh syahrul dan ibrahim. Sambil jalan kedua pria singel itu berbincang tentang studi, syahrul menyatakan bahwa dirinya telah lulus dari Universitas al-Azhar. ibrahim mengucapkan selamat dan mengajak syahrul untuk berkarir di paris untuk menjadi jurnalis.
Syahrul merasa tidak percaya mendapat berita ada lowongan kerja di paris. Menjadi peliput berita dunia adalah cita-citanya, sejak sekolah dasar dirinya hobbi menonton televisi khususnya Doraemon,Novita,dan kekasihnya juga gien sigemuk yang kontropersi. Saat dirinya memasuki sekolah atas dirinya bergelut di bidang jurnalis pelajar. aktif meliput berita di berbagai sekolah dan bertemu manusia yang memiliki warna yang sama.
Ibrahim mulai bertanya tentang seorang yang ingin dibidik dengan cybershoot dan dijadikan berita untuk orang tua dan anak-anaknya. Syahrul hanya tertawa lepas sambil menendang kaleng pepsi di depannya. Pertanyaan yang tidak membawa kegembiraan itulah jawaban syahrul. Seorang wanita yang ingin dibidik dengan cybershoot itu tidak berminat untuk difoto dengan camera digital Murahan. Dirinya ingin difoto dengan camera merek terkenal dan memiliki kwalitas megapixel yang bagus, dan bidiknya harus dengan tripot agar istiqamah. Wanita pujaan syahrul tidak tertarik dengan seorang pria bercamera standar atau amatir bidiknya pakek tangan lagi.
Ibrahim menepuk bahu syahrul dan terlihat empati kemudian tertawa terbahak-bahak. Sungguh malang nasibmu Syahrul itulah kata-kata Ibrahim. Syahrul hanya diam tertawa ringan sambil bergeleng-geleng kepala tidak percaya mengapa semua bisa terjadi. Ibrahim kembali bertutur bahwa setiap kejadian tidak terlepas dari ketetapan tuhan.
Mengaap kamu berkata bahwa dirinya hanya ingin dibidik dengan camera yang berkwalitas atas? Apakah dirinya berkata demikian?. Syahrul terdiam..kemudian mengucapkan Aku Wong Rah Ndue bahasa Jawa dan meminta agar Ibrahim menerjemahkannya. Ibrahim menerjemahkan bahwa artinya aku orang jawa. Jawabanmu salah wahai sahabat, aku tidak pernah kata-kata itu dari bibir indahnya, aku hanya menerjemahkan dengan terjemahan yang salah.
“engkau sudah gila Syahrul!!”
“memang aku gila!”
“lantas mengapa engkau terjemahkan dirinya”
“bila aku salah menerjemahkan bahasa cintanya aku akan menyesali terjemahanku sendiri karena itu keputusanku dan murni kesalahanku, orang lain tidak pantas menanggungnya, aku tidak akan menaru kekecewaan padanya, tidak menyalahkan dirinya, tidak membenci dirinya, tidak akan menyakitinya, tidak mendoakan keburukan baginya, tidak ingin dibelas kasihi olehnya, dengan salah menerjemahkan bahasa cintanya aku akan menghukum diriku sendiri. Dengan salah menerjemahkan bahasa cintanya akan mematahkan tunas harapan di hatiku, dengan salah menerjemah bahasa cintanya, cinta ini akan terkubur dan saat cinta ini bangkit tetap menjadi cinta yang suci, bila cinta itu terbunuh aku ingin cinta ini Syahid. engkau ingin bernasib sepertiku sahabat?”
“sungguh engkau pembunuh cinta sahabat!”
“apakah engkau ingin bernasip sepertiku sahabat!” Syahrul kembali menodongkan pertanyaan kepada ibrahim.
“Aku tidak ingin menjadi penjahat Cinta, itu kriminal cinta saudaraku, seandainya engkau berada di kota Paris! Dirimu akan ditahan dan dipenjarakan oleh polisi cinta!” ibrahim bertutur dengan serius.
“apa? penjahat Cinta? Diam-diam engkau puitis sahabatku!”
“ikutlah denganku ke Paris agar engkau memahami cinta yang sebenarnya” Ibrahim tersenyum optimis.
“baiklah orang Paris akanku liput kisah cinta penduduk kota paris dengan kamera murahanku, akanku tulis cerita cinta penduduk kota paris dengan arang hitam, akanku lukis menara terkenal itu dengan air mata cintaku..hahha hahhaha..”
₪ ₪ ₪
5. Ila al-liqa al-Qaherah
Kota Cairo yang aku cintai aku tinggalkan dirimu sementara bukan aku tidak cinta lagi denganmu wahai Cairo. Cinta itu harus diuji wahai kota cairo, diuji dengan gemerlapan lampu di malam hari masih tetapkah dirimu menjadi kota cairo yang sejuk dipandang mata atau engkau berubah menjadi kota New york, Cinta itu harus diuji wahai kota cairo. Diuji dengan penduduknya yang beribu ragam karakter, pencela, pemaaf, pemarah, pemurah, pendusta, pencuri, dan berbagai tipe manusia lainnya. wahai kota cairo, temukanlah cinta sucimu dengan mata hati.
Wahai kota Cairo yang tegar seperti namamu yang bermakna penahluk, jangan sampai dirimu ditahlukkan oleh kecantikan putri caleopatra, jangan sampai dirimu ditahlukkan oleh ketangguhan Napolean untuk kedua kalinya, jangan sampai dirimu berlutut dengan sang penjahat cinta zionis, wahai kota cairo yang aku cintai tetaplah tegar dan kokoh seperti shalahuddin yang tegar dan tidak pernah gentar apalagi gemetar menghadang pasukan mematikan lagi menakutkan bangsa Tatar.
Wahai negeri Mesir akan Kusampaikan salam cintamu untuk saudarimu yang terbawa oleh Napolean, jika aku berkesempatan mengunjunginya akanku tulis kata-kata cintanya untukmu. wahai negeri Mesir Jangan pernah berhenti menjadi istimewa seperti pertama kali aku melihat anggunnya perempuan-perempauan bercadar, berhijab menghiasi indahnya kota Cairo.
Kota Cairo yang aku cintai, semoga saja kita bersua kembali seperti pertama kali kita bersua. Engkau yang tidak berkata sepatah kata dan diriku juga diam. Engkau malu diriku juga malu tapi apalah mau dikata sepertinya aku tidak pantas hidup bersamam di kota yang indah ini, percayalah wahai kota cairo yang aku cintai suatu hari nanti bila waktunya tiba segalanya terasa indah. Engaku akan bersanding dengan kota semegah dirimu atau malah lebih megah darimu. yang jelas wahai kota cairo yang aku cintai, engkau tidak pantas bersanding dengan kota yang kotor,brantakan,kota yang tidak dihiasi oleh lampu jalanan, kota para glandangan, aku juga tahu itu. kota cairo yang aku cintai, Selamat berjumpa kembali kota cairo semoga Allah mempertemukan kita dihari yang hanya Allah mengetahuinya.
Diletakkan tulisan bertinta hitam yang tertulis di kertas papirus dalam kotak kubus dihanyutkan di arus sungai Nil. Hingga kotak tenggelam ditelan deras air sungai Nil. Syahrul berpaling dari jembatan menatap bangunan kota Cairo lekat-lekat. Diabadikan dengan puluhan bidikan camera murahan. kota yang indah berat sebenarnya hati meninggalkan kota seindah Cairo tapi apalah yang bisa diperbuat oleh seorang pria yang hidup tanpa ada yang bisa dibanggakan.
Perjalanan kali ini menggelilingi kota Cairo mengabadikan setiap moment yang terjadi. Seorang pengendara sepeda motor dengan soundsystem yang norak diabadikan dengan satu kali petikan, seorang kakek penunggang himar dengan barang-barang bekas juga dijepret dengan camera murahan. Seorang gadis mesir yang terbalut oleh hijab pipi kemerah-merahan berjalan membawa keranjang roti Isy di kepala tak terlewatkan dari bidikan lensa camera syahrul. Seorang pria berbadan tegap dan istrinya yang bercadar juga terbidik terlebih dahulu syahrul meminta izin.
Lensa camera masih saja jeli membidik panorama kota cairo, kali ini syahrul terduduk lemas di emperan Masjid Amar bin al-‘Ash. Menanti waktu zuhur menikmati segarnya air mineral dan sepotong roti. Waktu terus berlalu tibalah waktu zuhur.
₪ ₪ ₪
Menemui Syekh Hassan dan Syekh Muhammad setelah shalat zuhur biasanya kedua syekh itu mengadakan ceramah singkat seputar kehidupan dan bagaimana agama islam menyikapi kehidupan dunia. Duduk dengan tenang tidak bersuara,fokus,dan tetap menyimak setiap nasihat dari syekh hassan. Tidak begitu lama ceramah syekh hassan membuka pertanyaan seputar kehidupan. Syahrul mengangkat tangan hingga syekh hassan mempersilahkannya untuk bertanya.
“Wahai Syekh Hassan? Apa wasiat Syekh bagi seorang muslim yang ingin hidup di negara mayoritas non-muslim?”
“pertanyaan yang bagus anak muda, ismak ey?”
“ana syahrul ya syekh ana andunisi”
“wahai saudara seimanku syahrul, hidup di bumi Allah ini tidak terlepas dari ketaatan kita padaNya, dekat denganNya dan selalu merasa diawasi olehNya. Seorang muslim yang bersosial dengan masyarakat dan bersabar dengan setiap cobaan, lebih baik dari seorang muslim yang tidak bersosial dengan masyarakat dan tidak pula bersabar. Dimana saja kita hidup bila diri telahberiman maka ketaan yang paling utama wahai saudaraku”
“apakah saya boleh bertanya lagi wahai syekh?”
“Tafadhol ya akhiy al-Karim”
“bolehkan saya bekerja di perusahan non muslim?”
“pekerjaan apa yang ingin engkau jalani wahai saudaraku syahrul?”
“menjadi seorang jurnalis wahai syekh hassan”
“lakukanlah pekerjaanmu dan ketahuilah wahai akhiy al-Habib bahwa pekerjaamu adalah pekerjaan yang baik”
“Jazakallahu Khairan Ya Syekhuna, Nafa’aniyallah Wa Iyyakum”
“wa jazakumullah khairan jaza’ ya akhiy al-Habib”
Perjalanan dilanjutkan menuju pustaka dar al-Salam, distrik Hussein tempat buku-buku menarik dijual di sana. Salah satu buku yang ingin dimiliki sejak lama yaitu tazkiyah al-Nafs karya sa’id hawa ringkasan dari kitab ihya ‘ulumuddin karya imam al-Ghazali. Berharap dirinya menemukan buku pendidik jiwa.
Menelusuri distrik husein dengan berjalan kaki mengabadikan aksesoris-aksesoris yang dijual oleh warga mesir. Membidik penjual lip bunga matahari yang optimis akan rezki yang telah ditetapkan Allah. Membuka pintu Maktabah Dar Al-Salam dan berucapkan salam
“Assallamu ’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh”
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa bara katuh”
“Syahrullll..kamu mahu beli buku apa?”
“Nur Fadhilah ..ngapain jauh-jauh ke Cairo?”
“jawab dulu pertanyaanku syahrul?”
“afwan..saya mau beli buku karya sa’id hawa”
“Aku belikan ya?”
“jawab dulu pertanyaanku Nur fadhilah?”
“oh iya aku ingin beli Novel musafir al-Shakhra’, Zainab berkata Novel itu ada dua jilid, aku sudah baca jilid pertama jilid kedua aku cari disini”
“ya Sudah aku beli jilid ke dua Untuk Nur fadhilah”
“benar Syahrul mahu beli untuk Nur?”
“kalau cuman jilid duanya Ok Nur, yang lain bayar sendiri ya?”
“ya..ya..aku juga belikan buku kesukaan syahrul, apa judulnya?”
“tazkiyatu al-nafs karya sa’id hawa”
Kedua manusia asal negeri asia itu berlomba mencari buku yang dibutuhkan oleh keduanya. Nur sudah berada di kasir dengan membawa buku tazkiyah al-Nafs juga musafir al-Shakhra’ jilid II. Syahrul juga membawa tazkiyah al-Nafs dan musafir al-Shakhra’ jilid II. Keduanya saling pandang dan tertawa.
“ya sudah kita anggap saja buku yang kita beli ini hadiah”
“pas aku juga belum baca musafir al-Shakhra’ jilid II”
“saling betukar hadiah akan mendatangkan mahabbah bukankah begitu syahrul?”
“ya itu benar saudariku!”
“mahu kemana lagi engkau Syahrul?”
“aku ingin ke terminal metro pulang ke manshurah, Nur masih ingin di cairo?”
“ya aku ingin di cairo sampai besok, ada program dengan teman-teman di kuliyyah thib esok ”
“Sampai Jumpa Nur fadhilah, doakan agar kita bisa bertemu kembali”
“doakan juga agar Mahabbah Allah selalu ada untukku”
“amien..” syahrul tersenyum lebar.
“taks” Syahrul memanggil taksi untuk Nur fadhilah gadis melayu berbaju kurung, berhijab dan bedak wajah yang tipis merias wajah melayunya. Syahrul Membukakan pintu untuk Nur dan melambaikan tangan.
Nur fadhilah menatap ke bealakang memastikan syahrul belum beranjak dari maktabah dar al-Salam kemudian Memberi instruksi kepada seorang bapak pengemudi agar melaju menuju ‘Asyir.
₪ ₪ ₪
Ibrahim bertekat bulat untuk meninggalkan kota Cairo, melanjutkan studi yang sempat tertunda karena cinta. Dipersiapkan fisik dan mental untuk studi, untuk mengenang cairo Ibrahim mengajak syahrul untuk menikmati suasana malam kota cairo. Hard rock cafe cairo destinasi keduanya mengabadikan dunia malam Cairo, ibrahim sengaja mengajak syahrul selain teman untuk ngobrol. Ibrahim ingin tahu respond syahrul dengan dunia malam.
Melaju menuju Hard Rock cafe dengan taksi putih, ibrahim menukar dolar miliknya di money changer dekat dengan toko handphon Nokoa. Menukar tiga ratus dolar dengan uang pound menuju Distrik Corniche. Pemuda bernama Ibrahim memanggil waiter memesan minuman. Musik di hard rock cafe mulai terdengar. Syahrul sedikit canggung dengan suasana malam kali ini.
“kamu baik-baik saja?”
“yup..quwais In sya Allah”
“pernah ke sini sebelumnya?”
“lewat udah, masuk belum”
“ohh..Nyesel masuk sini?”
“nggak”
“bagus”
Minuman datang dihidangkan oleh seorang waiter, tangan kanannya menghidangkan minuman yang dipesan oleh Ibrahim. Pepsyi dengan krikil batu es, syahrul merasa sangat lega sebab minuman yang datang hanya dua gelas pepsyi dingin. Ibrahim tersenyum, dan mempersilahkan syahrul untuk menikmati minuman.
“syahrul, engkau harus pandai mengambil keputusan!”
“apa maksudmu sobat?”
“pikirkan baik-baik, sudah bulatkah tekadmu untuk meninggalkan Cairo?”
“ya aku sudah siap”
“ingat sobat! Paris, tidak seperti cairo tapi jangan kawatir di sana masih terdapat tempat untuk shalat”
“bagaimana kalau tempat makan kabab?”
“tentu saja ada sobat”
Ibrahim segaja meninggalkan jaketnya di hard rock cafe semoga saja masih berkesempatan untuk mengunjungi Cairo. Syahrul menikmati minuman yang tersisa. Malam itu malam perpisahan Ibrahim dengan Hard Rock Cafe Corniche el-Nil, garden City.
₪ ₪ ₪
6. Dari Cairo ke Paris
“Ibu, Ibrahim datang”
“masuklah nak! Sudah puas engkau di negeri Ayahmu?”
“belum!, Ini sahabatku Syahrul’
“senang bertemu denganmu,kamu seperti orang Indonesia “
“ benar madam saya Orang Indonesia”
“kamu kenal dengan Silvkia?”
“Ibu mana mungkin dia kenal, sudah lupakan saja ammu”
“engkau bangga menggunakan bahasa ayahmu ibrahim?”
“ya aku bangga, tetapi lebih bangga memiliki ibu penulis sepertimu, muah” ibrahim mencium ibunya.
“bisa saja kamu”
“kamu kenal dengan silvia?”
“sudahlah bu? Syahrul ingin istirahat”
Rumah ibu ibrahim dihias dengan ratusan pot bunga melati putih, lengkap dengan tempat duduk dan meja baca. Syahrul memasuki kamar ibrahim yang sederhana. Terpampang foto teman-teman kuliahnya di dinding kamar, disebelahnya foto dirinya saat berada di padang pasir Abu dhabi berjubah,bersorban di tangannya ada seekor burung elang.
Ibrahim mempersilahkan syahrul untuk beristirahat, dirinya ingin mengambilkan makanan dan minuman. Ibu ibrahim terlihat sibuk dengan tamu dari indonesia. Sebagai penulis yang mengerti budaya mesir dan budaya indonesia ibu ibrahim menjamu tamu sebaik mungkin. Dirinya juga mengerti ajaran agamanya untuk memuliakan tamu.
Membuat Nasi goreng ayam, dioseng bawang cabe dan teman-temannya. Kemudian di masukkan Nasi putih diaduk dan dicampur dengan Ayam goreng yang dipotong dadu. Aromanya memasuki ruang kamar ibrahim. Ibu ibrahim mempersilahkan agar anaknya mengajak syahrul ke ruang makan.
“Wah ini masakan rumah makan dari indonesia madam?”
“madam sering diundang sebagai pemateri di diskusi penulis oleh pelajar indnesia”
“siapa yang mengajarkan masakan ini bu?”
“tentu saja gadis indonesia yang terlihat santun, silvia”
“ohh..boleh aku dikenalkan dengannya?”
“pasti ibu kenalkan dirimu denganya, agar engkau lupa dengan fathimah yang telah menikah itu”
“sudahlah bu jangan dibahas kekasihku yang telah hilang itu”
“silahkan dinikmati Syahrul”
“Terima kasih madam”
Syahrul begitu penasaran dengan misteri bunga-bunga melati di rumah madam. Ada apa dengan bunga-bunga yang indah terawat itu? Jawabannya ternyata arti kata maaf untuk madam. Sebagai seorang wanita yang diberi bakat menulis, madam memiliki perasaan yang begitu dalam sedalam lautan dan sepeka naluri seorang ibu. Pengkhianatan seorang pria yang tidak biasa termaafkan oleh seorang wanita penulis yang perasa.
Bunga-bunga yang tertanam di pot bunga disusun rapi itu adalah ungkapan maaf seorang ayah kepada sosok penulis yang dicintai tetapi pria itu berkhianat. Pengkhianatan yang tidak pernah termaafkan oleh seorang penulis menimbulkan penyesalan. Madam yang tidak pernah memaafkan ayah ibrahim. Seorang pria yang berani menduakan hati perempuan. Kini ayah ibrahim menyesal,memohan maaf dari penulis yang dikhianati olehnya.
₪ ₪ ₪
Pagi hari yang cerah, bunga-bunga terlihat segar, putih merona, menghiasi rumah sederhana seorang madam. Seorang pria bertopi datang degan sepeda dan peralatan perawatan bunga, tanpa diperinta pria itu menyirami bunga dan memotong daun yang mulai menguning. Membersihkan pot bunga dari kotoran. Terus membersihakan hingga seorang anak muda datang menyambut Ayahnya.
“baba…”
“kapan engkau datang petualang?” keduanya saling berpelukan.
“kemarin, bagaimana baba hari ini masih belum diberi maaf oleh penulis yang terkhianati itu?”
“ibumu begitu cinta dengan wamar-mawar ini, hingga dirinya tidak pernah memberi kata maaf bagiku?”
“mengapa biasa demikian baba?”
“ya ibumu takut bila diberinya kata maaf, maka berhenti pula aku merawat bunga-bunga ini”
“ahhaa..baba bisa saja”
“wahai penulis masih dedamkah dirimu padaku?” ayah ibrahim berucap kencang agar madam mendengar kata-katanya.
“Aku ingin menuju toko buku bersama ibu dan saudaraku, bolehkan kami pergi dengan mobil tuamu baba?”
“tentu saja boleh, siapa saudaramu itu?”
“dia pelajar dari indonesia”
“dimana dia sekarang?”
“setelah shalat subuh dirinya ingin pergi berjalan melihat alam sekitar”
“sampaikan salamku padanya”
“ok baba, Aku tunggu mobil tuamu”
₪ ₪ ₪
Madam mengajak anaknya Ibrahim agar cintai buku, sekaligus memperkenalkan dengan Silvia gadis Indonesia berparas Ayu, teduh ,bening merona. Syahrul masuk dalam daftar pengunjung toko buku terkenal di kota Paris, sulit untuk menyebut namanya yang terdengar oleh Syahrul toko buku itu, Shakespeare And Company “Waouwwwwww….luar biasa, menakjubkan, ini surga bagi pembaca buku! waouw waouw waouw,”
Syahrul mengelilingi rak-rak buku, tidak dihiraukan pengunjung yang melihatinya seperti orang gila masuk ke dalam toko buku. Menusuri gang-gang buku, meraba buku-buku dengan tangan kanan dan kirinya, matanya meperhatikan satu persatu buku yang dijual.
Madam tidak menghiraukan pria Asia yang kerasukan siluman buku shakespeare books. Ibrahim masih berada di luar toko buku hatinya hancur seperti buah apel yang digilas mobil kontainer. Bagaimana tidak meskipun fathimah telah meninggalkan paris kenangan bersamanya membeli novel-novel kesukaan fathimah di shakespeare tidak akan pernah terlupakan. Madam terlihat gelisah meilhat putra satu-satunya termenung, syahrul telah hilang di telan lautan buku. Baunya saja tidak terendus apalagi wujudnya.
“madam…apa kabar?” gadis ayu dan jelita berbalut hijab hitam dan gamis hitam.
“baik, silvia…kamu bagaimana?”
“Alhamdulillah baik madam”
Gadis Ayu yang telah lama menjadi rekan madam menulis itu mengajak madam memasuki toko buku. Sambil memilih buku yang dicari Silvia bercerita tentang karya sastranya yang baru saja dirampungkan. Madam sangat bangga mendegar kata-kata silvia. Mata silvia tertuju pada sosok pria yang terlihat murung di depan toko.
“Silvia adikmu Maya ikut bersamamu?”
“Maya ikut bermasa Silvia,tetapi dia ingin Membeli sesuatu untuk madam ”
“Memang adikmu yang Ayu perhatian sama madam”
“Madamm…” Ayu datang membawa pot bunga yang dibutuhkan Madam.
“Ayu..muah” madam mencium pipi ayu.
Ibrahim memasuki toko buku ingin menjemput sahabatnya Syahrul, merasa tidak tahan berlama-lama dihantui bayangan kekasihnya fathimah. Madam memanggil putranya mengenalkan dengan Silvia dan Ayu. Kedua gadis indonesia itu mengucapkan salam kepada Ibrahim. Senyum bias yang disuguhkan Ibrahim.
“Saya Ibrahim anak penulis di sebelah anda”
“Saya Silvia, dan adik saya Maya”
“Senang bertemu denganmu ibrahim” Maya tersenyum pada Ibrahim.
“Saya juga senang bertemu wanita Muslimah seperti kalian”
Ibrahim meminta izin untuk menjemput saudaranya di ruang rak buku, syahrul terlihat sibuk melihat-lihat buku tapi tidak satupun buku yang di beli olehnya. Kedatangan ibrahim mengejutkan syahrul. Menepuk bahu syahrul mengajak untuk meninggalkan toko buku.
“ saudara dari Minang kabau?”
“Ukhty orang Indonesia?” syahrul melihat styl Maya seperti akhwat-akhwat Cairo, manset tangan dan hijab dalam kaus kaki. Panggilan ukhty menurut syahrul lebih pantes.
“ya saya dari indonesia, kamu Dari padang?”
“Saya dari jawa timur”
“punya saudara di padang?”
“punya sedang kuliah di sana”
“maaf sepertinya saudara mirip dengan mas garin”
“oh..kalau itu saya tidak kenal”
“maaf..maaafff” ayu merasa malu.
“oh ngak apa, udah lama di kota paris?”
“sudah satu tahun”
“maaf saya harus pergi”
“silahkan akhiy”
Ayu bergegas berbisik kepada Silvia tentang kemiripan wajah pria yang ada di samping Ibrahim dengan Mas Garin. Silvia membenarkan dan malu untuk bertanya kedua kalinya. Syahrul meminta izin kepada madam, Ibrahim bergegas meninggalkan toko buku, berjalan melihat panorama kota paris. Mengajak syahrul untuk mengunjungi mengunjungi Cafe terbagus di kota Paris.
Menapaki jalan-jalan dilihatnya kota-kota indah tidak seperti cairo itulah yang terbenak dalam pikiran Syahrul. Ibrahim masih teringat dengan fathimah,dirinya memilih diam. Terus berjalan menuju cafe biasa ibrahim bertemu dengan teman-teman berdarah Arab.

₪ ₪ ₪

Menikmati hidangan kabab dan minuman Ala arab susu kurma, instrumen padang pasir dan sisya dinikmati pengunjung yang identik dengan wajah arab. Minuman susu kurma dihidangkan oleh pelayan. Wajah arab pelayan yang terlihat seperti orang mesir. Syahrul langsung mengajak bicara dengan bahasa mesir.
“ey dih kapthin? Dah laban wala ey?”
“Ya ‘amm bitkallim mashriy? Minein?”
“Mahmud dia orang indonesia pernah tinggal di Mesir” Ibrahim memberi tahu Mahmud.
“Ba’da Iznak Ya ‘Am,” mahmud meninggalkan ibrahim dan Syahrul.
‘Masyi ya ‘am”
“apa yang kamu pikirkan Saudaraku?”
“aku teringat kekasihku”
“mengapa engkau tidak bercerita kalau dirimu memiliki kekasih?”
“Ohh..itu tidak mudah untuk bercerita dengan orang yang belum aku kenal”
“ada apa denga kekasihmu?”
“dia kekasihku dan aku bukan kekasihnya”
“ohh..itu masalah ringan”
“Ringan? Begitu mudah engkau berucap penjahat Cinta!”
“hah haha engkau masih ingat”
“Aku tidak sepertimu Syahrul!”
“Cobalah rumus cintaku”
“aku tidak sudi hidup dengan rumus cinta seorang penjahat cinta”
Kenangan itulah yang dirasakan oleh Ibrahim, moment bersama kekasihnya di kota paris. Dari sudut kota Paris hingga ujung kota Paris tidak ada tempat yang tidak mengingatkan dirinya bersama fathimah Oglu. Hanya cafe arab yang tidak pernah dikunjungi oleh fathimah. S
Syahrul menikmati kabab dan tamar bi al-laban, nikmat terasa senikmat tamar bi al-laban yang dibuat di Maqha distrik ‘Asyir. Ibrahim hanya menikmati minuman kabab diuekin. Seorang pemuda berdarah arab ini mewarisi kesetiaan cinta yang dimiliki ibunya. Penyesalan yang dialaminya seperti penyesalan ayahnya.
“apa yang kamu rasakan dengan Cinta syahrul?”
“sudahlah, aplikasikan saja rumus cintaku? Pasti engkau melupakannya!”
“apakah ada rumus yang lain?”
“tentu saja ada,”
“dirimu ikhlas untuk berbagi?’
“tentu saja sahabatku”
“apa rumusmu itu?”
“kirimi kekasihmu surat, nyatakan rasa yang ada di dalam hatimu, jangan pernah engkau sisahkan sedikitpun perasaanmu tentang dirinya, ungkapkan semuanya”
“tentu jawabanya dirinya tidak mencintaiku”
“apa alasan kekasihmu tidak mencintaimu”
“khabarnya dirinya telah menikah”
“yang engkau perlukan saat ini adalah selembar kertas dan pena”
“baiklah kita pulang, akan aku tulis kisah cintaku untuk dirinya yang kucinta”
“ayo kita pulang!”

₪ ₪ ₪
7. Secangkir Teh Pahit
Sudah tiga hari Syahrul berada di rumah Madam merasa tidak nyaman untuk berlama-lama bertamu di rumah sahabatnya. Diputuskan untuk pindah mencari pekerjaan, mencari kehidupan di kota Paris. Mencari pekerjaan dengan skil jurnalistik yang dipelajarinya di al-Azhar. sayang pekerjaan dengan mengandalkan skil jurnalistik belum ditemukan olehnya.
Menjadi pelayan di Cafe Arab, mahmud mengajak bekerja sebagai waiter. Dengan tekat bulat diputuskan untuk kerja bersama Mahmud. Kembali menjadi seorang pekerja menjadi buruh. Menarik hidup menjadi seorang buruh dapat bercermin siapa diri sebenarnya.
Syahrul menikmati menjadi pelayan cafe arab. Hidup bersama muslim yang juga mau untuk beribadah shalat berjamah, Syekh zakariya. Seorang syekh yang sedang menempuh studinya di paris. Berasal dari propinsi timur Mesir. Meraih gelar doktor di bidang hadis dan mengadakan reseach tentang Orientalis prancis dan karya-karyanya.
Belajar ilmu hadis bersama Syekh Zakaria di rumahnya, Ibrahim juga mengikuti kajian ilmu hadis. biasa ibrahim datang dengan mobil tua milik ayahnya setelah kembali dari kampus. Sebagai seorang muslim ibrahim terpaut hatinya dengan sunnah Rasulullah.
₪ ₪ ₪
Melupakan seorang fathimah yang ada dihati ibrahim, bukan perkara mudah. Namanya tidak sekedar di kertas catatan harian miliknya, tetapi nama wanita itu berada di hati. Tekadang dirinya merasa lelah dengan perkara hati, berusaha melupakan fathimah dari pikirannya tetapi semuanya sia-sia. Menghindari tempat kenangan dirinya dengan fathimah bukan sebuh solusi, mencatat setiap kenangan dan menjadikannya tulisan satu dari saran penjahat cinta mulai dilakukan oleh ibrahim.
Penjahat cinta, Syahrul telah ditelan kesibukan. Saatnya ibrahim bergerak sendiri mencari serpihan-serpihan kenangan mencatat setiap moment. Dikumpulkan buku harian dicari teman fathimah yang masih berada di kota paris. Mobil tua sahabat ibrahim menyisir kota paris.
₪ ₪ ₪
Sungai Seine dan cafe tua, kali ini penjahat dan pengkhianat cinta Syahrul menyempatkan dirinya bersama sahabatnya. Sekedar minum kopi berbicara khabar, juga diskusi masalah cinta yang pastinya tidak berujung. Secangkir kopi disuguhkan oleh wanita berambut lurus direbonding dengan senyum manis, Gigi putih, perempuan afrika mempersilahkan Syahrul. Disambut senyum manis dengan kata terima kasih oleh syahrul.
“cinta harus dibunuh dengan cinta”
“apa maksudmu?”
“ya itulah cinta terkadang cinta mampu menghidupkan jiwa yang mati, suatu saat cinta dibunuh oleh cinta”
“ahh..aku tidak setuju wahai penjahat cinta, mengapa engkau begitu jahat dan sadis memahami cinta?”
“karena aku penjahat cinta”
“engkau belum paham Cinta wahai penjahat cinta?”
“ini kota Paris, katanya kota teromantis, tapi aku tidak merasakannya”
“jangan terburu-buru menghukumi sebuah kota wahai sobat!”
“lantas kota apa ini?”
“kota seniman? Engkau setuju”
“aku tidak setuju”
“ya sudahlah, minum saja kopimu!”
“syurupittt…ahhh”
Mata Syahrul tertuju pada sosok dua wanita muslimah yang berkelebat di dekat cafe, membawa bunga dan tas berisi belanjaan. Sepertinya mereka pernah bertemu sudah lama terasa, Syahrul meninggalkan ibrahim sendiri di cafe.
“assalamu’alaikum?”
“wa’alaikum salam”
“ sedang apa ukhty disini?”
“kami berbelanja untuk acara teman dari indonesia”
“ohh..ya ya..”
“datanglah ke acara kami, may kasi undangan untuk akhi ini”
“ini akhiy undangannya”
“acara apa ini?”
“datang saja akhiy nanti baru tahu, afwan saya harus kembali”
“ohh silahkan ukhty”
Syahrul kembali menemani ibrahim, kembali menikmati secangkir kopi dan curhatan-curhatan Ibrahim tentang fathimah. Sungguh menyedihkan nasib pemuda berdarah arab ini. Begitu cintanya dirinya dengang fathimah tetapi dirinya tidak memahami siapa dirinya dan siapa fathimah. Memaksakan kehendak cintai untuk seseorang itu juga tergolong sebagai penjajah cinta apa bedanya dengan penjahat cinta.
“engkau seperti Napolen Bonaparte?”
“ah ada ada saja kau ini penjahat cinta”
“hey jangan berbangga dulu sobat? Bila aku penjahat Cinta maka dirimu penjajah cinta, apa persaman penjahat cinta dan penjaha cinta?”
“aku tidak tahu sobat”
“keduanya sama-sama orang yang merana karena Cinta palsu”
“aku tidak semerana yang engkau bayangkan sobat!” ibrahim mulai tersenyum menatap realita dirinya.
₪ ₪ ₪
Toko Bunga Baba
Ile de la cite, destinasi Ibrahim dan Syahrul. Baba ayah ibrahim orang yang dicari oleh penjahat cinta dan penjajah cinta, dua makhluk yang merana di dunia karena Cinta. Menemui baba di tempat mangkalnya Ile De La Cite, tempat penjualan bunga dan aneka tumbuhan. Sangat sederhana tapi terasa nyaman itulah toko bunga milik baba.
Syahrul kembali bertemu dengan Maya gadis yang pernah sekolah di kota padang, ternyata maya memiliki hobby koleksi bunga-bunga indah di rumahnya. Toko baba merupakan tokoh tujuan maya, selain sudah kenal dirinya diminta untuk menyampaikan kata-kata madam kepada baba, bahwa madam telah memaafkan kesalahan baba. Entah apa maaf dari madam baru muncul setelah dua puluh lima tahun.
Ibrahim, merencanakan untuk membuka toko bunga seperti ayahnya, toko bunga miliknya akan di beri nama fathima Oglu. Sudah menjadi darah ternyata nama fatimah Oglu bagi penjajah cinta. Maya sangat senang bila Ibrahim berkeinginan membuka toko bunga seperti ayahnya. Syahrul siap untuk menjadi pekerja di toko bunga fathimah Oglu.
“mas syahrul jangan lupa ya acaranya on time lho”
“in Sya Allah, aku datang”
“ajak juga ibrahim, mudah-mudahan dia terhibur”
‘pasti”
Maya meninggalkan toko bunga milik baba, hijab orance yang membalut wajah maya telah hilang dari toko bunga baba tetapi tidak dengan bayangannya. Ada apa dengan syahrul kali ini, secepat itukah dirinya jatuh hati, Melupakan kekasihnya yang pernah singgah dan berlama-lama di hatinya. Ohh..pria yang plin-plan sungguh tidak banyak dirahapkan seutas kesetiaan cinta dari pria bergelar penjahat cinta.
“ada apa denganmu wahai sobat?”
“ada sesuatu yang merasuk dalam hatiku!”
“secepat itukah engakau terpaut oleh seorang wanita?”
“mungkin dia seorang wanita yang tepat untukku”
‘‘terlalu cepat mengambil keputusan cepat pula dirimu menyesalinya”
“benar juga katamu sobat!, wanita bukan tempat persinggahan”
”ada apa wahai anak muda?” baba yang terlihat berseri-seri tidak seperti biasanya.
“cintamu begitu besar kepada madam, boleh aku tahu apa sebabnya” syahrul bertanya dengan sebenar-benarnya.
“hanya satu wanita sepertinya di dunia ini”
“apa maksudmu wahai baba?”
“dua puluh lima tahun aku diuji dengannya dan aku gagal, mungkin engkau tidak tahu anak muda wanita suka menguji pria, dan pria sering diuji dengan perempuan dan aku gagal mempertahankan cintaku. Aku tidak ingin mengulang kegagalan cinta.”
“apa yang kau lakukan?”
“madam, mengajak sahabatnya untuk makan malam bersama kami, dan pandanganku saat itu tertuju pada temannya, aku jatuh cinta. Dan pada akhirnya aku juga jatuh dari kesetiaan cinta”
“huh cerita yang panjang baba…” syahrul terkagum-kagum.
“dialah madam, bagaimanapun juga cintaku selalu ada untuknya”
“baba pergilah temui dirinya, mungkin saja madam telah menunggumu dari tadi”
“engkau berbakat menjadi pria perhatian syahrul”
“hahha aku penjahat cinta wahai baba,,engkau tertipu”
“hahha..baba engkau tertipu dia kriminal cinta” ibrahim menambahkan.
“dan anakmu penjajah cinta wahai baba..”
“hah hahah hahah “
Seharum wamar putih, seindah kuntum mawar, saat merekah menampilkan keelokan di setiap kelopak bunga. Mengesankan dan terkesanlah manusia yang memandanginya, terkadang jatuh hati dan tidak mampu berdiri lagi, terkadang jatuh hati kemudian mengkhianati. Mawar yang tersisihkan tetap saja menjadi mawar indah, tidak perlu mengumbar keelokanmu karena dirimu tercipta menjadi indah pada hakikat fitrahnya.
₪ ₪ ₪
Fathimah Oglu flowers
Di samping toko bunga milik baba, berdiri kios kecil milik ibrahim fathimah Oglu flowers. Bunga yang dijual di toko milik ibrahim hanya satu jenis tanaman bunga, Tulip Putih. Mengenang negeri kekasihnya turki sekalian mengenang kekasihnya fathimah yang memang suka membeli bunga tulip putih. Ada kenangan khusus dengan tulip putih.
Suatu ketika saat Ibrahim berjalan di tepian sungai seine. Seorang wanita bertanya tentang alamat penjual bunga tulip, wanita itu adalah madam. Tibalah fathimah menunjukkan koleksi bunga tulip miliknya untuk di jadikan sumber inspirasi tulisa-tulisan madam. Simpel saja sebenarnya kisah cinta ibrahim dengan fathimah Oglu dan tidak disangka sesingkat itu pula cinta fathimah kepada penjajah cinta.
Kumpulan wanita berhijab ala turki mendatangi toko ibrahim, pagi hari udara masih terasa segar. Syahrul sedang asyik menikmati keindahan tulip menyusunnya rapi, ibrahim mencari-cari inspirasi di dunia maya tentang tulip. Kumpulan wanita turki mulai mendekat dan memasuki toko kecil milik Ibrahim.
“assalamu’alaikum” wanita berkerudung memasuki toko dengan mengucap Salam.perempuan itu mulai dengan bahasa turki, syahrul terdiam. Ibrahim juga terdiam.
“Madza Turidin Ya Ummah” syahrul menggunakan bahasa arab.
“antum min bilad al-turkiy?”
“tidak madam, saya dari indonesia dan bos saya penduduk kota paris”
“kami terkesan dengan nama toko tuan”
“terima kasih ummi,” ibrahim tersenyum
‘‘boleh kami melihat?”
“silahkan ummi,jangan sungkan”
Kumpulan wanita turki berhijab itu memilah dan memilih bunga tulip, anak-anak perempuan yang diajak melihat bunga tulip jga sibuk. Ada yang selfie dengan bunga tulip dengan senyum manis mata penuh cinta, ada juga yang terfokus dengan Ibrahim. Sepertinya gadis Usia tujuh belas tahun itu mengenal wajah ibrahim.
“kakak cepat ke toko bunga fathimah oglu, ile de la cite” itulah sms gadis kecil kepada kakaknya. Tidak begitu lama, datanglah seorang wanita dengan gamis dan hijab khas ala turki penuh dengan Ornamen dan warnah cerah,wajah yang masih tetap cantik dan jelita, senyum yang tidak pernah berubah dari sebelumnya, mata yang tetap indah.
Mata ibrahim tertuju padanya begitu pula mata wanita berhijab ala turki itu, ditinggalkan laptop langkahnya menuju depan pintu dihiraukan syahrul yang ingin bertanya harga bunga. Matanya wanita itu menitiskan air mata, melihat sosok pria yang berdiri kaku di hadapannya.
“ummiy..aku ingin bunga itu?” seorang gadis kecil ingin dibelikan bunga tulip. wanita itu mulai meraih tangan anaknya, mata ibrahim tertuju pada mata gadis kecil dan matanya seperti mata wanita berhijab. Raut wajah ibrahim berubah, tangannya sedikit gemetar hingga jatuhlah pena dari tangannya.
“silahkan masuk madam?” syahrul mepersilahkan masuk.
“terima kasih,”
“Ummi Aku ingin bunga itu?”
“fathimah? “
“engkau masih ingat denganku”
“tentu saja, fathimah”
Kumpulan wanita berhijab itu para peziarah dari kota berlin, berlibur di paris secara bersamaan. Mereka meninggalkan toko bunga milik ibrahim dengan membawa tulip. Fathimah juga demikian, digandengnya putri kesayangannya yang telah berusia empat tahun. Matanya ingin terus berbicara tapi lidahnya keluh begitu pula ibrahim.
“assalamu’alaikum Ibrahim” Fathimah undur diri
“wa’alaikum salam, fathimah”

₪ ₪ ₪
Satu hari setelah kunjungan fathimah ibrahim terlihat lemah, ditinggalkannya toko miliknya hanya syahrul yang menjaga toko kecil itu. Seorang gadis yang pernah berkunjung ke toko bunga tulip kembali datang. Ingin bertemu dengan ibrahim, sepertinya berkaitan dengan fathimah oglu. Syahrul segera menghubungi ibrahim. Tepian sungai reina itulah posisi Ibrahim.
“baba aku tinggal toko anakmu sebentar”
“pergilah penjahat cinta”
“ayo dik kita ke sana”
“in sya allah”
Gadis muda dan syahrul menuju sungai seine, mencari ibrahim. Terlihat sosk pria yang sedang berjalan mengulang kenangan dengan kekasihnya. Pria itu ibrahim.
“Bisa saya berbicara denganmu”
“baiklah”
“Apakah dirimu masih mencintai fathimah Oglu?”
“tentu saja”
“engkau mau menikah dengannya?”
“tentu saja, bukankah dirinya telah menikah?”
“benar dirinya telah menikah dan memiliki satu putri”
“lantas pernikahan apa yang aku lakukan?”
“Suaminya telah meninggal, tiga tahun yang lalu”
“Alan telah meninggal?”
“kakakku tidak menikah dengan Alan, tetapi dengan pilihan Ibuku, mustafi”
“lantas Alan?”
“Alan juga menikah dengan pilihan keluarganya”
“Masihkah dirimu Cinta dengan fathimah kakakku”
“dimana sekarang fathimah, dimana fathimah,beri tahu aku dimana fathimah?”
“dirimu mau menikahinya?”
“diam, beri tahu aku dimana fathimah?”
“Stasiun kereta, Fathimah dan keluargaku akan meninggalkan paris”
“terima kasih, gadis kecil..” Ibrahim berlari menuju stasiun kereta.
₪ ₪ ₪

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s