Kembali Ke Surau

  1. BUNG HATTA DAN BUKIT TINGGI

Kali ini tentang kota Bukit Tinggi dan tokoh Muhammad Hatta, banyak hal yang perlu diliput dari seorang Muhammad Hatta. Dari  Nasionalisme terhadap Nusantara hingga kepiawayannya dalam melewati fase perjuangan dikursi perpolitikan melawan penjajah.

itulah Bung Hatta! aku memanggilnya dengan bangga seorang  pahlawan dari minang yang bersahaja lagi mulia, jujur,rasa nasionalisme tinggi itulah karakter orang Nusantara dan yang paling penting Bung Hatta  pulang dari Eropa tidak menjadi  Hatta baru. Ia tetap menjadi Bung Hatta yang cinta tanah air.

diantara  kecintaannya terhadap Nusantara ketika Hindia Belanda datang  keduakalinya dengan memboyong Coin-Coin Hindia Belanda Bung Hatta dengan bangga mengeluarkan Uang Rupiah dan menyerukan “ Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah soeatoe hari jang mengandung sedjarah bagi tanah air kita. Rakjat kita menghadapi penghidoepan baru  Sejak moelai besok kita akan berbelanja dengan oeang kita sendiri, oeang jang dikeluarkan oleh Repoeblik kita sendiri ” Menjadi diri sendiri, menjadi orang Nusantara suatu kemulian baginya.

Matahari mulai condong ke arah  barat cahaya jingganya seperti lukisan alam yang tidak ternilai harganya, sungguh pemandangan yang menakjubkan betapa tidak cahaya jingganya menghiasi alam semesta menawarkan pergantian siang ke fase kegelapan malam. Aku mulai  menggeser kursi plastic berwarna merah ke arah kanan dengan harapan ada pembeli yang duduk menemaniku bercerita tentang kota ini. Sebagai pendatang baru pemandangan kota ini memiliki keunikan tersendiri.

“ silahkan ..“ kata seorang penjual martabak, Ia menyodorkan martabak ketan hitam manis kehadapanku. Tanpa basa-basi martabak ketan itu kunikmati perlahan, lalu-lalang kendaraan sepeda motor dan sesekali bendi dengan hentakan kaki kuda memalingkan wajahku kearahnya. Namun, Bendi terus melaju meninggalkan gerobak martabak juga meninggalkanku.

“ Ala Lamo Tingga Siko da?[1]

Aku mulai mengaplikasikan bahasa setempat dengan dialek Sumatera Utara yang sulit untuk aku padukan dengan dialek setempat. Uda penjual martabak mulai berinteraksi denganku sambil membolak-balik martabak yang baru saja diangkat dari Loyang pembakaran. Seperti biasa setelah martabak diangkat dari Loyang martabak berbentuk bulat itu dilipat dan membaginya ke empat potong bagian.

 “ Agih Ciek Kacang ![2]

suara pesanan ketiga seorang ibu yang baru saja berbelanja bumbu dapur memesan martabak, pembicaraan kami terhenti. pembeli semangkin ramai dengan basa-basi aku berpamitan sambil mengulurkan Empat Ribu Rupiah dari saku celana levisku. Aku berjalan meninggalkan gerobak martabak menuju sebuah rumah unik. bangunan rumah tersebut bermatarial kayu, pagar yang menggelilingi halaman rumah berwarna abu-abu terlihat  sedikit kusam. Dan disamping rumah kayu itu berdiri penjual cincau  dengan gerobak serta dua kursi plastic yang tersedia.

” Pas Banget! Lagi Pingin Coba  Nih”Langkah kaki aku percepat dan memesan satu gelas cincau, kenikmatan cicau dan rasa jeruk nipis. minuman ini mulai   meninggalkan uniknya rumah kayu.

“ Segar Sekali Cicaunya Uda?” Aku mencoba mengajak penjual minuman untuk berinteraksi, Uda mulai berbicara denganku sambil meladeni para pembeli.

 ” Iya itu buatan adik saya, adek saya memang ahlinya buat cincau sedangkan uda cuman meracik! Dari mana kamu sepertinya bukan asli sini?”  Penjual cincau ingin tahu.

”Ooo aku dari Sidempuan! sengaja datang ke kota ini untuk jalan-jalan sambil belajar sejarah uda”. Penjual muniman cincau mulai sibuk dengan para pembeli, Beberapa bungkus cincau dipesan oleh seorang pemuda yang baru pulang dari kerja bangunan. keringat pemuda kekar itu masih membasahi jaket yang dipotong dibagian lengannya otot yang merengkel-mrengkel kata orang jawa terlihat begitu nyata. dalam hati aku mulai berfikir kapan bisa maco seperti uda pekerja bangunan itu.

“ Maaf Banyak Pembeli, Ngak Apa-Apakan ? “

“ Ohhh gak apa apa uda, biasa saja saya juga mau pamit mau jalan kekos-kosan dulu. Bara da ? cincaunyo..” aku menirukan pembeli sebelumnya.

 “ Duo ribu se”, penjual itu tersenyum kepadaku. Aku ulurkan dua ribu rupiah uang kertas dan pamit menuju ke kos-kosan.

“ Buku murah, buku murah, buku rancak nan murah! Tigo limo ! buku rancak nan murah! Tigo limo” penjual buku itu mulai menawarkan buku Biografi Muhammad Hatta dengan suara lantang. Ia berdiri diperempat jalan yang tersedia lampu merah hijau kuning sebagai rambu-rambu lalu lintas.

Dan disaat lampu merah menyala sipenjual buku mulai menjajakkan buku biografi berwarna kuning. Seorang bapak berpeci hitam menggendarai mobil berwarna putih  meraih buku Muhammad Hata dan memberikan lima puluh ribu rupiah tanpa ingin kembalian dari sang penjual.

lampu merah mulai redup berganti hijau sipenjual beralih duduk di kursi kayu dan menghitung hasil penjualannya. Disamping kursi itu tergeletak satu buku yang belum terjual. Aku menghampiri penjual buku dan mengadakan penawaran kepadanya.

“  Berapa Harganya Bang?”

“Udah sama kamu Karena Terakhir Tiga Puluh Aja!”  Penjual itufokus dengan lembaran-lembaran uang kertas miliknya.

“ Dua Lima Saya Ambil Bang!”

“ Ya udah dua limapun jadi tapi doakan supaya dagangan buku abang laris besok!”

“ oke bang aku doakan terjual tanpa sisa besok bang! Alhamdulillah dapat diskon “

Dalam perjalanan pulang aku berfikir betapa mulianya abang penjual buku untuk buku terakhirnya ia beri aku diskon hingga Sepuluh Ribu Rupiah, Ya Allah wa ya razzaq lariskan dagangan abang penjual buku tadi..amin.

 lampu-lampu tortoar mulai bersinar cahayanya menerangi jalan aspal mulus. Sesampai disimpang aku berkelok menuju masjid menunaikan ibadah shalat yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Saat jamaah mulai berdiri lurus dan merapatkan shaf aku berdiri bersama jama’ah lainnya aku bergegas memenuhkan shaf pertama, aku pernah mendengar seorang ustadz Alumnus Al-Azhar Al-Syarif  memberikan Tausiah diacara Mauludan dikampungku waktu itu Ustadz menjelaskan keutamaan shalat kemudian menyinggung tentang shaf.

 Rasullullah Pernah Bersabda “ Sebai-Baik Shaf Kaum Pria Adalah Shaf Pertama”

“ Allahu Akbar “ suara Takbir Al-Ihram dikumandangkan Pak Imam.

Aku mulai mengangkat kedua tangganku sejajar dengan telinga. aku sebut Sang Maha Besar dengan bertakbir “Allahu Akbar” malam itu Matahari terlelap untuk sesaat cahanyanya yang terang benderang digantikan cahaya Bulan dan Bintang, Alam terasa lebih dingin dari sebelumnya hiruk pikuk manusia dan lalu lalang kendaraan terhenti sesaat. hanya binatang-binatang malam terdengar bersorak-sorai.

 

۞      ۞          ۞

 

 menjelang keberangkatanku ke kota padang untuk menggali ilmu di Universitas Negeri Andalas di puncak Bukit Limau Manis katanya. terlebih dahulu  aku menikmati keindahan kota  kelahiran Bung Hatta. Langkah kaki terus mengantarku ke perempatan.berdiri seorang pemuda memakai jelana jeans baju kaos panjang ada sapu tangan yang digantungkan disaku belakang miliknya. cepat ku hampiri pemuda bertopi pandan itu.

“ Bang?Menurut Buku Ini DiSekitar Sini Ada Rumah Bung Hatta Apa Benar? “ Aku mencoba mengingatkannya dengan buku yang kemarian aku beli darinya. Namun siabang justru berlari bergegas menjajakkan dagangannya, kali ini ia mengalami masa-masa laris manis ia menjajakan dagangannya dikala lampu merah menghentikan deretan mobil, sepada motor,odong-odong,juga becak yang terpaksa berhenti karena terjepit ditengah-tengah kendaraan, dan benar tiga buku miliknya laku terjual. beberapa menit ia kembali untuk menjawab pertanyaanku,

“ Maaf dek abang ngejar durasi lampu merah, pertanyaan kamu tadi apa?” Abang penjual buku itu meraih buku yang aku beli kemarin.

 “ Ooh bung hatta ? Rumahnya Maksudnya? Tu di samping Masjid Jalal! jalan terus nanti ada rumah berwarna abu-abu kayu nah jangan basa-basi masuk saja di sana sudah ada penjaganya tinggal masuk, jangan lupa baca salam ya dek!” Belum sempat aku mengiakan kata abang penjual buku. Ia kembali berlari menjajakan buku-bukunya kepada para pelanggan yang memang suka membeli buku dagangannya.

Aku terus melangkah menuju Masjid Jalal Muhammadiah, melewati tourtoar keramik coklat berpasir, menapakkan sepatu king Eriger yang sudah bolong di ujung tumitnya, mengayunkan pergelangan tangan sambil bersiul-siul menirukan lagu milik gisel kau pencuri hatiku.

Disebrang jalan melintas seorang siswi SMA berpakaian putih bersih memakai hijab mengendarai motor metic melaju kencang menuju ke sekolah. Namun metik yang terkenal lincah itu harus berhenti mendadak ketika mobil Evanzy melintas di hadapannya.

“ BRAAAKKK”

 tubuh gadis kecil itu terpental dari motor metiknya. Pengendara Evanzy langsung mengajakku menolong gadis kecil yang terpental tiga meter di  hadapanku tanpa pikir panjang aku mengangkat gadis kecil yang berlumuran darah menuju mobil milik seorang pekerja kantoran.

Nafas gadis itu masih terasa saat jari manisku menyentuh hidungnya yang berlumuran darah hijab putih itu telah berubah warnanya. Mobil terus melintas menuju Rumah Sakit. Para perawat sibuk menyambut tubuh gadis kecil, kuserahkan perlahan tubuh gadis kecil itu dan tangan kanan gadis kecil itu masih meraih tanganku erat-erat. kubisikkan di telinganya kalau ia akan baik-baik saja..tangan berjemari lentik  perlahan melepaskan genggaman tangannya yang halus terasa.

“ Bagaimana dok ? Bagaimana Anak Saya ?” seorang ibu terlihat khawatir melihat anaknya masuk ruang gawat darurat.seorang dokter mencoba menenagkan ibu berhijab lebar, dengan perlahan tenang dan tegas bahwa anaknya Silvia baik-baik saja. “Insyaallah ia selamat kita berdoa agar Silvia segera sembuh”.

Aku mencari-cari bapak pengendara , dan sibapak telah pergi entah kemana tiba-tiba saja aku didatangi dua polisi berpakaian rapi lagi terhormat.

 “Selamat siang bapak!” Polisi itu mulai berinteraksi dengan bahasa yang sudah aku pahami siang pak polisi,

“Tolong ikut kami untuk introgasi, silahkan!” tanpa borgol pak polisi mengantarku ke mobil Mithsyabisiy yang  dimodifikasi menjadi kendaraan tahanan.

” Ya Allah Apa Yang Terjadi Denganku Hari Ini? Aku Hanya Berserah Diri Kepadamu Ya Allah”. Mobil terus melaju meninggalkan rumah sakit dan menuju kantor polisi.

Proses introgasi telah menetapkan kalau aku tersangka kasus tabrak lari, sel tahanan mengurungku selama satu jam tanpa makan dan minum hanya  berdoa kepada Allah agar kebenaran selalu tertolong. dan doaku diijabah olehNya keluarga Silvia menemuiku dan menyatakan pernyataan yang sebenarnya kepada pihak kepolisian berdasarkan keterangan Silvia yang sudah siuman. ibu silvia berharap agar aku menjenguk anaknya.

“ Bagaimana Silvi? ” aku mencoba tersenyum setelah menikmati indahnya kejujuran.

“ Alhamdulillah isil sudah mendingan kak Muhammad Natsir?” Silvia mulai berbinar-binar ketika meraih dan mengembalikan buku Muhammad Hatta miliku.buku itu terselip di tas sekolah milik Silvia yang diamankan oleh kepolisian. pada sampul depan halaman pertama namaku tertulis dengan tinta hitam Muhammad Natsir nama yang diberikan kakekku saat aku masih kecil. dulunya namaku Bastian mendengar nama Bastian kakek kurang suka dan mulai memanggilku Natsir kecil. Kata kakek kepada ayahku kakek ingin aku menjadi  seperti Muhammad Natsir.

“ Terima kasih kak sudah menolongku. Suara itu masih terdengar lirih”

“ Terima kasih kepada Allah yang menggerakkan hatiku, saya doakan isil cepat sembuh amin.” ibu silvia mulai menawarkan   minum kepada gadis kecil. Aku berpamitan kepada ibu dan ayah silvia yang sedang sibuk menawarkan makanan dan minuman kepadanya namun Ia masih terdiam dan melepas kepergianku.

Aku terus berjalan melintasi tortoar dan menenangkan diriku diHalte sambil memuji Allah Al-Hamdulillah, Al-hamdulillah, Alhamdulillah, Al-Hamdulillah..hingga pujian itu menenagkan hatiku. Pagi itu terasa begitu singkat matahari sudah berada diatas kepala. aku tidak tahu didaerah mana diriku kali ini. hanya mobil angkutan umum berwarna merah yang melintas mengingatkanku akan kos-kosan.

  kembali berjalan di gang-gang untuk mencari Masjid. Berwudu dan membersihkan darah Silvia yang melekat di pakaianku, darah itu mulai mengering. mencoba membasu legan jaket hitamku yang berlumuran darah. mebersihkan perlahan darah hingga jaketku terlhat bersih. Kedua tanganku menghempaskan beberapa kali untuk menebarkan air yang masih membasahi lengan bagian kanan jaket, perlahan jaket hitam terbentang di pagar bagiab belakang Masjid Al-Hidayah.

sambil menunggu jamaah datang melaksanakan shalat zuhur..Aku SMS No Hp silvia yang ditulisnya di sampul bagian depan buku bersampul kuning Muhammad Hatta.

“ lks sembh cahaya ilmu rindu menunggu kehadiranmu, klu dah sembuh jgan lupa hadiri acara Maulid Nabi di Masjid Al-Hidayah  kamis 24 januari 2013 dengan ustadz Muhammad Al-Fatih lmengusung  Tema Belajar Dari Seorang Mua’lim Qala  Shallallahu ‘Alai Wasallam: Innama Bu’isttu Mualiman

Thit thit! thit thit! Hp Nokia 1100 milikku merengek-rengek ingin diangkat, ya sudah ku angkat eh ternyata sms silvia..

“ InsyaAlllah kak Natsir.. ana datang J”

24 januari 2013

 

۞      ۞          ۞

  1. MENANAM SEBATANG JATI DIRI

Hujan mengguyur padang panjang begitu lebat. Lereng-lereng  bukit  mulai terkikis dan runtuh. Reruntuhan tanah bercamur bebatuan serta tanah liat yang jatuh dari bukit menghambat lajunya kendaraan dan mengakibatkan kemacetan.

kejadian itu menggerakkan hati seorang dosen Universitas Islam untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada mahasiswa yang Ia bimbing. Sebagai dosen pembimbing di bidang Tafsir Tematik Dr. Muhammad Ali syarif mengamalkan Tadabur Alam dengan memboyong mahasiswa semester Delapan untuk menanam pohon di sepanjang jalan Kota Padang menuju Padang  Panjang hingga Bukit Tinggi.

Bibit-bibit pohon tersebut langsung di datangkan dari Fakultas Pertanian Universitas Bukit Limau Manis. mendengar gerakan penanaman pohon di sepanjang jalan Padang, Padang Panjang hingga Bukit Tinggi. para mahasiswa pemerhati lingkungan Fakultas Pertanian dan Kedokteran mengikuti program penghijauan tersebut.

kondisi alam yang mulai tidak seimbang diiringi berbagai musibah seperti Banjir Galodo yang melanda Sumatera Barat menggerakkan hati  manusia yang cinta lestariannya alam berbondong-bondong menanam pohon. Di antara puluhan mahasiswa yang berpartisipasi menanam pohon adalah Silvia Mahasiswi kedokteran yang meluangkan waktunya untuk bergabung dengan para pemerhati lingkungan.

Jika melihat penampilannya tentu rekan-rekan yang belum pernah melihatnya  akan tercengang dengan hijab yang dalam serta gamis yang membalut auratnya tanpa cela. Ia memberanikan diri untuk bergabung dengan pemerhati lingkungan hidup. Pakaian itu tidak menjadi penghalang bagi Silvia untuk mengikuti gerakan peduli lingkungan yang dipelopori DR. Muhammad Ali syarif.

Mobil truck bermuatan mahasiswa dan bibit pohon berhenti disebrang jalan warung Sate Amak Lamak. Bibit-bibit  direlokasi menuju bukit yang minim pepohonan dengan peralatan seperti cangkul dan semisalnya. para pencinta alam beraksi sesuai instruksi pimpinan kelompok mereka.

 Proses penanaman pohon di lereng bukit memang cukup melelahkan perjalaanan menuju pebukitan cukup menguras energi tanpa terkecuali Pak Ali, keringat sebesar biji semangka menggelinding dari pelipis pak Ali. Namun itu semua bukanlah penghambat untuk berhenti menanam pohon, justru keringat itu menambah Energi Bathin.

 pak Ali mulai menghirup udara pebukitan dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Udara yang baru saja dihirup menimbulkan kesyukuran kepada Allah Maha  Pencipta. matanya terpejam  membayangkan akan anak cucunya kelak menikmati udara seperti nikmatnya udara yang ia hirup.

“ Pak Ali Masih Ada Bibit Yang Tersisa? “ seorang wanita berhijab  terlihat bersemangat mendatangi pak Ali dan meminta sisa bibit pohan.

“ masih Nak, Tolong Yono Kamu Berikan Bibit-Bibit Itu” dengan sapaan yang menghubungkan ikatan batin layaknya orang tua dan anak. pak Ali menanggapi silvia dengan baik.

 

Mahasiswa bernama Yono bersegera memberikan bibit-bibit kepada wanita cantik di hadapannya, wajah yang terlihat berseri-seri dan lesum pipit di pipinya  menggetarkan badan Yono. saat pria keriwul menyerahkan bibit pohon dari keranjang rotan. Silvia langsung meraih bibit pohon  dan menundukkan pandangannya. Hijab hijau itu terlihat indah seindah pemandangan Alam padang panjang.

“ Yono Cepat Kemari Ngak Baik Lama-Lama  Nanti Kamu ngulundung“

“ Wahh Saya Lagi Menikmati Pemandangan Alam Dan Indahnya Air Terjun Lembah Anai Pak “ Yono mulai menggerakkan badannya kekanan dan kekiri.

“ Oohhh Bagus Kalau Gitu Yon, Bapak Pikir Kamu Gemetar  Mau Jatuh..Ya Sudah Sini Kita Lanjutkan Pekerjaan Kita” pak Ali memikul caangkul dan berjalan menuju keatas bukit.

“ Waduhh…tunggu pak! Tunggu” yono pemuda berambut kriwul kulit sawo matang itu mulai mengejar dosen pembimbingnya.

“ Yon mengapa Alam rusak?” pak Ali mengajak yono berdiskusi sambil menggali tanah dengan cangkul.

“ siapa lagi kalau bukan manusia pak! yang seenak udelnya sendiri, tebang hutan sembarangan?” yono mencibir dan  terlihat penasaran dengan pertayaan pak Ali.

“ Betul..dalam Al-Qur’an telah difirmankan bahwa timbulnya kerusakan didarat dan dilautan akibat ulah tangan manusia! menurut kamu hanya umat sekarang? atau umat terdahulu juga melakukan hal yang sama?” pak Ali kembali bertanya.

“ Waduh saya kurang tahu pak ? “

“ nah makanya kalau ada mata kuliah bapak jangan bolos, ya diikuti Insyaallah ada manfaatnya”  Pak Ali kembali memadatkan tanah disekitar bibit pohon yang baru  ditanam.

“ Insya Allah pak saya jadi merasa butuh dengan Al-Qur’an”

“ Bapak tunggu kamu Yon “

 “ kita tidak sekedar menanam jatitapi kita sekarang menanamkan jati diri agar peduli lingkungan”

“ MAKAN SIANG DULU PAK”

suara  teman-teman Yono memanggil Pak Ali.  mereka  terlebih dahulu membentang tikar dan membuka nasi bungkus yang masih mengepulkan uap hangat pertanda nasi masih baru dipindahkan dari rice cooker. Dengan lauk ikan tabek dan Pucuk Paranci kata orang setempat serta kuah gulai lamak menambah kelezatan masakan.

Yono dan pak Ali turun perlahan menuju kerumunan mahasiswa dari berbagai Fakultas. terlihat mahasiswa pertanian mengantarkan lalapan seperti timun dan salada kepada rekan-rekan mahasiswa Universitas Islam dan disusul oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran membagikan sayur. Yono tidak ingin ketinggalan Ia bergegas membagikan air mineral dari kardus.

“ Silahkan Dek !”  Yono mempersilahkan silvia

“ Syukran Mas ” Silvia mengambil air mineral yang disuguhkan.

“ Yon..Yooon ingat sama Desi dikampung???? “ Rahmat teman satu kampung  nyeletuk menggagalkan aksi.

“ RAHMAAAT Bisa kecilkan Volume Radio Bodolmu “ Yono sedikit kesal

“ Hahhahahahha,hahahhahah” gelak tawa teman-teman yono menggelegar.

Makan siang terasa begitu nikmat, proses makan siang yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.kemarin makan siang mereka diwarung kampus dengan berdesak-desakan. Tetapi saat ini makan siang mereka  berada di Alam lepas dibawah pebukitan dengan gemercik air yang menetes dari akar-akar pohon yang mejulur. Udara sejuk dan alamnya yang dingin menambah selera makan siang. Nyam..nyam..

 

۞      ۞          ۞

 

Ibarat nasi sudah menjadi bubur maka santan dan gula merah dimasukkan kedalam kuali. seperti itulah petuah orang Nusantara untuk mengambil suatu ibrah dari sebuah kejadian. Disiang bolong Natsir mulai membolak balik makalah yang telah dipresentasikan dikampus. point-pont pertanyaan yang belum terjawab dengan baik ia catat sebagai bahan evaluasi. Sambil mendengarkan radio ia terus menulis hal-hal yang dianggap penting.

“ Mas lagi ngapain serius banget?” teman satu kos Natsir menyapa sambil membawa minuman dingin.

“ ini lagi evaluasi makalah punyaku banyak yang dikritik!”

“ Hallahh ..Jangan Diambil Pusing Mas! Minum dulu biar seger “

“ Suwon Yon, juz pokat tho iki?” Natsir menirukan gaya ngomong yono anak Fakultas Ushuluddin yang medok jawanya.

“ oolloo dogan, minum aja jangan banayak Tanya” yono memperbaiki posisi kursi dan mulai berkisah tentang dirinya yang bertemu dengan seorang akhwat.

“ Akwat apaan itu yon! Yang ndak-ndak aja kamu ini” Natsir mulai bingung dengan bahasa baru yang dilontarkan yono.

“ Itu lho sir akhwat..kha kha..bukan akwat itu wanita yang seperti orang arab itu?” yono tambah nyrocos mendeskripsikan akhwat sebisa mungkin.

“ Diapain Kamu Sama Dia ? , Mahasiswi Mana Akhwat Itu ?”  Nasir mulai bosan dengan akhwat yang diceritakan yono.

“ Ngak Seru Sampean Mas Gak Bisa Diajak Curhat!” yono bergegas meninggalkan Nasir yang lagi pusing mencari-cari jawaban yang tepat.

“ Ehhh Malah Ngambek !! Udah Sini Cerita..Eiyy  Nih Gelas Kosong Jangan Ditinggal!” Natsir geleng-geleng kepala melihat Yono nesu.

 

Matahari yang terik diatas kepala. udara kota padang yang mulai membakar tubuh terkadang juga membakar emosi seseorang. Nasir tambah pusing dengan cerita akhwat yang membawa beban temannya. Ia keluar mencari kehidupan diluar kos-kosan. Dengan mengendarai motor Ia menelusuri jalan aspal menuju simpang mangga.

D i simpang ia menepi menghampiri gerobak cincau yang ada di bawah pohon mangga. Seperti biasa penjual langsung memberikan segelas cincau.Cincau segar mengingatkan  Kota Bukit Tinggi, kesegarannya mamapu meredakan masalah-masalah kecil yang diemban Natsir.

 “Ayooo hahha kkwaakkka “ riang tawa anaka-anak penjual Koran menyerbu mobil-mobil yang lagi menunggu lampu hijau.

Anak-anak penjual Koran terlihat berlarian ke sebrang jalan tertawa kegirangan. Mobil Mitsubitsi Pajero menepi di sebrang jalan. seorang wanita berbusana rapi memakai hijab biru langit gamis yang serasi dengan hijabnya keluar dari mobil berwarna putih. Tanpa basa-basi ia memesan sepuluh bungkus cincau. Sambil menunggu wanita berhijab itu Membuka SMS.

“ Duduk Dulu Dek! ” Nasir mempesilahkan kursi kayu di sampingnya.

“ Terima Kasih Kak ” suara itu mereview kenanagan tiga tahun silam, suara lembut yang tak pernah terkikis dari memori Nastir.

“ Tiga Puluah Sadonyo”

“ Iko Da Pitinyo, Tarimo Kasih” wanita berhijab itu mengulurkan tiga puluh ribu rupiah dan berpamitan meninggalkan Nasir yang terlihat penasaran dengan gadis cantik berhijab.

Mobil Putih melaju perlahan dan menghampiri anak-naka penjual Koran untuk membagikan cincau. lambayan tangan kepada anak-anak terlihat begitu akrab. Kali ini cincau yang di pesan Natsir meninggalkan sisa. bergegas menancap gas memastikan wanita berhijab yang ada di dalam Pajero.

Laju mobil putih itu semangkin kencang hingga lampu merah memaksa mobil itu berhenti sejenak bersabar mempersilahkan mobil-mobil lainnya untuk beranjak. Saat lampu hijau menyala Mobil Pajero melintas ke arah kanan. perlahan memasuki gerbang Masjid Jami’ yang terkenal megah di kota padang.

Masjid berjonjong menara yang menjulang tinggi,ukiran-ukiran berkelok-kelok. ada yang berbentuk daun dan ada pula ukiran unik khas rumah adat, ukiran-ukiran di setiap sudut Masjid menampiklan nilai seni dan budaya Minang Kabau yang sangat tinggi.

Mobil pazzero merapat di areal parki. wanita berhijab melangkah terlihat santun penuh adab memasuki pintu  Masjid Jami’. untuk mengikuti pengajian ilmu Syar’i Seperti Fiqih, Tazkiyah Al-Anfus, Tahfizh Al-Qur’an Dan Al-Ahadist Al-Nabawiyah.

Ternyata bukan wanita berhijab itu saja yang meluangkan waktunya untuk belajar ilmu syar’I. ibu-ibu perumahan juga menghadiri pengajian mingguan yang dikoordintori oleh Alumnus Timur Tengah baik itu dari Jami’ah Islamiyah Di Madinah, Al-Azhar University di Mesir, hingga Jami’ah dari sudan. Nastir tidak tabu dengan pengajian mencoba menikmati siraman Ruhani dari para Ustadz.

“ Assalamu’alaikum warah matullahi wabara katuhu”.

Ustadz Muhammad Al-Fatih duduk dikursi. meja bertaplak coklat dan diatasnya tersedia air mineral dan kitab Al-Akhlaq Fi Al-Qur’an Al-Karim.

” Wahh Ustadz Al-Fatih”. Natsir mulai serius mendengarkan ceramah agama, sudah tiga tahun ia tidak ketemu dengan Ustadz Fatih.

“Dalam kitab ini dijelaskan, bahwa al-Qur’an adalah pedoman kaum muslimin”

 Begitu panjang lebar penjabaran Ustadz Fatih hingga jarum jam menunjukkan pukul 15.12 WiB. Natsir bergegas menuju tempat berwudhu air yang segar mengguyur wajah Natsir berlahan mendinginkan tubuh yang membara terpanggang asmara. Asmara itu mereda untuk sejenak kini hati disirami oleh Akhlak Al-Qur’an.

“ Ustadz Muhammad fatih ” Nastir menyapa dengan wajah semringgah.

“ Iya Ana Fatih, Antum Siapa Ya Afwan Ana Lupa Akhiy” Ustadz  lupa dengan nama Natsir tapi cara penyambutannya sangat akrab.

“ saya Natsir Ustadz!, aku Kos Dirumah Paman Ustadz”

“ Afwan Ya Habibiy, ana lupa antum yang suka main ke pasar ataskan? Ya salam sudah dewasa antum ya Muhammad Natsir..masih rajin cari buku loakan? “

“ Masih Ustadz, Oiya Ustadz Bisa Minta Nomor Handphonnya ?”

“ Tafadhol Akhiy” pria berkopiah merincikan satu persatu nomer miliknya.

            “ Ana Kesini Dulu Akhiy Mau Ketemu Sama Ustadz Ridwan Tunggu Ya? Nanti Ba’da Asar Kita Ngobrol Lagi”.

“ Silahkan ustadz!”

ibadah shalat asar dilaksanakan, dzikir-dzik serta tahmid membasahi bibir Natsir. tanggannya menengadah meminta dan memohon ampunan kepada yang Maha Pengampun.

 “ ya rabbiy lakalhamdu walaka assyukru, Allahummagfirli yarabb”

Jama’ah bersiap-siap keluar Masjid, begitu pula Natsir yang bergegas menuju pintu langkahnya cepat. Melihat langkah yang begitu cepat Ustaz Fatih menegur dengan sopan.

” Ada Apa Natsir terlihat Terburu Buru?” Natsir menoleh dan mengatakan yang sebenarnya kalau ia ingin mencari seseorang  yang selama ini  dicari.

Mobil Pajero berwarna putih telah meninggalkan pagar Masjid. langkahknya tiba-tiba melambat di hela nafas dalam-dalam wajah penuh raut kesedihan memandang  nomer plat BA yang masih meninggalkan kenangan.

“ Mungkin bukan saatnya aku dipertemukan Allah dengan wanita berhijab”.

 

۞      ۞          ۞

Gelembung-gelembung cinta berterbangan diudara, semilir angin  menyapa kehadiran pemuda berambut hitam yang duduk menopang kaki diatas potongan besi, jembatan Siti Nurbaya. Ia memandang panorama kapal-kapal kayu yang singah sementara didermaga Teluk Bayur menunggu angkutan barang.Angin membawa gelembung-gelembung cinta mengudara mengingatkan gadis kecil bernama Silvia.

” Tuhan Apakah Ini Hembusan Cinta ?” Natsir Mulai Bertanya-Tanya. Nama silvia adalah nama gadis pertama yang ia kenal saat dirinya menginjakkan kaki diRanah Minang. Sangat sulit untuk melupakannya dari cara berterima kasih hingga bahasa matanya hingga saat ini belum mampu untuk diterjemahkan. Teluk bayur memang tempat yang nyaman untuk menenangkan hati yang sedang galau dari hembusan angin yang semilir hingga pemandangan  unik serta khas dagangannya yang beraneka ragam.

Angin tak berhenti menyapa Natsir, hingga ia beranjak dari pipa besi jembatan kemudian berdiri merentangkan tangan lebar lebar. Merenggangkan jemari dan menghadap kapal-kapal yang sedang santai. Gumpalan awan mulai menurunkan hujan dan Angin  semilir membawa titisan hujan berhamburan.

 rintik-rintik seperti tetesan jarum yang jatuh dari langit. Natsir melompat dari pipa besi dan kembali mengendarai Sione Hart CiBi R. roda kendaraan melintasi aspal yang diguyur rintikan hujan. Melintasi beberapa tikungan dan melaju meninggalkan Jembatan Siti Nurbaya. roda dua motor 250 cc itu  Melaju dan menuju kediaman Natsir.

 

۞      ۞          ۞

 

  1. KEMBALI KESURAU

Sebagai pemerhati linkungan dan keruhanian masyarakat pak Ali syarif memberikan sebuah kajian tentang urgensi surau dan generasi yang bermoral serta berbudaya. Kali ini beliau memberikan ceramah di Mushalla Dar al-salam, sebuah surau tua yang masih didatangi oleh masyarakat setempat. Musallah ditepi lereng gunung pangilun yang konon Musallah tertua dikampung itu. Surau yang dihuni oleh seorang garin. Pak Ali mulai menyampaikan urgensi surau bagai masyarakat. Sesi pertanyaan tentunya menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat.

Hingga pukul 22.30 pak Ali masih berda di surau  ia berdiskusi dengan muridnya dikampus yang berpropesi sebagai seorang garin. Garin jama’ah memanggilnya ia adalah  penghuni kamar kecil yang disediakan oleh pengurus Mushalla bagi siswa atau mahasiswa yang ingin tinggal dan mengerjakan tugas selaku penghuni Mushalla. dari bersih-bersih pekarangan Mushalla hingga mengajar anak-anak membaca iqra’ serta  rutinitas adzan dan imam yang memang menjadi tugas utama seorang Garin.

“ Nak kamu manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa tuamu!” pak Ali menasehati pemuda berlebel garin agar hidup bermanfaat.

“ saya bisa apa pak untuk umat ini? Saya hanya bisa ngajar ngaji anak-anak pak dosen?” pemuda yang memang bertipe rendahan itu mengutarakan isi hatinya.

“ nah itu dia yang bapak maksud ngajar ngaji itu sudah membantu umat ini untuk menegakkan moral berbasis Al-Qur’an “ Pak Ali terlihat begitu semangat

Garin berpeci hitam hanya mendengarkan pak Ali Syarif memberi amunusi ruhiyah kepadanya, sambil manggut-manggut ia teringat nasehat kiyai Ahmad  dijawa sebelum ia merantau ke minang kabau untuk studi di universitas islam. Pertemuannya dengan pak dosen seperti pertemuan kedua kali dengan mbah kiyai yang selalu mengajarkan ilmu manfaat. Malam dengan angin gunung yang dingin menggerakkan hati pak Ali untuk kembali ke perumahan yang tidak jauh dari Musalla Dar-Alsalam. Garin berpeci mengantar dosen mata  kuliah tafsir hingga halaman musallah, tak lupa pak dosen menyelipkan amplop yang diberikan pengurus kepadanya.

“ Ndak Usah Pak Lai Ado Piti Ambo “ dengan bahasa minang bernada jawa garin Musalla menolak pemberian Pak Ali.

“ sudah mas  kamu butuh uang transport ke kampus..ini hadiah dari bapak” Pak Ali tersenyum dan memasukkan amplop disaku koko garin Musalla Dar Al-Salam.

Malaikat kebaikan selalu mencatat kebaikan dari anak adam begitu pula syaithan yang selalau menggoda manusia agar berpaling dari Sang Khaliq. mas garin yang terus mendoakan pak dosen agar diberi kelapangan rezki, nikmat kesehatan dan dipanjangkan umurnya oleh Allah. Amien. Angin semangkin kencang berhembus, suara air yang gemericik memenuhi  penampungan. Malam telah menghitam hanya bintang dan cahaya lampu perumahan yang terlihat terang gemerlapan. pohon-pohon pinggir gunung terlihat melambai-lamabai menyapa manusia yang berkeliaran ditengah malam. Suara anjing melolong dan terus melolong. Sang garin memasuki kamar ukuran tiga kali dua meter untuk kembali menulis, dengan kopi panas yang selalu setia menemani disetiap malamnya.

 

۞      ۞          ۞

Anjing menggongong dengan suara yang menakutkan. Suara  rintihan anjing betina karena diserang pejantan yang tak kenal lelah demi mendapatkan tujuannya dimalam hari, suara itu akhirnya berhenti sekejap dan disusul kembali oleh suara anjing kecil yang merintih kesakitan entah kenapa? Malam serasa sepi hanya udara dingin yang mulai menyapa. dengan bersahabat ia menerobos cela-cela tiraiku melalui ventilasi yang mengangah tak  tertutup dengan rapat. hembusannya yang dingin memecahkan keheningan malam. pena terus berselanjar diputihnya kertas. Tangan kanan kembali mengangkat gelas hijau dan pemilik pena meneguk kopi hangat  setengah gelas. Serasa dunia tidak berpenghuni namun, suara jangrik mulai terdengar dan suara detik jarum jam memperkenalkan diri dimalam yang sangat sepi ini.

Sangat malu bila pena bertinta hitam ini menuliskan kecantikan seorang wanita idaman tanpa memuji kekuasaan penciptaNya. Seperti biasa penah kenagan ini mulai rajin menulis tentang kepribadiannya yang sulit untuk dilupakan. Tutur kata yang lemah lembut lagi sopan, cara berjalan yang begitu anggun hingga kehebatannya dalam bersosialisai untuk solidaritas sesama umat manusia. Ketika pemilik pena menghadiri sebuah Daurah Akbar untuk Negara palestina yang terjajah saat itu pula wanita berhijab menggenakan ikat kepala bertuliskan freedom for Palestine mulai mengajak peserta untuk membuka hati selaku manusia. Suara yang muncul dar bibirnya yang manis tanpa lipstic, seakan-akan suara itu hidup menggandeng tanaganku untuk membantu para korban kejahatan perang. Ketika tangan kanannya mengepal begitu semangat menyerukan freedom for palestina…hurriyah lipalishtiniyyin. jantung mulai berdetak kencang dan darah muda  yang memang mudah untuk dinyalakan mulai tersulut dan  menguap hangat.

Allahu Akbar!! Teriakan  seorang pemuda berambut kriting tak tahu dari kampus mana ia berasal terlihat mengangkat tangan. Saat gadis itu mulai turun dari panggung orasi uap yang tadinya hangat kini mengembun dan mulai mengkristal. Apa yang terjadi dengan diri ini? Pertanyaan itu timbul dan menggetarkan tubuh kurus, ataukah diri ini telah hanyut olehnya. Dimana jati dirimu wahai pahlawan bertopeng?. Lagi-lagi  harus mengakui kalau wanita idaman itu telah mengerakkan hati tanpa disadari, tubuh serasa mengikuti dimana ia berada, langkah kaki mulai tak mampu untuk tidak melangkah menemuinya. Dan tampang pas-pasan ini mulai menghadap dihadapan wanita idaman.

“ Mas ..datang juga? berarti sms silvia nyampek?” Wajah terlihat berbinar menyaksikan kehadiran pahlawan bertopeng ini. Silvia meraih sebuah setiker bertuliskan Falesthin Fi Qulubina dan menyerahkan kepada pemakai sandal jepit.

“ Alhamdulilah ada kesempatan untuk hadir Sil ..Syukran Katsiran Ukhtiy“..lidah ini sepertinya sudah terbiasa untuk merespon kebaikan orang lain. Setiker yang berukuran sedang itu perlahan memasuki tas rangsel kusam.

“ Mas jangan dibuang ya.. “

“ Ya iya..kan hadiah dari silvia. Hadiah itu harus dijaga bukan begitu sil? ”

“ iya mas betul itu.. hadiah harus dijaga mas! supaya mempererat persaudaraan !”

Dialog dilapangan terbuka itu masih terukir dengan rapi. bahkan kata-kata yang terucap dari bibirnya tidak terlupakan, pena ini perlahan menuliskan peristiwa paling bersejarah itu. Peristiwa pertemuan antara pemilik sandal jepit dengan pengendara pajero berwarna putih.

 “ Hai pena masihkan engkau berkenan menuliskan peristiwa ini?”Pena bertinta hitam justru belum ngantuk padahal ia tidak minum kopi.

 “Kalau begitu kita lanjut”

Saat pemilik sandal jepit bercerita tentang keindahan uhkuwah dalam islam seorang pemuda berambut keriting tampangnya tidak jauh berbeda dariku hanya celana dan sepatu mahalnya yang membedakan status dia dan pemakai sandal jepit. Pria kriting mulai mendekati kami dan menyapa silvia dengan ramah tamah.

“ Silvia mangkin semangat aja kelihatnnya” rayuan yang  penuh tanda Tanya

“ Mas Yono..gimana kabare? Sibuk apa sekarang mas?” silvia terlihat begitu akrab dengan kriwul ini. Interaksi yang renyah.

“ ‘Alhamdulillah baik, lagi sibuk menghadiri acara yang diselenggarakan silvia dan teman-teman. Ya disamping itu saya juga sibuk buat penelitian pohon jati Di Lembah Anai.” Sikriwul ini mulai memikat hati wanita idaman.

“O ya mas? “ silvia mengenalkan pemilik sandal jepit

 “ Cah jowo jugak thoh mas ?” pemilik sandal jepit menyapa dengan bahasa ibu mereka

“Kenalkan ! “ jari tangan kriwul mengarah ke nama yang tertulis dijaket hijaunya cahyono. Sepertinya sikriwul lebih senang berkenalan dengan gaya seperti ini. Ya sudah tak jauh berbeda dengan caranya menggerakkan tangan jemari ini mengarah ke nama yang tertulis dua suku kata diatas saku jaket coklatk pemberian Jama’ah Mushallah Dar Al-Salam. Sikriwul manggut-mangut tak tahu apa maksudnya. Mungkin namanya lebih keren hingga ia merasa lebih berstatus daripada pemilik sandal jepit ini.

“ sudah lama kenal silvia ?” cahyono ingin tahu

“ urong mas, baru seminggu yang lalu waktu kita nganter pak Ali ya sil?”

“ iya mas yono..meskipun baru kenal ia seperti kakak saya sendiri mas”

“Kok bisa sil..bagaimana denganku sil?”

“ sama..sama aja. mas yono juga seperti kakak saya sendiri”

“ lhoh sayakan lebih lama dari cah bersendal jepit ini sil..masak ndak ada beda pinomat sedikit” kriwul satu ini memang pingin wah sepertinya. Silvia mendengar perkataan yono terlihat geli..

“ Waduh mas yono ini lucu..” tanpa menyambungnya dengan kata-kata silvia malah mengomentari percakapan ukhuwah sebelumnya.

Cah yono akhirnya ngekor pembicaraan kami.

Pertemuan kami semangkin mengeratkan nilai persaudaraan, entah mengapa saat silvia menganggap kalau manusia dihadapannya ini seperti kakaknya sendiri rasa cinta kepadanya semangkin memuncak betapa tidak melihat wajah berbalut jilbab putih seperti melihat adikku dikampung ia sedang nyantri dipesantren tahfizh al-Qur’an dikudus. Pena mulai tersenyum ketika aku menganggap silvia adalah adikku sendiri tidak lebih dari itu. Malam semangkin larut lembaran kertas dan pena kenangan kembali ketempat semula sebuah rak buku dengan bagian khusus tulisan-tulisan malam, begitu pula pena kenagan kembali kerumahnya yang terbuat dari bambu berbentuk selinder. “Selmat malam wahai penah kenagan..good night!”

 

۞      ۞          ۞

 

  1. PENJUAL KORAN DILAMPU MERAH

Anak-anak  berpropesi sebagai penjual surat kabar mulai menggerumuni mobil-mobil mewah yang terpaksa berhenti dihadang  cahaya lampu warna merah yang tak kunjung beralih ke warna hijau. Dari Pintu kepintu mobil anak-anak usia belia mulai menjajakkan Koran yang mereka bawa, seorang ibu muda berpakaian rapi sepertinya wanita kantoran. Ibu muda membuka kaca mobilnya dan tersenyum menyapa anak perempuan memakai topi. tangan kanannya menyerahkan surat kabar pilihan ibu muda. ibu itu mengulurkan uang tanpa ingin kembalaian dari penjual Koran. “ Terima kasih bunda” gadis kecil bertopi  tersenyum mendapat rezeki seharga tiga  Koran. Ibu muda hanya tersenyum dan buru-buru menekan gas karena sihijau sudah mempersilahkan untuk melanjutkan perjalanan.“ Al-Hamdulillah …Emmuah “ gadis kecil itu mencium uang dan memasukkan kedalam saku. Ia mulai menepi karena mobil-mobil mewah melaju menuju tujuan masing-masing.

 anak-anak penjual Koran terlihat berbaris dipinggir tor-toar, seperti siswa sekolah dasar yang mengikuti  upacara bendera. Yang membedakan antara anak-anak penjual Koran dengan para siswa sekolah dasar  hanyalah kesempatan untuk hadir disekolah. Hidup tanpa orang tua, hidup tanpa biaya dari orang tua memaksa mereka meninggalkan bangku sekolah formal. Meskipun demikian anak-anak penjual Koran itu masih mengikuti belajar bersama para kakak-kakak dari berbagai Universitas yang meluangkan waktu untuk mengajar mereka membaca berhitung hingga menulis cerita. Sehabis makan siang biasanya kumpulan penjuan Koran ini berkumpul disebuah rumah anak jalanan yang disewa oleh kakak-kakak dari universitas limau manis. Rumah yang dicat seperti pelangi itu mampu menciptakan suasana nyaman untuk belajar. Dari papan tulis hingga karpet bermotiv anak-anak, didinding rumah tua yang direnopasi itu dilukis gambar spongsbob, engry bird, donal wekwek, lukisan anak berhijab dan berkopiah juga ada khusus diruang baca iqra’. Di sudut gudang tergambar sosok spiderman yang sedang menolong anak kecil dan mengudara disela-sela gedung dari tangan sianak kecil terlihat lipatan Koran yang dipegang erat-erat. Lukisan spiderman karya jhony dari papua yang menjadi kakak tertua para adik-adik yang ditinggalkan oleh orang tua. Jhoniy bukanlah seorang anak yang ditinggal oleh orang tua sejak kecil namun jhony merantau karena orang tua jhoniy yang sibuk pulang pergi berbisnis dari papua ke ibu kota dari kecil ia hanya mengenyam kasih sayang seorang baby sister yang digaji oleh ibunya. dari kecil jhony tidak pernah merasakan setetes asi dari ibu kandungnya. jhony hanya menikmati susu sapi dari baby sister. Jhony akhirnya mengikuti pamannya dan sipaman tidak jauh berbeda dengan orang tuanya mereka tetap tidak peuli hingga jhoniy memutuskan hidup dijalanan bersama anak-anak penjual Koran.

“ Jhoniy lagi melukis apa ?” Seorang kakak mahasiswi menyapa ingin tahu sekaligus  menghibur jhony yang sedang sendiri.

“ kakak ..saya lagi gambar spidermen kakak?” jhoniy kembali mencelupkan kuas dari ijuk ketuangan cat tembok yang telah diraciknya sebelum shalat zuhur.

“ Kak silvie ngak repot dengan kami?” jhoniy kembali bertanya sedangkan tangan kirinya menorehkan goresan seorang pahlawan penyelamat anak-anak penjual Koran dari kehidupan kota menuju istana impian.

“ Alhamdulillah kakak masih bisa meluangkan waktu, apalagi kalian sudah kakak anggap seperti adik kakak sendiri “ silvia menepuk bahu jhoniy, tangan kanan silvia membawa segelas pop ice yang sengaja dibelinya disimpang mangga tempat aneka minuman untuk anak-anak jalanan.

“ terima kasih kak! jhoniy berdoa Allah selalau mengerakkan hati hambanya untuk memberi perhatian kepada kami..amin.”

“ Amin ..” silvia beralih mengurus anak-anak perempuan untuk belajar menulis.

“ Gimana sudah siap belajar?”

“ sudah dari tadiiiii kak silviiiiiie cantieekkkk”

Anak-anak memang sudah dari tadi menunggu silvi yang telat karena sibuk menyiapkan tugas dari pak dosen. tidak hanya itu  teman-teman kajian mingguan memintanya untuk menhadiri rapat kajian di Masjid jami’.

“ Maaf yaa adek-adek yang imut-imut kakak terlambat hari ini ”

“ maafff untuk hari ini..untuk besok awas kakak terlambat” dengan suara yang senada murid-murid silvie memberi peringatan pada gurunya yang terkenal beutiful itu.

“ Baik..kakak janji “

Anak-anak kembali memperhatikan ke papan tulis. Silvie menulis huruf A hingga Z kemudian merangkainya dengan menggunakan puzzle. satu persatu anak didiknya maju kedepan dan mengurutkan posisi huruf abjad dari A sampai Z dengan teratur.

“ Kakak tulisannya dikumpul kak?” gadis ingusan yang duduk dipaling belakang terlihat bersemangat ingin mengumpulkan tulisannya.

“ Iya –iya adek sayang dikumpulkan dimeja kakak ya ..ayo siapa yang cepat dapat hadiah” silvie member motivasi sekaligus hadia pada anak didiknya agar mereka berpacu  menyelesaikan tulisan yang ada dipapan tulis.

“ Ini kak tulisan dewi” gadis kecil ingusan itu telah berada dihadapan silvie.

“ Bagus sekali tulisan dewi siapa yang ngajarin sebelumnya?“

“ waktu dewi jualan Koran setiap judul besar berita dewi ikuti dengan potongan lidi kak silvie”

Ternyata gadis ingusan itu memiliki tulisan yang bagus untuk seusianya, memang tulisannya belum tersusun rapi namun bentuk dan posisinya sudah benar dan gadis ingusan itu justru belajar ketika berjualan Koran dilampu merah…subhanallah.

“ ini hadiah mainan kunci mobil kakak,  bruang kecil ” silvie memberikan beruang kecil berwarna coklat menggemaskan kepada dewi..

“ Makasih kak silvie  cantik” anak-anak sudah terbiasa memanggilnya dengan kak silvia cantik meskipun silvia selama mengajar tidak pernah mengajarkan semacam hal itu. Anak-anak hanya melihat pribadi tulusnya hingga ruh anak –anak penjual Koran terasa berdampingan hingga kata yang muncul juga pujian.

“ sama-sama sanyang” silvia tersenyum manis melihat wajah dewi terlihat riang. ada harapan masa depan disetiap ingusnya yang flutuatif naik turun.

“ Eit tunggu dulu sayang ..ingusnya kakak bersikan sini ! biar terlihat cantik “ silvie mengambil tisu dari saku gamisnya, perlahan membersihkan ingus dewi penuh kesabaran.

Didiamnya dewi ternyata tersembunyi kemahirannya dalaam menulis huruf abjad dengan baik, sedang teman-teman  lainya masih sibuk menulis.

“ Kak silvie aku mau hadiah kunci mobil kak? ” seorang anak lelaki kepala botak yang ingin dihadiahi kunci mobil.

“ HUUUUU HUUU BOTAAAAAK..” teman-teman perempuan menyoraki lelaki kepala botak,

“ Hehheeh “ bukannya malu malah tertawa nih tuyul kesiangan.

“ Wahhh kalau kuncinya dikasih ke Amin nanati kakak pulang pake apa? ”

“ Dibonceng abang tukang mangkal kak?” Sikepala botak bernama Amin, mulai bercerita kalau dirinya sering ditanya oleh pemuda yang sering mangkal di gerobak cincau simpang mangga.

“ ya sudah kalau begitu amin sampaikan ke abang tukang mangkal itu? Kalau mau kenalan jangan sama kak silvie aja, kenalan dong sama adek-adek kakak disini”

“ Baik kak Amin sangat siap menyampaikannya karena Amin akan diberi hadiah bola futsal kalau berhasil menyampaikan amanah ini ”

“ Astagfirullaah  Amin! sengaja ngerjain kakak yaaa ?” silvia hanya bisa bersabar dan memperbanyak istigfar dan mencoba tersenyum. Namun, kali ini mewek juga wajah cantik silvia, terlihat ada guratan dan aura geram yang mulai terlukis di wajah manusia titisan bidadari ini.

“ HUU AMIN BOTAK..DASAR TUYUL GUNDUL..” teman-teman Amin terlihat marah dengannya, ada yang meremas kertas dan melemparkan kearah kepalanya yang botak.

“ Heh hehhe hehhe Amin gitu lho”

“Sudah.. sudah… Amin selesaikan tulisannya ” silvia hanya geleng-geleng melihat Amin tertawa sambil meringis

 

 

۞      ۞          ۞

  1. PELUKIS JALANAN

Dibawa pohon beringin tua seorang pelukis muda dengan rambut gimbal dan kulit sawo matang mulai menggoreskan cat minyak ke kanpas yang sudah dicat dasar sebelumnya dengan warna putih dan goresan-goresan penuh makna menghiasi kanpas yang terpajang dipinggir jalan. Lalu lalang kendaraan juga pelancong dari berbagai penjuru menikmati keindahan panorama lukisan. Di sudut bagian belakang diatas meja kayu terpampang lukisan seorang pria gagah dengan membawa tongkat emas terlihat sedang memimpin sebuah masyarakat. Di krumunan masyarakat terdapat empat belas tambang emas yang dimanfaatkan oleh pribumi. Seorang pekerja berwajah melayu terlihat bekerja mengangkat bongkahan emas dari pertabangan. Tidak hanya lukisan tambang-tambang emas di samping lukisan pria gagah itu terdapat lukisan anjing berkepala manusia dengan ikat leher yang mencekik hingga tubuh wawau berkepala manusia itu menjulurkan lidahnya dan seorang pria bebadan kekar berkringatkan coin-coin dolar dan berkepala setan memukulnya dengan gong besar.

Seperti biasa para pemerhati lukisan si anak gimbal itu hanya berucap sinis. “lukisan yang tidak masuk diakal! Mana ada anjing berkepala manusia..” seorang ibu-ibu menor nyeletuk sambil berjalan meninggalkan pelukis jalanan. Namun kali ini ada seorang pelancong sepertinya dari America. Dengan baju bergambar mister Obama dan bertopi US Army.

“ what is your name son ?” turis tua bertongkat itu menyapa pelukis jalanan.

“ you whan to know my name  kakek?” pelukis itu merasa ingin tahu siapa yang barusan menyapanya, karena sebelumnya ia sedang focus melukis seorang bidadari dari langit yang menyapa anak-anak penjual Koran.

“ heh he kakek..is grandfather..ok son! I want to know your nick name?” kakek America mulai tertawa mendengar kata kakek dari mulut pelukis itu.

“ my name is jhony sir..you need something kakek?” pelukis jalanan itu adalah jhoniy.

“ oh my god! Your name like  presinden jhon kenedy” kakek tua itu mulai menghampiri dan duduk dikursi yang baru saja disediakan jhony.

“ you can speck minangkabau sir” jhoniy mulai bercanda dengan sikakek amerika.

“ Why not jhoniy..sia nomo ang?” sikakek America malah balek meledek jhoniy

“ busyet ..sia lho inyiak ko ?” jhoniy keceplosan

“ wa ang jhoniy bacaruik pulo?” sikakek malah membuat jhoniy tambah kalang kabut

“ Sia namo inyiak ?”

“ my name is Abraham from USA” dengan bangga sikakek tua itu menyebut Negara asalnya.

“ jhoniy apa judul lukisan kamu yang diatas meja itu” sikakek mulai penasaran dengan pria gagah yang memegang tongkat emas.

“  inyiak bisa bahasa minang kabau?” jhoni justru balik bertanya

“ saya belajar kebudayaan minang kabau sudah tiga puluh tahun jhoniy”

“ oooohhh … lukisan itu judulnya MY PRESIDEN FROM PAPUA” dengan bangga jhoniy memberi judul lukisan pria gagah yang sedang memegang tongkat emas di atas meja.

“ ok judul yang menarik..kalau yang disampingnya itu?”

“ yang itu inyiak ..itu judulnya The Under Dog “

“ wah judul kamu kok bahasa inggris semua jhon”

“ kebetulan jhoniy suka dengan bahasa inggris inyiak”

Kakek America hanya terdiam dan merogo dompet tebalnya, “ jhon kamu jual berapa dua lukisanmu itu?” Mr.Abraham masih menghitung dolar di dopet kulit kijang miliknya.

“ Sorry Mr.Abraham lukisan itu akan ikut pameran di tanggal 17 besok di taman budaya untuk saat ini belum saya jual inyiak” joniy masih sibuk menorehkan kuas di kanpas yang ada dihadapannya.

“ relly you not sell your painting?”

“ iya Mr. saya mau lukisan saya masuk dalam nominasi ditaman budaya”

“ oh itu gampang biar Mr yang menjadikan lukisanmu berharga dengan ini “ tuan Abraham mulai menyodorkan lipatan dolar yang perlembarnya adalah seratus dolar.

“ sorry MR! my art not for sell!! Hahah bercanda mister. Yang gambar kucing itu aja mister saya jual seratus dolar mister mau?

“ sorry jhon! I relly hate a cat!” simister beranjak meninggalkan jhoniy..

“ tunggu mister jangan pergi dulu..” jhoniy meraih tangan mister Abraham dengan lemah lembut dengan hormat jhoniy memberikan undangan agar mister Abraham menghadiri pameran lukisan ditaman budaya pada tanggal 17!

“ terima kasih banyak jhon! oohh jhony kamu titisan orang Nusantara” sikakek terlihat kagum dengan komitmen jhoniy yang tidak ingin menjual lukisannya.

“ Jangan lupa hadir Mister ?”

“ pasti mister datang dan akan menawar lukisan kamau jhon..ingat itu!”

“ hahhaha mister selamat jalan”

Pertemuan dengan mister Abraham meyakinkan jhoniy kalau lukisannya berharga “ ternyata orang pribumi justru mencibir lukisanku namun mister Abraham dengan bangga memujiku..ohh mister Abraham yang malang sorry aku tak jual lukisanku sebelum mengikuti pameran “

 

 

 

 

۞      ۞          ۞

Wihh keren pemandangannya ..anak anak didalam mobil pajero sibuk berceloteh melihat pemandangan pinggir pantai yang indah. Silvia dan keluarganya ada ayah dan ibunda silvia tercinta. mereka hanya tersenyum bergembira melihat anak-anak yang riang melihat pantai padang dengan ombaknya yang berdebur menggulung kesedihan. Dibangku paling belakang sosok pria sederhana berwajah pas-pasan seandainya pria itu dijuluki wajah ndeso juga tidak berlebihan karena itulah wajah anak muda yang duduk disebelah jhoniy. Tangan jhony memegang erat lukisan miliknya dua lukisan yang akan dipamerkan ditaman budaya. Sedangkan pria berwajah ndeso disebelahnya memegang lukisan kucing milik jhoni yang tidak dibeli oleh Mr.Abraham. semilir angin mampu menggoyangkan rambut pria disebelah jhoniy meskipun rambutnya hanya disampo dengan sabun wangi namun, hembusan angin mampu memporak-porandakan gaya rambut belah samping miliknya. Di bangku depan silvia mengisyaratkan untuk merapikan rambut mas garin silvia tak kuasa menahan tawa melihat  hembusan angin yang memporak porandakan gaya rambut mas garin mushalla. Rambutnya yang rapi kini madul-madul seperti rambut bintang titanic yang terhembus angin.

Jhoniy hanya tersenyum melihat mas garin yang tak memperdulikan rambutnya yang madul-madul. Dengan perlahan jhoniy menutup kaca mobil dan memberikan sisir kepada mas garin. Mas garin malah menolak justru mas garin mengambil peci dari tas kusam miliknya.. “ biar gak madul-madul lagi jhon “ dengan wajah lugunya ia member penjelasan.” Sip mas “ jhoni hanya mengacungkan jempol.

“ Sampaiiii hore kita sampai hei botak banagun!”

“ yok amin kita ke kamar mandi cuci muka dulu “ silvia mengantar amin kekamar mandi. Ayah dan ibu silvia langsung menuju pameran lukisan di satand I. jhoniy dan mas garin menuju stand III untuk lukisan yang baru dipamerkan. Anak-anak lainya mengikuti silvia bersih bersih baru masuk taman budaya.

“ Jhon sampai kapan pamerannya “ mas garin terlihat cemas dengan musalla yang ditinggalkan.

“ sampai sore mas “

“ oya jhon bilangin ke silvi kalau mas ngak bisa main ke istana impian. Mas belum izin sama pengurus musalla untuk malam ini. Anak-anak ngaji juga ngak tahu kalau mas ikut kesini, kasian mereka nunggu mas jhon!..tolong sampaikan ke kakamu ya jhon! Mas pamit dulu assalamu’alaikum ”

“Iya mas jhony sampaikan “ jhoniy ingin menahan sejenak kepergian mas garin tapi. Mas garin terlihat sangat cemas dengan musallah tercinta musalla dar al-salam.

Mas garin berjalan kaki meninggalkan taman budaya , sandal jepit yang berbunyi ceplak-ceplek perlahan ditelan kerumunan mobil yang membanjiri halaman taman budaya. Perjalanan digang-gang sempit kemudian simpang  empat tempat para pengendara motor gedek bertatap muka. Dari kejauhan seorang pengendara sepeda motor one heart dikejar klompotan penunggang sihijau yang terkenal gesit dan kelompotan itu langsung memepet  pria berkendara motor bercc 250 itu. Pria berhelem mulai melawan dan menghindar. Numun, sayang dua motor dihapannya menghadang dengan cepat! Cakram kedua merek besar sepeda motor itu memang mantap begitu direm langsung berhenti.

“ Hey turun kamu! ”

“ apa-apaan ini ?”

Mas garin dengan perlahan menyapa kedua manusia berhelem yang sedang berselisih. “ bang ada apa ini bang?”

“ Hei banci miskin diam kamu !” suara yang aneh untuk pengendara motor gedek

Lansung Tiga pengendara motor hijau mulai turun menyerang mas garin dengan rantai besi. Wuttt wutt rantai besi mengarah ke arah wajahnya. “ Percuma puasa muteh kalau ngak diamalkan untuk kebaikan” bathin Mas Garin. Secepat kilat tangan kanan mas garin mematahkan serangan rantai besi sedangkan tangan kirinya mendarat didada manusia berhelem hitam..dan “ auww!!”  Seperti suara perempuan dan ternyata benar saat helm yang dikenakan  terpental karena tersungkur. sosok wajah yang bening seperti girl band tersingkap dan buru-buru ia menutupi wajahnya dengan kain sal yang ada dilehernya.

  “ Masyaallah mbak? Maaafin saya mbak  ndak apa-apa tho mbak!” Mas Garin dan pengendara motor ber cc 250 buatan jepang menolong  gadis  yang lagi nyungsep. Saat tangan Mas Garin membantu mengangkat justru bogem mentah mendarat ke wajah Mas Garin. Dan TAP ..tangan kiri mas garin dengan sigap menangkap bogem yang mendarat.

“ sadar sampean mbak !! apa sampean bukan manusia! “ suara jantan Mas Garin yang menggetarkan seluruh pengendara sepeda motor yang kurang ajar. Urat-urat lehernya mulai membesar,mata dan wajahnya merah berapi-api.. ” apa mau! saya berubah jadi wolfrin !!!” mas garin sudah kehilangan kendali karena kesal melihat perempuan yang bandel dihadapannya.

“Sudah Mas! Sudah “pengendara sepeda motor one hert melerainya

“ Maaf Mas! kami cuman taruhan kalau kami bisa mukulin mas berdua berarti kami memang keren” perempuan dihadapannya mulai melas

“ Astagfirullah dunia sudah edannn..edan perempuan kok jadi preman! Kelas berapa kamu ndok!” Mas Garin tambah penasaran

“ Saya Kelas Dua Sma Mas ”

“ waduh kamu itu cantik ngak ada tampang penjahat! Sudah pulang sana luluran! Cepat pulang !!” mas garin hanya terdiam tak mampu berbicara lagi.

Mafin kami mas sudah mengganggu perjalanan mas berdua. Kelopotan anak-anak SMA bermotor pelahan meminta izin pulang.

“ Mas maafin saya sudah menyerang mas dengan rantai..” anak abg itu membuka shal yang menutupi wajahnya dan menguraikan rambut rebondingnya yang hitam. Seraya mengulurkan tangan. Mas garin hanya mengatupkan kedua tanagannya..

“Kenalkan nama saya Maya “

“ Waduh saya juga maaf dek! Saya terbawa emosi tadi”

“ saya juga takut tadi mas kalau mas sampek berubah jadi Wolfrin!..jujur mas  saya terharu saat mas bilang saya cantik dan tidak bertampang penjahat” maya mulai tersenyum dan menawarkan tumpangan pulang dengan motor Kawasaki miliknya.

“  hati-hati kamu dijalan ya may jangan lupa luluran biar tambah bening”

“ iya mas nanti luluran! pamit dulu mas !” maya memicit kopleng dan melaju meninggalkan asap yang mengepul dari kenolpot

“ Kenalkan mas saya Muhammad Natsir”

“waduh sorry mas saya sampek lupa nyapa! Saya garin Musallah..”

Kedua pria lajang itu mulai ngobrol panjang sambil geleng-geleng melihat kejadian yang baru saja dialaminya . Natsir menawarkan agar mas garin tidak menolak tumpangan darinya. Mas garin dengan senang hati menerima tawaran natsir, kendaraan roda dua mengantarkan ke mushalla dar al-salam terlihat anak-anak sedang menunggu guru ngaji mereka .

“Ustaaaaadz kok lama pulangnya” ezi anak pengurus masjid yang masih duduk dikelas satu ibtidaiyah menghampiri mas garin.

“ maaf  ezi? Ustazd ada acara tadi, ”

“ Mas natsir saya ngajar dulu..”

“Ngak apa-apa mas saya juga ikut ngajar aja sekalian cari pengalaman “

“Monggo-monggo mas!”

 

۞      ۞          ۞

“Malem papa mama.. maya pulang!” Anak terakhir ini memang bertipe terbalik ddari kakaknya. maya yang baru pulang dengan jaket hitam yang berpasir meraih tangan bunda dan papanya perlahan dikecup kening kedua orang tuanya. “ Maya mandi dulu sekalian luluran..nanti maya cerita” gadis kecil itu menuju kamarnya. Ibu dan ayahnya hanya terdiam

“ Assalamu’alaikum “

“ wa’alaikum salam silvie.. kamu ajak ke pengajian mana adikmu sil?” ibunda yang lebih dulu tiba dirumah menghampiri silvia sambil berbisik kalau adiknya sudak ada perubahan tidak seperti hari-hari sebelumnya.

“ maya sudah pulang ? Alhamdulillah kalau memang begitu bunda! Silvia ndak ada ketemu “ silvia yang terlihat letih minta izin untuk bersih-bersih.

“Alhamdulillah yaa allah anak kami telah berubah” ibunda maya terlihat gembira begitu pula ayahnya yang tak sabar menanti kehadiran maya diruang makan malam.

Sudah hampir satu jam maya berada dikamar dan belum juga muncul silvia mangkin cemas begitu pula kedua orang tua maya..mereka menunggu didepan pintu bergambar avril lavidne yang memegang gitar. Dan saat tangan silvia membuka paksa pintu kamar  muncul bidadari kecil dari kamar istana kerajaan. “ Subhanallah “ ketiga manusia dihadapan maya bertasbih memuji Allah. “ May kamu mayakan?” ibunda tercinta tak percaya dengan perubahan anaknya. Perubahan yang sangat cepat dari penampilan urak-urakan subang dimana-mana celak hitam hingga lipstick hitam yang hilang ditelan masa.

            Maya hanya tersenyum dan menikmati makan malam bersama keluarga. Setelah dipaksa oleh kakaknya silvia akhirnya maya menceritakan peristiwa yang mengubah penampilannya. Dari kejahatannya menyerang pria lugu miskin hingga pujian sipria sandal jepit kalau dirinya wanita cantik yang tidak ada tampang penjahat. Saat maya sibuk bercerita goresan ditanganya terlihat oleh ibunya. Namun ibunya tidak ingin kebahagiannya malam ini terusik karena pertanyaan kenapa sikumu may?. Silvia hanya bisa tersenyum ketika adik bungsunya berubah menjadi bidadari kecil. Dan bertanya-tanya siapa pria yang berani memukulnya kemudian malah memujinya?. Malam itu keluarga mereka dilanda tanda-tanya. Begitu pula maya yang ingin bertemu kembali dengan pria lugu bersandal jepit.

“ Kadang sentuahan hati dan keikhlasan seseorang untuk memberi pujian terhadap kelebihan yang dimiliki oleh teman. mampu mengubah cara pandang, tingkah laku dan moral seseorang. Dan sebaliknya kata-kata busuk mampu mengubah anak kucing menjadi seekor srigala yang siap menerkam”

Maya hanya bisa tersenyum lebar saat menyuap kerupuk mata bebinar dan terus tersenyum hingga silvia begitu penasaran dengan lelaki yang mampu memuji anak senakal maya. Selain terkenal akan bandal dan usilnya maya juga terkenal akan jahilnya terhadap teman-teman sekolahnya. Selesai dari makan malam silvia menyapa adik tersayang dengan sapan hangat silvia menorah informasi dari adiknya yang baru saja berbunga-bunga. “ May apa sih yang membuatmu berubah jadi perempuan?” silvia mulai mengajak maya berinteraksi. Maya malah balik bertanya apakah selama ini maya bukan perempuan, justru anggapan kalau maya bukan perempuan selama ini yang membuat maya bertahan. Dari kecil hingga kini tidak ada lelaki yang menyapa maya dengan sapaan yang membuat maya layaknya seorang wanita. Maya sangat terharu ketika ada orang yang menganggap maya adalah perempuan kata-kata kamu itu cantik dan tidak ada tampang penjahatlah yang menyadarkan maya kalau maya adalah seorang wanita bukan lelaki. Selama ini kak silvie bunda dan papa menurut maya hanya memandang maya seorang anak nakal yang tidak bisa berubah, dan semua itu yang semangkin menguatkan hati maya agar tetap menjadi anak motor.” Maya kembali tersenyum saat matanya terpejam . silvia hanya menitiskan air mata kemudian ia menghapusnya dan memeluk maya erat-erat” maafkan isil ya may”..maya yang masih terus mengingat peristiwa pertemuannya dengan pria bersandal jepit tidak mengubris. Silvia memandang wajah adiknya yang lagi menghayal. “ Eiyy nanti kakak bilangin kepapa kalau maya lagi jatuh cinta” maya membuka matanya dan menantang silvia bilangin aja kak silvia “ maya to night was falling love! Wekh “ lidah yang bertindik masih terjulur.” Katanya berubah tuh tindik lidahnya?” maya buru-buru menatap wajahnya di kaca dan “ waduh bisa gawat kalau ma situ tahu kalau masih ada nih benda” maya buru-buru menjukurkan lidahnya dan menyopotnya perlahan-lahan.

Tulit tulit telepon genggam silvia menerima pesan

“maaf silvia  ngak bisa ikut kerumah impian” short message dari akhiy

Maya malah merampas hand phon silvia “saya telpon nih cowok yang berani ganggu kakak maya”. Dan tit no beinisial akhiy dipencet maya.” Hey cowok! Beraninya cuman sms kalau berani datang kerumahku aku adiknya silvie “ . maya malah bingung tak ada suara yang menjawabnya, ternyata pemilik nomor tidak menjawab. Maya mangkin berang sumpah serapah dituangkan ke pemilik nomor berinisial akhiy. Setelah maya puas. suara seorang pria menjawab “ maaf ya dek! Saya memang ngak bisa datang kerumah impian tolong sampaikan ke silvia”

“Huuhhh cowok payah!” nomer akhiy langsung dihapus. Begitu pula pesan singkat yang telah dibaca silvie. Maya mengembalikan handphon silvie tanpa rasa bersalah. Silvia  melihat nomer akhiy leyap ada rasa kecewa dengan perbuatan maya, dengan wajah sedih silvie memberi penjelasan kalau yang barusan kirim sms adalah teman silvie yang meluangkan waktu untuk membantu mengangkut lukisan dan peralatan yang dibutuhkan istana impian padahal ia punya kesibukan mengajar. makanya ia memberi berita kalau ia tidak bisa ikut ke istana impian.

Maya hanya bisa terdiam dan mengajak kakak tercinta untuk bercerita tentang istana impian yang dihuni oleh anak-anak jalanan. Dengan tenang sambil menghela nafas karena nomer mas garin dihapus oleh maya. Meskipun mas garin bukan tipe silvia namun ada rasa bersalah dengan perbuatan adiknya yang baru mala mini pulang kerumah dibawa jam Sembilan malam. Silvia menjelaskan kalau istana impian adalah rumah ssekaligus istana bagi anak didiknya tidak hanya itu istana impian adalah keluarga kedua setelah kita. Silvia mulai tersenyum melihat aadik tersayang mulai peka terhadap social.

 “Kak silvi kira-kira pria yang barusan ketemu sama maya tinggal dimana ya kak?” maya malah ngelantur ke pria bersendal jepit.

“ maya jadi maya ngak dengerin cerita kakak! ?” silvie tambah sedih melihat tingkah adiknya yang masih menyisahkan kenakalanya.

“ Maya masih terbayang Mas pakai sandal jepit, badannya tidak terlalu tinggi sedikit kurus rambutnya juga lucu..kapan maya bisa ketemu lagi dengannya”

Silvie tambah penasan dengan ciri yang disebutkan maya ” gimana may cirri-cirinya may?”

“ Waduh janagan deh kak nanti kak silvie naksir lagi ?” tinggal dulu kak maya mau lihat jadwal belajar besok mau dating on time!”

“ Ok may selamat berjuang..semangat may “ silvie meninggalkan maya

Setelah lima menit kemudian silvie kembali kekamar maya dan didapati maya sedang menulis didairy waktu smp dulu.

Aku merasa terlahir kembali

Saat Mas bersandal jepit memegang tanganku dan memukulku dan kembali memungut tangan yang berbuat kasar dengannya lembutnya belaian tanggannya mengingatkan ibu saat membelaiku dan saat mas sandal jepit memujiku kalau aku cantik dan tidak terselip diwajahku kejahatan aku mulai tersadar kalau aku adalah perempuan. Ya tuhan pertemukan kembali aku dengannya…

Malam yang terindah.

 

 

۞      ۞          ۞

 CURHAT DENGAN USTADZ FATIH

 

Ketika hari libur futsal menjadi rutinitas Natsir. Lelaki berbadan atletis ini bermain sikulit bundar  bersama teman-temannya dari group 7, pada hari itu natsir  mengajak Mas garin Musalla. kedua pemuda ini mengadakan latihan bersama seperti biasa dari jam delapan pagi hingga jam 10. Rutinitas yang sangat menguntungkan bagi pemuda seperti Natsir dan Mas Garin selain mengolah raga agar tetap feat bermain futsal juga dapat menghilangkan strees ringan. Apalagi bisa mencetak gol seolah-olah terasa berada di liga champion  ditonton oleh ribuan bahkan jutaan fans. Bola yang bulat seperti onde-onde itu memang ajaib konon katanya saat orang-orang America latin bermain bola yang terbuat dari karet para penjajah negeri itu mengira kalau bola yang dimainkan oleh orang America latin dirasuki setan. Hingga saat ini misteri bola kaki masih tersembunyi dari magnet yang bisa mempersatukan  hingga memecah keutuhan persaudaraan.

Kurang segar rasanya kalau habis main futsal tidak mampir kegerobak cincau pinggir jalan simpang mangga. Kedua pria yang mandi keringat ini beranjak menuju sihijau segar. siapa lagi kalau bukan minuman cincau. Motor cc 250 milik Natsir  menuju gerobak cincau, Mas Garin  duduk dibelakang Natsir sambil memegang tas kusam yang selalu jadi andalannya entah apa sejarahnya hingga tas kusam berwarna biru itu sangat sepesial bagi Mas Garin. Natsir mulai mengajak bercerita tentang cinta sepertinya Natsir mendapatkan tempat curhat yang tsiqah dapat dipercaya. Dari cerita Bukit Tinggi kota Bung Hatta hingga cincau dan pertemuanya dengan gadis kecil bernama silvia. Mas garin hanya mendengarkan tanpa banyak bertanya siapa gadis yang beruntung itu.

“ Mas gimana pesen cincau apa teh telur?”

“ biasa aja  yang seger aja Akhiy”

Sambil minum cincau yang dicampur santan dan es batu. rasa segarnya menambah semangat Natsir untuk bercerita tentang sigadis kecil padahal sudah diceritakan saat diperjalanan. sungguh terlalu Natsir ini mas garin hanya mendengarkan dan sesekali mangut sambil berucap tak bermakna hmmm.

Tak seperti biasa Natsir sesemangat ini, kali ini Ia memang terpangga asmara. Mas garin juga cerita tentang Silvia namun Silvia  Natsir yang kecil tentu berbeda dengan Silvia yang ditemui Mas Garin, silvia yang semangkin cantik dan semangkin anggun. Natsir mulai berfikir keras apa Silvia Mas Garin juga Silviaku. Tetapi rasa penasarannya dipendam demi menjaga perasaan sahabat  Mas garin.

“ Oya mas udah jam sebelas gimana pulang kita?”

“ Sip sudah dekat zuhur, ok Natsir kita berangkat lagi”

Saat mas garin merogo tas kusam miliknya Natsir buru-buru membayarkan minuman. Mas garin hanya bisa berterima kasih. Ketika si one hart ingin meninggalkan gerobak cincau seorang anak kecil berkepala botak menghampiri Mas Garin.

“ Bang Garin mushalla? “ Sibotak menyapa Mas Garin.

“ Amin mana teman-temenmu ?”

“ tu Mas lagi dilampu merah !”

“  udah agih sapuluh cincau da..” mas garin memesan sesuai jumlah anak-anak penjual Koran.

“ Oya Mas ! ? Amin ada perlu sama temen Mas!”

Sibotak mulai bernego siasi dengan Natsir soal kenalan dengan wanita berhijab yang diduga berat adanya, Ia adalah Silvia. Sibotak mulai meminta hadiah yang dijanjikan Natsir. Kedua manusia yang lagi bernegosiasi itu meninggalkan Mas Garin yang memang ingin naik angkot sekalian mampir kepasar cari kentang dan ubi jalar untuk pagi hari. Selain praktis kedua umbi ini memang mengandung karbohidrat dan tidak kalah dengan nasi.

“ Mas ana nganter Amin dulu cari bola futsal”

“ monggo akh! Ana naik angkot aja”

“ oya mas nanti ba’da zuhud ana jemput lagi.. kita ke pengajian ustadz fatih “

“ ok akh!” Mas Garin mengancungkan jepol sambil tersenyum. Si Amin merasakan kenikmatan dibonjeng CBR 250 CC sampai-sampai lupa dengan Mas Garin. Mas Garin menuju krumunan anak-anak penjual Koran dan memberikan minuman kepada anak-anak yang bersemangat menjajakkan Koran. Laju angkot biru terhenti ketika seorang lelaki berdiri sambil memegang tas rangsel dan sandal jepi miliknya berdetak diaspal meloncat memasuki angkot. Lambayan tangan Dewi dan kawan-kawan menyertai kepergian Mas Garin menuju Mushallah.

 

 

۞      ۞          ۞

 

Masjid Jami’ berjonjong berwarna coklat, sedangkan ornamen klasik berupa ukiran yang memiliki nilai seni tinggi dan terlihat berbudaya dengan bentuk ujung atap masjid seperti rumah gadang yang berjumlah empat jojong. Sedangkan menaranya menambah nilai seni yang mirip arsitektur Taj Mahal di India. Suara pengajian telah dimulai Natsir masih terperangkap dilampu merah, sudah tak sabar ingin mendengarkan pembahasan kitab Tafsir Fi Dzilal Al-qur’an. Yang akan disampaikan oleh Ustadz Muhammad Al-Fatih lc,MA dimana beliau pernah mengenyam pendidikan di Al-azhar University Muhafazhah el-Syarqiyah, madinah sayidina yusuf Alahi Salam. Propinsi ini memang masyhur akan tokoh-tokoh berpengaruh hingga presiden Mesir dari propinsi syarqiyah DR. Muhammad mursiy. Tidak hanya presiden ulama besar seperti syekh abdul halim Mahmud dan syekh Mutawalli El-Sya’rawiy juga berasal dari daerah yang tidak jauh dari madinah sayina yusuf alaihi salam.

Buru-buru Natsir berwudhu kemudian memasuki masjid dan membuka buku catatan khusus belajar bersama Ustadz Fatih. Mas Garin duduk didekat rak al-qur’an kemudian mengambil mushaf sesuai dengan surat yang dibahas.” Pada minggu ini surat yang kita baahas adalah surah al-nisa”. Terlihat para akhwat-akhwat baru gedek tersimpuh malu entah mengapa saat disebutkan surah al-nisa mereka tersimpuh malu seperti akhwat berhijab pink. sepertinya mahasiswi limau manis yang baru semester satu. Begitu pula ibu-ibu perumahan yang semringah mendengar surat al-nisa yang akan dibahas. “ baik bapak bapak  ibu-ibu rekan rekan mahasiswa sekalian..dalam surat al-nisa ini kita akan mendapatkan pembahasan tentang “ Tanzhim Syuun Al-Usrah”..yang diartikan sebagai memenegment rumah tanggah.” Ustadz terus membaca teks tafsir fi dzilalal al-qur’an kemudian mengartikannya. Sedangkan para jama’ah menulis point-point penting dari pengajian.

Pengajian mingguan itu dihadiri oleh bapak gubernur dan wali kota  sebagai program wali kota padang, jama’ah begitu menikmati Syarah zilal Al-Qur’an. Disesi Tanya jawab natsir bertanya tentang hukum seorang wanita yang bertujuan belajar di luar negeri tanpa adanya mahramnya. Ustadz fatih mencoba menjawab pertanyaan Natsir dengan beberapa dalil tentang bolehnya untuk Thalab Al-‘Ilmi. Disusul oleh akwat berhijab biru langit tentang pernikahan dini. Ustadz faith. menjawab dengan sebuah hadis yang menjelaskan beberapa hukum nikah. Dan menjawab dengan jawaban yang memuaskan akwat berhijab biru langit.

“ mas Tanya mas?”

“  Iya akh “ Mas garin akhirnya bertanya tentang bagaimana islam mengajarkan umatnya untuk mencintai para wanita seperti ibu, istri, maupun saudari seiman. Ustadz fatih hanya tersenyum sambil tertawa ringan dan menawarkan jawabannya khusus empat mata..jamaah akhirnya ikut tertawa melihat sosok lelaki culun namun bertanya tentang cinta? Seolah-olah lelaki culun tidak berhak untuk merasakan cinta.

“ Waduh pertanyaannya menarik mas, sampek ustad pingin bicara empat mata”

“  sepertinya memang begitu akh”

Setelah du’a kafaratul majlis dibacakan ustadz fatih, para jama’ah bersalaman dengan pemateri. Ustadz fatih menghampiri kedua pemuda yang duduk dibagian belakang. Natsir langsung meyalam tangan ustadzh fatih. Ustadz fatih duduk disebelah Mas Garin sambil menanyakan nama kemudian berdiskusi tentang cinta. Natsir juga bersemangat bertanya tetang cinta. Anak muda yang sedang junker balik karena cinta. Ustadz fatih menjelaskan bahwa cinta itu adalah fithrah selaku makhluk Allah, bahkan untuk menjaga cinta islam memberi trik dengan saling memberi hadiah, saling berkunjung untuk silaturahmah, begitu pula mengucapkan salam dan saling berjabat tangan. Hingga menjenguk saudara kita yang sedang sakit untuk mempererat persaudaraan dan rasa cinta kita. Namun ada juga cinta yang terlarang seperti cinta yang mengalahkan cinta kepada Allah..bahkan al-qur’an menjelaskan cinta harus lebih banyak diberikan kepada allah. Seperti penjelasan al-qur’an dalam surat al-Baqarah 165.

Nah membaca ayat tersebut jadi mengingatkan akan tafsir ibu katsir disebutkan bahwa allah menyebutkan keadaan orang-orang musyrik didunia yang mana mereka orang musyrik menjadikan tandingan selain Allah dan mereka amat mencintainya hingga cintanya seperti mencintai Allah. Thayyib Mas Garin, Natsir dengerin nih! Hadist shahih dari Abdullah ibn Mas’ud seorang sahabat yang alim dalam qiraah meriwayatkan sebuah hadis “ibn mas’ud berkata : wahai rasulullaah dosa apa yang paling besar ? Rasul bersabda : menjadikan Allah tandingan sedangkan Allah adalah penciptamu. Nah apa yang harus kita lakukan selaku orang muslim? Kita lanjutkan firman Allah selanjutnya dan orang-orang yang beriman cintanya kepada allah sangat besar dan mengutamakan cintanya kepada Allah.

“ Pada dasarnya cinta itu bolehkan ustadz?” Natsir mulai connect dengan pembahasan
            “ tentu tapi kita tetap mengutamakan cinta kita kepada Allah ta’ala” ustad kembali menekankan cinta yang paling indah adalah mencintai Allah.

“ ustadz boleh saya curhat?” Natsir mulai membuka diri melihat ustadz fatih ahli dalam hal percintaan.

“ Tafadhol Akhiy..”

“ Begini Ustadz”

Natsir mulai bercerita tentang seorang gadis kecil Silvia yang membuatnya jatuh cinta namun gadis kecil itu tidak kunjung muncul dihadapannya. Dan rasa cinta itu kembali menghampiri saat suaranya yang indah terngiyang-ngiyang diteliga. Wajahnya yang bening serta bahasa matanya selalau mengiringi setiap waktu.

“ Alhubbu Wa Syabab!! Baik Natsir sekarang kita sucikan rasa cintamu dengan mengucap basmalah dan karena Allah. Antum sudah siap menikah?”

“ sudah Ustadz ” Natsir terlihat semangat menjawab pertanyaan ustadz fatih.

Ustadz fatih langsung meghubungi seksi dakwah dibagian akhwat yang saat itu memang sedang berada dimasjid jami’ menanyakan tentang seorang wanita yang dicari Natsir.  Mas Garin yang pertanyaannya terabaikan terbawa arus cinta Natsir hanya mendengarkan ustadz dan Natsir berdiskusi. Hingga  Mas Garin mengajukan pertanyaan yang lain

“ Ustadz Fatih.. waktu di Mesir  pernah jatuh cinta”

            “ Alhamdulillah pernah akhiy.. meskipun gadis yang ustadz cintai “ ustadz fatih terdiam untuk sesaat dan memandang tafsir Fi zilal Al-Qur’an yang ada hadapannya dipegangnya tafsir berwarna hijau. semangkin erat tangan menggenggam tafsir karya Syahid Sayyid Qutub itu. Matanya terpejam dan terlihat  kesedihan mendalam dimana rasa sedih empat tahun yang silam selalu menghampirinya. Ustadz fatih akhirnya bercerita tentang gadis yang tetap berkesan dan masih menjadi bidadari dihatinya..” tafsir inilah yang selalu mengingatkan ustadz dengan dirinya dan tafsir ini pula yang membantu ustadz untuk lebih bersyukur meskipun tidak bersama dengan ustadzah yang luar biasa itu”. Tafsir Zilal Al-Qur’an itu  adalah mahar yang disiapkan ustadz Fatih untuk meminang seorang ustadzah, tafsir yang dibeli dari keringatnya bekerja diRumah Makan dimana jam kerjanya dari pagi hingga.. hingga pukul 23.00 waktu Mesir untuk musim dingin hal itu cukup berat hanya rasa fitrahnya yang menghangatkan udara musim dingin. Rumah makan itu disebut Math’am pekerjaan itu ia lakukan setelah beasiswa dari Kuwait terhenti, karena ustazh fatih telah menyelesaikan studi  licence ushuluddin di Alazhar Muhafazhah Syarqiyah.  Tafsir berjuta kenangan  itu juga pernah digeledah oleh warga pendukung presiden Mubarak saat konflik terjadi. Hingga tafsir itu mendarat di bandara soekarno Hatta. Namun buah apel hanya jatuh untuk orang-orang Eropa. gadis yang akan dipinang ustazd fatih lebih memilih  seniornya yang telah menyelesaikan masternya di Al-Azhar Cairo yang sesuai dengan hadis yang dipahami ustadzah berparas bidadari itu yang lebih memiliki harta, lebih gagah, memiliki keturunan bangsawan seperti keturunan kiyai, dan tentunya agamanya lebih bagus karena telah mengenyam ilmu dari para doctor-doktor besar di al-azhar dibandingkan dengan Ustadz fatih yang tidak punya keempat itu ustazh fatih hanya memiliki fitrah cinta yang dipersembahkan dan buku tafsir zilal Al-Qur’an . Mahasiswa pedesaan memang tidak layak bersanding dengan Ratu kerajaan kota seribu menara itu. Tafsir fi zilal al-qur’an yang memiliki banyak kenangan indah baik itu cinta, perjuangan, dakwah hingga obat untuk hati yang  bersedih.

            “ afwan ustadz bukan berniat mengingatkan dengan cairo ustadz?” mas garin merasa bersalah dengan pertanyaannya hingga ustadz fatih bersedih.

            “ khair..ngak apa akhiy..ana memang terharu dengan mesir dan pengalaman ustadz disana”

Allahu akbar allahu akbar!! Suara adzan asar berkumandang, nasir mas garin dan ustadz fatih menutup diskusi dan beralih menghadap  sang khaliq.

Cinta itu adalah fitrah

Cinta itu bukan untuk dihegemoni

Cinta itu amanah kata wali

Cinta itu keyakinan

Cinta itu menyakitkan

Cinta itu obat

Cinta itu ukiran hati

Cinta itu sa’adah

Cinta itu kenangan

Cinta hakiki itu suci dan hanya mampu dirasakan oleh orang-orang yang bersuci kemudian mengangkat kedua tangannya seraya bertakbir mengahadap Allah Maha Besar yang cintanya selalu ada untuk para pemburu cinta..Hasbiy Rabbi Ya Allah…

۞      ۞          ۞

 

 

 

 

Suara mobil angkot terdengar bising, kerumunan mobil itu saling berebut penumpang yang ingin keluar pasar menuju kediaman. Asap kendaraan yang mengepul ditambah bau aneka daging dan ikan membawa aroma kurang sedap bagi pengguna jalan, tapi inilah pasar rakyat Bukan swalayan atau Mall. Dikruman para penjual dan pembeli itu Terlihat sosok Mas garin dengan anak kecil yang dipegang tangan kanannya agar tidak tertinggal. Tidak lama kemudian seorang ibu datang dengan bahan-bahan masakan yang baru Ia beli dari pasar. Anak kecil itu langsung menemui ibunya,

“ mas terima kasih ya, sudah jagain anak ibu!”

“ sama-sama Bu saya pamit dulu bu mau ke tokoh buku”

“ hati-hati abang ”

sikecil melambaikan jemarinya, sikecil buah hati ibu jama’ah Mushalla, karena Tujuan mereka sama maka Mas Garin diminta tolong untuk menjaga sikecil agar tidak ikut mengerumuni padatnya pasar sayur. Kini Mas Garin menapaki tour-toar menuju Toko Buku. Seiring kaki melangkah Mas Garin menikmati indahnya kota Padang, iklan-iklan yang menghiasi pemandangan mata dari iklan calon Gubernur hingga iklan rokok Terlihat begitu besar. Berhubung sebentar lagi diadakan pemilihan gubernur maka para kandidat pasang iklan sebagai pengenalan awal. Tak terasa kaki telah berada di depan Toko Buku. Tas dititipkan dipenitipan barang kunci dimasukkan ke saku. kemudian menapaki tangga besi berwarna Millennium menuju lantai dua yang berisi aneka judul buku.

 Toko Buku yang dikunjungi Mas Garin adalah Toko Buku yang tergolong lengkap dari buku ilmiah hingga sastra tersedia ditoko ini. Ia menuju galeri buku agama islam, Terlihat tafsir Al-mishbah karya Ustadz Muhammad Quraisy Syihab, ada juga terjemahan tafsir Ibnu katsir juz tiga puluh, dan berbagai judul yang menarik untuk dibahas selaku mahasiswa Ushuluddin. Tangan kanannya meraih buku Tafsir Al-Mishbah dibolak-balik tafsir yang berjilid-jilid itu dan diletakkan kembali. Ia menyadari Uang yang ada disakunya hanya Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah. Diletakkan kembali jilid pertama kitab tafsir karya ulama dari Sulawesi selatan itu.

Matanya kembali tertuju kepada satu jilid buku karya seorang ulama dari suriah karya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia itu menarik untuk dibaca. Fiqih sirah al-nabawiyah karya Al-Syahid Syekh Ramadhan Al-Buthiy. Setelah dibalik ternyata uang yang ada disakunya belum cukup untuk membeli buku bagus karya mufti suriah yang syahid saat memberi pengajian diMasjid. Ia raih kembali sebuah buku tipis tentang sabar dalam Al-Qur’an dibaliknya buku tipis itu ternyata buku itu sesuai dengan  uang yang ada disaku Mas Garin, buku tentang sabar itu dibawanya menuju kasir.

“ Mas Gimana Kabarnya? J “ gadis berkulit putih itu tersenyum Ia menggenakan kerudung berwarna Pink dan mendekati Mas Garin, seolah-olah kenal dan akrab. Mas Garin hanya sedikit grogi kedatangan gadis cantik pakai kerudung lagi.

“ Alhamdulillah Baik,Sehat Maaf Dek ? Siapa Ya Kalau Boleh Tahu Mas Ngak Ingat? ”

“ Eemm Mas Gitu Ya Main Pura-Pura Ngak Kenal? Ayo Tebak Siapa? “

“ Boleh Lihat Tanda Pengnalnya Dek?” Mas Garin mulai tertawa setelah melihat kartu nama Maya. gadis kecil yang pernah menghadang Mas Garin dipengkolan didekat Taman Budaya.

“ Masyaalllah Mas Pikir Tadi Bidadari Yang Kesasar Beli Buku,,Rupanya Maya. Maaf Ya May..Mas Pangling.. Bener-Bener Lupa Mas”

“ Ngak Apa Mas, Yang Penting Maya Ditakdirkan Allah Ketemu Sama Mas Garin”

“ Maya Lagi Cari Buku?”

“ Iya Mas…Maya Lagi Cari Kamus Bahasa Prancis Untuk Persipan “

“Lho Memangnya Mau Ke kota keren paris?”

“ Insyaallah Maya Bulan Depan Kami Sekluarga Pindah Ke prancis, Karena Papa Dipindah Tugaskan Ke Kedutaan indonesia yang ada di prancis”

“ Mas Cuman Bisa Doakan Maya, Supaya Maya disana Bisa Menuntut Ilmu Dengan Baik. Ngak Ada Gangguan Dan Dimudahkan Allah Perjlanannya..amien”

“ Terima Kasih Mas..Oh Iya Mas Punya Akun Twwiter Gitu, Face Book, Atau Email Yang Masih Aktif.?”

“Ada May Tapi Ameil Udah Tiga Bulan Ngak Mas Buka-Buka”

“ Ya Udah Nih Akun Twiter Maya, Facebook Maya Dan Ini Email Maya.. jangan lupa ya mas bikin email atau akun jejaring social. Supaya maya bisa Tanya-tanya tentang Indonesia.”

“ insyaallah may “ kartu nama sekalian akun dan email maya dimasukkan kedlam saku.

“ Mas Permisi Dulu Maya” jarum jam menunjukkan pukul 11 maka mas garin harus segera kembali kemusallah darussalam.

“ Iya Mas Maya Pasti Kangen Sama Mas? “

“ Mas Maen Ke Paris Kalau Maya Kangen”Mas Garin mangkin terharu sehingga mencoba untuk bercanda demi menjaga air matanya yang sedikit lagi berlinang karena terharu.

“ amien ..Maya doain”

“asSalamu’alaikum Maya “

“ Wa’alaikum Salam Mas ”

Mas garin menuju kasir dan tak berpaling kebelkang. Ia menitiskan air mata karena terharu melihat gadis kecil itu telah berhijab. Mas garin terus berjlan menapaki tangga menuju kelantai bawah. Maya hanya bisa menghapus air matanya dengan sapu tangan miliknya. Ia terharu melihat sosok mas bersandal jepit yang Terlihat begitu tegar menghadapi sebuah perpisahan. Maya terdiam hingga silvia yang baru saja beranjak dari buku-buku kedokteran menghampiri adik bungsunya maya.

“Ada apa maya? Kok maya kliatan sedih? “

“ ngak apa-apa kak silvie, maya tadi ketemu mas yang maya ceritaiin itu. Maya terharu saat berpisah dengan mas itu”

“ Sekarang mas itu mana?” silvia mencari sang pemuda bersandal jepit yang dahulu diceritakan oleh maya.

“Udah pulang kak”

“ ya udah yok kita jemput mama yok“

Kedua gadis berhijab itu menghampiri kasir untuk membayar buku pilihan. Perjlanan menuju jalan sudirman tidak begitu jauh hanya menempuh waktu sepuluh menit sudah sampai ketujuan. Dari bank rakyat Indonesia seorang ibu melankahkan kakinya menuju gerbang dan kedua anaknya telah berda disana. Mobil putih itu melaju menuju kediaman anak-anak jalanan untuk minta doa dan izin pamit. Silvia juga menemui rekan-rekan yang ada diwisma. Suasana haru menyapa penghuni wisma tak terkecuali silvia sendiri yang berjuang bersama rekan-rekannya di bidang sosial. Anak-anak di wisma merasa kehilangan mereka menangis tersedu-sedu. Amin juga ikut terbawa suasana yang memaksanya harus menangis, hanya joni yang bisa tersenyum menikmati indahnya perpisahan dengan kak silvia. Perpisahan adalah awal dari pertemuan. Kadang sulit untuk berpisah dengan orang yang disanyangi. Maya silvia tidak bisa berlama-lama karena mereka harus beres-beres menuju Prancis.

“ Bercerita tentang sebuah Negeri dari sisi keindahan atau sisi lainya kepada sahabat yang belum mengunjungi Negeri tersebut merupakan hadiah  terindah. Ibarat memberi Tiket pulang pergi kepada seorang sahabat “

 

 

 

۞      ۞          ۞

 

 

 

[1] Sudah lama tinggal disini bang?

[2] Beri saya satu martabak kacang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s