Mawaddah dan Rahma

Mawaddah Dan Rahmah

“ ’Ammuuu ![1]

fi ey ya katkut?[2]

“apaan itu?”

“ooh ini karikaatuur!” pria yang sedang menggambar di kertas Hps  menyerahkan sosok Putri Alexandria kepada gadis kecil di sebelahnya.

“karikatur apa ini?”

“Putri Alexandria, Terlihat cantik?”

“Hmmm..siapa nama putri berambut kriting ini? Kenapa Dia tidak menutupinya?”

“ohh..putri berambut pirang debur ombak ini bernama Mawaddah, saat ini dia  belum mau berhijab! Nanti ia akan berhijab” pria berambut seperti mawaadah itu menuturkan karikatur miliknya.

“apa arti mawaddah? Aku tahu ayat Alqur’an lafasnya Mawaddah Wa Rahmah dalam Surat Al-Rum!”

“ohh Mawaddah..emm Mawaddah ituu..artinyaa” pria berjaket hitam itu merasa bahwa perempuan kecil di sampingnya kepo banget. Merasa serba salah seandainya diberi tahu artinya nantinya menambah pertanyaan yang lebih banyak. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya kepada orang tua berjanggut tipis wajah yang teduh senyumnya bersahabat.

Maleys Ya Ustaz apa arti Mawaddah?”

“ Mawaddah dalam surat Al-Rum? kata mawaddah[3] berarti Mahabbah, cinta”

Perempuan kecil yang kepo kembali bertanya, “cinta seperti apa itu?” terburu-buru ia mengambil catatan dari tas rangselnya. Terlihat pensil,buku gambar dan perbekalan makan siang.

“cinta itu seperti Makan permen” pria berwajah Asia itu menyahut padahal ia tidak ditanya.

“Aku bertanya kepada Ammu Syekh..pamaaan?” terlihat aura dari wajah mesir Gadis kepo bahwa Ia tidak suka dengan jawaban pria Asia.

Isma’ Ya Binti..dengarkan ya nduk..”

“ Sayang Kamu Cinta Rasulullah? “

“ Ya Aku Cinta Rasulullah “ gadis kecil kepo itu menjawab dengan tegas.

“begitulah Mawaddah.. Cinta yang diciptakan Allah untuk hambanya, seorang hamba yang mencintai namun ketika apa yang Ia cinta meninggalkannya Ia merasa cintanya tidak hilang dari sisinya”

 

“Tin Tin..Tin”

suara klekson dari mobil pribadi pertanda gadis kecil kepo dijemput orang tuanya. Gadis itu berpamitan dengan ammu Syekh dan bertanya nama pria Asia yang memberinya karikatur putri Alexandria bernama Mawaddah.

“siapa namamu wahai paman?”

“pertanyaanmu aku jawab bila dirimu tidak bertanya arti dari namaku”

“baik!..siapa namamu?”

“Namaku Bambang” pria Asia tersenyum

“apa paman tahu arti nama presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyunu?”

“ bukankan dirimu tidak akan bertanya arti namaku?”

“nama itukan nama presiden indoneesia” gadis kecil itu tersenyum auranya ngeledek.

“Hmm sepertinya ibumu sudah menunggumu dari tadi” pria asia itu melirik ke arah Mobil di depannya.

“YaaLLa Ya Rahhmahh..” gadis kecil kepo banget  itu bernama Rahma.

“aiwa..tunggu buu..tali sepatuku lepas” kedua tali sepatu kain miliknya sengaja dilepas karena gerah. Pria asia membantu mengikatkan tali sepatu sebelah kiri berwarna pink milik gadis kecil kepo banget.

“syukran ‘Ammu..” Rahmah tersenyum indah, seperti indahnya cinta.

“Afwan Ya Rahmah”

Ö   Ö

“Maaf Ammu Syekh boleh aku tahu penjabaran tentang Mawaddah lebih dalam lagi?” Bambang bertutur dengan bahasa Arab fushah agar Ammu Syekh menjabarkan dengan bahasa fushah.

Thayyib..Mawaddah itu anugrah yang Allah ciptakan Untuk Manusia. Mawaddah seperti yang telah aku jabarkan tadi bentuk kasih sayang Allah kepada Hambanya sehingga Manusia dapat Hidup bersama meskipun keduanya sebelum itu tidak mengenal satu sama lain namun Allah anugrahkan mawaddah sehingga kedua insan saling percaya untuk menyerahkan hati dan jiwanya atas nama Allah. Nabi Muhammad-shallallahu’alaihi wasallam– membuktikan cintanya kepada khadijah meskipun khadijah telah tiada Rasulullah selalu menyebut-nyebut namanya dan tak jarang Rasulullah menyedekahkan sepotong daging atas nama khadijah. Istri Rasulullah khadijah telah tiada namun Rasulullah tetap merasa cinta dan cintanya tidak pernah lekang karena khadijah memiliki hati yang indah.”

“ Indah sekali arti Mawaddah itu wahai Ammu Syekh?”

“ Benar..itu bahasa yang Ada dalam Al-Qur’an..anda tahu bukan? Bahwa Al-qur’an itu mu’jizat. Engkau pernah membaca Tafsir Fizhilal Al-Qur’an?”

“Karya Sayyid Qutub itu wahai Ammu Syekh?”

“Benar..engkau pernah Membacanya?”

“Aku belum pernah membacanya tetapi aku pernah menyentuhnya di toko buku Dar El-Syuruq ketika Ma’radh Cairo”

Ta’bir Al-Qur’an begitu lembut juga dalam maknanya. Sayyid Qutub menjabarkan mawaddah itu..ibarat peristirahatan teruntuk jasad,hati dan  jiwa, sebagai tempat menambatkan hidup dan kehidupan, kelembutan ruh dan hati, ketenangan bagi kedua insan yang saling mencintai. begitulah indahnya Mahabbah yang Allah anjurkan ”

“ Terima kasih Ammu Syekh..aku harus pulang ke kota El-syarqiyah”

“sampaikan salamku Untuk Duktur..Muhammad ‘Ali dari sahabatnya Muhammad El-Damanhuriy”

“mengapa Ammu Syekh tahu kalau aku Murid duktur Muhammad ‘Ali?”

“ saat engkau bertanya tentang tafsir aku telah mendugamu kalau engkau Thalib Al-Azhar” ‘Ammu Syekh tersenyum dan mempersilahkan untuk menuju mobil Destinasi wilayah El-Syarqiyah.

“Insyaallah Ammu Syekh akan aku sampaikan salam darimu”

 

Ö   Ö

Rahma dan Ustazah Lathifa  fauziah

 

Cairo ibu kota mesir itu memang kota para pemberani, makhluk-makhluk yang bermukim di sana sangatlah tangguh. Bila ia seorang Pelajar maka dapat dipastikan kesehari-hariannya berhadapan dengan tantangan terkadang menang dan tak jarang harus terkalahkan oleh Aura kota cairo.

Bambang mencoba menantang kehebatan kota cairo, dari kendaraan, sosial masyarakat terkhusus pengendara angkutan Umum. Di siang hari yang terik matahari menyapa penduduk bumi, udara panas menampar pipi Bambang, pasir-pasir kecil berlomba siapa yang mampu lebih dulu mendarat di mata pria berambut debur ombak.

“AMMMU..AMMMU ..AMMMUUU..Ruh Feeeinnn?”

“Aiwa?” Bambang melengos ke arah suara yang berasal dari Mobil Hitam.

“paman Bambang? Ayo ikut kami!!” gadis kecil pakai kaca mata hitam hijab orange.

“syukran ya bint” Bambang meneruskan langkahnya.

“Yalla Ya Amm..” gadis kecil itu turun dari Mobil dan menyeret Bambang.

“Rahmah?” Bambang terpukau.

“Aiwa..Rahmah ley?” gadis kecil kepo itu memang pantang ditanya Dia akan balas tanya. Tangan kananya diangkat ekspresi mulutnya juga cool.

“cool banget kamu hari ini”

“cool apanya?”

“kaca matamu”

 

Bambang memasuki Mobil dan Rahma memperkenalkan paman indonesia yang memberinya karikatur Putri Alexandria. Kedua orang tua Rahma memperkenalkan nama dan menyambut hangat selaku saudara Muslim. Rahma semangkin leluasa menghujani  Bambang dengan pertanyaan dari tujuan, orang yang dituju, keperluan hingga kapan kembali dari rumah orang yang dituju. Bambang menjawab satu persatu pertanyaan yang jumlahnya sudah berbentuk jama’ lebih dari dua pertanyaan. Nama latifah teman bambang terucap dari lidahnya.

“paman kenal kak lathifa?” gadis kecil itu mengarahkan bola matanya ke arah mata bambang. Menatap lekat-lekat mengindentifikasi kemungkinan jujur atau tidak jujur. Dan Rahma berhasil.

“aku ingin ke rumah Ustadz ‘izzuddin dan Istrinya Lathifah teman satu pesawat, juga satu sekolah”

“kak lathifah itu?” Rahma mulai berfikir keras,jari manisnya memukul bibirnya berulang-ulang dan akhirnya ia tersentak.

“yah aku punya catatan tentangnya”

“coba seperti apa lathifah menurut catatanmu?”

“kak shafira..kak..hasanah..” rahma membolak-balik catatannya.

“shafiraaa..” seeeerrrrr..entah apa yang memaksa lidah bambang melafazkan nama shafira.

“paman kenal kak safira?”

“ohh..tidak! lampu sedang shafira..lampu kuning” Bambang menunjuk lampu kuning.

“ ini dia lathifa fauziyah kakak yang cantik!”

“Hmmm..” Bambang tak habis pikir anak kecil kepo itu memiliki data yang lengkap tentang orang-orang indonesia terkhusus akhwat-akhwat tangguh cairo. Detekti bukan, CIA juga bukan, mungkin gadis kecil ini berbakat di bidang Jurnalistik.

“kak lathifa, Usia 23 tahun telah menikah dengan Ammu ‘izzuddin telah memiliki satu orang anak perempuan bernama zainab. Wajahnya teduh,murah tersenyum, suka dengan Ice cream, suka traktir teman-temannya ‘ashir manggo, hijab dalam, Mahasiswi yang berprestasi” rahma menutup catatannya.

“apakah diriku juga terdaftar dalam catatanmu Rahma?” Bambang penasaran.

“tentu saja Ammu, aku tidak pernah melewatkannya. Nama Bambang, tidak suka ditanya arti dari namanya, pencinta seni, usia belum diketahui, status sepertinya masih singel, rambut kriting seperti putri Alexandria..hehhehehehh” Rahma tertawa.

“kriting juga ada?” Bambang  terheran-heran.

”maafkan putri kami ammu Dia suka bercanda” Ummi rahma merasa tidak enak dengan Ulah anaknya.

“Mafisy Musykilah Ya Madam..” bambang tersenyum.

Ummi Rahma menjelaskan bahwa mereka tinggal di komplek tempat Mahasiswi Dari Asia terkhusus Indonesia tinggal. Rahma sering bermain dengan mahasiswi Al-azhar dan belajar Bahasa juga hal-hal yang berkaitan Tentang Indonesia.

“Paman pernah ke Borobudur?”

“Dimana itu Borobudur?” Bambang berlagak heran seolah-olah tidak pernah mendengar kata Borobudur.

“itu Borobudur..seperti Pyramid?” Rahma mencoba memberi bambang Gambaran.

“Aku Tidak tahu Borobudur”

“Berarti Paman Bukan orang Indonesia” Rahma manyun dan menutup buku catatannya.

“ohh Candi Borobudur..kalau itu paman tau dekat rumah malahan”

“Boleh Aku ke rumah Paman? Ke Borobudur? Ke indonesiaaa?” Rahma langsung mengambil catatannya dan menulis rumah paman Bambang dekat dengan Borobudur.

“Tentu saja Boleh”

“Ummiy boleh rahma ke rumah paman Bambang?”

“tentu saja..Ibu juga Mau ke Indonesia”

“saya juga” abi Rahma menyahut setelah berjam-jam diam.

“law samah ya Baba..nazil ‘ala gambih” bambang turun dari Mobil

“syukran ya Rahma, madam, baba..salamu’alaikum”

“ma’assalamah Ya Andunisiy..wa’alaikassalam”

“Ammu sampai jumpa lagi!”

“InsyaAlllah” Bambang Melambaikan tangan.

 

Ö   Ö

Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Mencoba melihat sekitar kalau-kalau ada teman yang berkeliaran di hari yang terik ternyata makhluk-makhluk Asia lebih betah di dalam rumah dengan si kipas. Meskipuan wajah-wajah asia terlihat Lengang tetapi wajah-wajah Muslim Afrika terlihat Asyik bermain bola. Sungguh Allah Maha kuasa Atas CiptaaNya.

Pria Asia Berhenti sebentar membeli roti untuk Zainab, tak terlupa wafer coklat kesukaan zainab. Setelah semua beres flat lantai lima ditapaki. Nafas diatur agar stabil keringat di pelipis dibersihkan dengan mandil tisu putih bersih. Bel Rumah Ustaz ‘izzuddin di pencet..twitt-twiitt..entah mengapa bel itu seperti suara burung.

“Ahlan Ya Ammu Thahir? Quwais?” ustaz ‘izzuddin menyambut penuh ramah tama, tak lupa merangkul erat-erat.

“afwan Ustadz..kringetan Nih” Bambang merasa segan.

“Mandi dong..hehe Mafisy Musykilah..yokk masuk..yok!”

“Paman Thahir..” zainab menyambut Thahir.

“zainabbb..kok semangki Cantik, zainabnya” Bambang memberi wafer kesukaan zainab.

“Syukran Ammu”

‘izzuddin dan Bambang bercakap-cakap soal Bisnis Ustaz ‘izzuddin untuk  distribusikan ke Daerah terkhusus kota bagian El-syarqiyah. Bambang terlihat mandtuk-mantuk. Ustaz ‘izzuddin semangkin bersemangat Untuk mendistribusikan barang miliknya.

“Ummiy..disini lagi Musim Kemarau” Izzuddin memanggil istri tersayang.

“iya-iya tunggu biy” istri ustadz menenangkan dua warga yang kekeringan.

Tidak lama datanglah Air dari dapur dua Gelas Jus mangga dingin Asli bukan Kemasan. Terlihat sepesial disajikan dengan gelas ukuran panjang dan dibawa oleh seorang Bidadari bercadar Hanya mata safirnya yang terlihat.

“Diminum Mas Thahir” Bidadari itu Melafaskan kata Thahir panggilan terkhusus Untuk thahir dan hanya orang-orang dekat yang mengenalnya dengan nama Thahir. Indah sekali lafas yang terucap, apa mungkin Lidah wanita itu selalu membaca Al-qur’an sehingga lafas thahir terdengan Suci,bersih. Meskipun orangnya penuh ‘aib dan salah bahkan dosa.

“Engge matur suwun Mbak Yu” Bambang mencoba memanggil dengan kata Mbak yu bila Usianya masih dibawahnya maka wanita itu akan Protes. Wanita biasanya enggan dianggap Tua kecuali Nenek-Nenek yang menyadari dirinya telah Tua. Dan ternyata benar mata safir Milik wanita memakai cadar itu mengarah ke Ustaz ‘izzuddin.

“kang ‘izz” nada itu melemah bercampur tabayyun. Bila kata-kata itu dimaknai secara Ma’nawi tidak dengan Harfiyah maka ma’nanya Kang masak aku dikirain udah mbak-mbak, akukan masih muda, jelasin dong kang, aku Malu kang. Wanita itu kembali ke belakang langkahnya dipercepat. Mungkin saja Ia tidak ingin melewatkan penjelasan Kakang kandungnya ‘izzuddin tentang status dirinya.

“diunjuk her..ojo Isin-isin wes lungo seng ngewei” ‘izzudin melafaskan Basmalah dan meneguk jus mangga Asli.

“Ni’mat sekali Minuman ini” Bambang merasakan enaknya Juz mangga.

“ Ini Buatan Shafira adekku..inget sampeyan?” ‘izzuddin menerjemahkan kata-kata Adiknya shafira.

“ Emmm..” Bambang Manggut-Manggut.

Percakapan terus berlanjut tetapi zainab yang masih kecil nyeletuk dari balik Tirai. “bibik kok senyum-senyum sendiri”

“ssstttt..diem”

“emmmmm..emmmm” suara anak kecil yang terbungkam mulutnya seperti adengan penculikan.

“Ya udah Mas Thaher barang-barang tolong kirimkan ke temanku Amir di Mansurah, mukhlis di Tafahna, eno di Zagazig jangan lupa buat Musthafa yang kotak  Ini. Isinya perlatan jalan-jalan”

“InsyaAllah Nyampek Ustadz”

“Syukran Ya Her..”

“Afwan Ustadz”

“o iya Ustadz Ni Ada Karikatur Untuk Zainab” gambar putri Alexandria diberikan kepada Ustadz ‘izzuddin.

Ö   Ö

 

 

 

 

 

[1] Paman

[2] Ada apa gadis kecil imut. Katkut berarti anak ayam yang masih kecil lucu-lucunya.

[3] Mawaddah:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s