BIDADARI SURGA

Lailah

Malam hitam tak ada cahaya lampu, hanya cahaya rembulan, bintang dan kunang-kunang yang berterbangan seperti lampion disaat bulan puasa. Hitam d an cahaya rembulan seperti luwak white cofee terlihat bagus,manis dan legik ada corak putih,cream dan semisalnya. Udara masih terasa dingin tak bersalju, hiruk pikuk kendaraan tidak terdengar lagi. Manusia terlelap mendengkur kecuali meraka yang berhati rabbani.

Lailah gadis belia terbangun dari tidurnya, Ia bermimpi bertemu paman jack. Matanya tertuju pada rak buku, tangannya tak sabar untuk meraih tulisan sang paman. Diletakkan bantal guling disamping ibunya, langkah kakinya menuju tempat berwudhu. Dimalam kelam itu Ia menghadap pencipta kegelapan dan cahaya benderang. Dihadapkan wajah mungilnya ke arah kiblat,dibentang sajadah pink bermotif polos tanpa gambar hanya garis ditepi sajadah berwarna putih, perlahan ia angkat kedua tangannya dan bertakbir mengagungkan pencipta Malam.

Munajat doa kerinduan Ia lafazkan, doa keslamatan dan kesuksesan terucap dari mulutnya dengan suara lirih. Ia terus mengulang doa agar dipertemukan dengan seorang paman. Mukena putih dilipat diatas sajadah ia beralih menuju meja dan kursi dihadapannya rak buku berisi tulisan dan buku-buku milik paman Lailah. Diraihnya buku kusam kecoklatan berisi tulisan usang. Dibuka lembaran pertama berisi kisah Bidadari sakura, kisah yang selalu diceritakan oleh Paman Jack ketika ia ingin tidur. Bila lailah selesai belajar bahasa indonesia bersama paman jack, lailah selalu dibacakan cerita-cerita tentang hijab, ilmuan dan pejuang islam.

Saat itu Lailah masih duduk di bangku sekolah Dasar Kelas dua SD. Kini Lailah duduk dikelas enam SD, dan paman jack mengembara di Negeri Yusuf. Saat paman dirumah lailah belum mau memakai hijab sebab teman-teman lailah tidak ada yang berhijab. Maka sang paman selalu menulis cerita tentang hijab, paman jack tak ingin keponankan satus-atunya berpenampilan tidak cantik. Dalam mindsite paman jack cantik itu dengan berhijab. Cerita-cerita tentang hijab selalu dibacakan paman jack sebelum lailah tidur.

۩ ۩ ۩

Bidadari Sakura

Lembaran pertama dibuka tulisan tinta biru menceritakan cerita seorang perempuan muda berilmu tinggi pakai hijab lagi berwajah asia ada coreanya sedikit, matanya indah seperti safir yang bercahaya selalu ada kegembiraan diwajahnya, bila ia tersenyum teman akan semangkin cinta dengannya, lawan akan luluh hatinya, Hud-hud akan terbang melayang-layang tak sadar siapa diri sebenarnya. Ia seorang guru di taman kanak-kanak, berprofesi sebagai seorang guru anak-anak usia dini bukan sebuah beban bagi perempuan muda berhijab.

Mengajarkan ilmu baginya sebuah kenikmatan, bila es krim dan coklat itu nikmati tetapi mengajarkan ilmu pengetahuan lebih ia sukai. Berinteraksi dengan anak-anak dapat melembutkan hati. Mengajarkan pengetahuan kepada mereka mengingatkan perjuangan seorang ibu. Perempuan berhijab itu bernama shafiyah. Shafiyah berarti jernih, bening, bersih, seperti hatinya yang bersih tiada prasangka keburukan. Sebab wanita cerdas seperti shafiyah akan berfikir positif dan menafikan pikiran-pikiran yang memburamkan hati.

lailah dapat memahami bahwa tulisan paman jack hanya fiktif, paman hanya ingin lailah menemukan hikmah dibalik cerita. Dibalik tulisan ada hikmah sebab hikmah merupakan tujuan setiap penulis. Tulisan tinta biru kembali dibaca. Malam semangkin larut matanya justru semangkin susah untuk tidur. Dilanjutkan lembaran kedua masih bercerita tentang bidadari sakura

Shafiyah tinggal disebuah flat milik seorang Dosen guru besar Universitas ternama Jepang ia tinggal di negeri sakura. Selain mengajar anak-anak Stap KBRI di jepang,shafiyah tercatat sebagai mahasiswi di salah satu Universitas di jepang. Sebagai muslimah yang taat dengan perinta tuhan ia tidak pernah terlepas dari balutan Hijab putih. Anak-anak staf KBRI memanggilnya Bidadari Surga. Sentuhan tanggannya dingin seperti salju di musim dingin, cara ia mengajar menarik, anak-anak terlihat antusias menyambut kedatangan shafiyah. Mereka selalu merindukan shafiyah.

Shafiyah seorang muslimah yang setia dengan kitabnya,Ia tidak pernah meninggalkan mushaf miliknya di flat sendirian. Mushaf kesayangannya berwarna merah seperti warna bunga sakura, kitab suci itu selalu dibawa ketika ia berpergian. Sebab diwaktu-waktu luang ia bisa membaca firman-firman tuhan dengan mentadaburi setiap ayatnya. Sangat wajar bila hati shafiyah itu bersih sebab yang selalu dibacanya kalam Allah, teman sehari-harinya Al-Qur’an, karena Al-qur’an sebagai syifa bagi orang yang beriman.

Lailah terinspirasi dari tulisan paman Jack, sejenak Ia tinggalkan tulisan bidadari sakura. diraihnya mushaf miliknya Ia membaca surat Al-Nur juga membaca terjemahan dari setiap ayat dan mencoba memahaminya dengan baik. Meskipun usianya masih belia lailah sudah bisa membaca al-qur’an s karena paman jack selalu membimbing keponakan tersayang agar bisa membaca al-qur’an.

Ibu lailah ikut terbangun karena mendengar lantunan tilawah al-qur’an malam menunjukkan pukul 1 dini hari. Ibu lailah mengambil wudhu dan melakukan shalat dua raka’at serta witirnya. Kini ia harus kembali tidur sebab malam semangkin dingin rasa rindu dengan paman jack sementara terobati, tulisan tangan paman jack ibarat dogeng-dongeng sebelum tidur.

 

۩ ۩ ۩

Elizabeit

Angin berhenbus kencang menerbangkan sampah, bungkus molto, hingga pasir-pasir gurun melayang-layang ke udara. Matahari menyengat hangat, cahayanya sempurna tanpa awan yang menhadang sinar cerahnya. Hamparan padang pasir tak berujung menjadi pemandangan yang menarik perhatian turis berambut pirang topi lebar tapi pakainya tidak mebawa camera dan air mineral merek barakah, bangunan segi tiga tetancap ibarat gunung singgalang. Warnanya kuning keemasan susunan bangunan megah itu seperti puzzl yang tersusun rapi. batu-batu kubus besar menjadi tujuan para pengunjung, berfose bersama dibidik dengan kamera 12 mega pixel. Klik..wajah tersenyum..
Tok..tok.. suara pintu terketuk pelan tidak bertenaga biasanya ketukan pintu seperti ketukan algojo.
“Ammu.. ammu !! inta fil ghurfah wa laa la’ah!”
“Aiiywa Ya Habibiy..Intazhir Lahzhah”
“ Ammu! fi Uncel jack fil ghurfah?”
“Insyaallah..tafadhaliy.. udkhuliy ya ‘aslah!” Abdurrahman mempersilahkan bocah kecil beramput pirang kepang dua memasuki rumahnya.
“ jack! Jack! Boneka berbiymu teko iki”
Tulisan tentang padang pasir dioggokkan diatas meja, Ahmad zakaria pemuda dari sumatra biasa dipanggil uncel jack. Dipasang tampang bersahabat sebab jack penampilannya sangar. Dibawanya molto makanan ringan harga 1 le berisi coklat gandunya lembut enak rasanya. Jack keluar dari gua pertapaannya dirapikan rambut sebahu miliknya. Keluar kamar dengan wajah tersenyum tapi masih terlihat sangar.
“uncel jack! ley mafisy basmah? Inta za’lan wala eiy?” bocak kecil memang peka dengan wajah, padahal zakaria sudah pasang senyum terbaiknya.masih juga dibilang tidak ada senyuman diwajah.
“ am happy littl sweety..izayy home work hallait?” zakaria mulai mengajak berinteraksi bocah kecil beramput kepang dua
“lissa ya ammu! Ana ghaiy hena haa’mal wagibah al-manjiliyah”
“Dont worry littl sweeety! Na’mal sawiyyan” jack aduk-aduk bahasa asing seperti buat bakwan.
Eliza gadis kecil mesir anak dari baba Hamido ayahnya seorang penjual barang-barang elektronik dari komputer,laptop, motherboar,hingga pembersih Lcd. Ammu Hamido seorang pembisnis handal ia memiliki banyak toko di kawasan El-Qaumeyyah hingga Ia teropsesi untuk merampak bisnisnya ke eropa. Ia ingin eliza putrinya meneruskan bisnisnya kelak. Eliza duduk di kelas enam tingkat dasar di sebuah sekolah elit kawasan El-syarqiyyah Chambrice Elementri School. Sekolah dengan SOP Eropa, bahasa inggris menjadi bahasa pengantar disekolah Eliza. Jack bukan pakar bahasa inggris Ia hanya pandai meniru orang eropa berbicara. Eliza tertarik dengan gaya uncel jack berbicara.

Ammu hamido juga mengamanahkan Eliza agar dibimbing bahasa inggris. Eliza gadis kecil yang cerdas, semangat belajarnya tinggi tidak suka dengan nilai delapan ia hanya suka nilai sembilan dan sepuluh. disekolah ia juara kelas. Jack hanya seorang mahasiswa Al-azhar. mengajarkan bahasa inggris mengingatkan Lailah keponankan tercinta yang usianya tidak jauh berbeda dengan Usia Eliza. Melihat eliza tanpa hijab terlintas diangan-angannya gadis cilik Lailah yang masih belum berhijab.
“Uncel jack.. ?” eliza merasakan sesuatu dari wajah ankel jack yang sagar berubah jadi wajah tha’meyyah yang diremas-remas.
“Am Happy!! Mafisy musykilah!” jack berlagak gembira padahal ia masih sedih melihat eliza dan lailah yang belum mau berhijab.
Eliza menyodorkan buku cerita berbahasa inggris yang dibelinya ditoko buku Dar Al-Ma’rif bercerita tentang kerajaan Fathimiyah. Eliza memiliki kebiasaan menerjemahkan bahasa inggris ke bahasa arab. Kali ini ia mengerjakan tugas terjemahan bahasa inggris bersama Mahasiswa al-azhar. Zakaria hanya seorang pembaca sedangkan Eliza mengartikan apa yang dibaca jack. Cerita bermula dengan judul.

Elizabeit
Seperti biasa Eliza gadis kecil berambut kepang dua dengan ikat pita pink ini selalu berkunjung menemui sosok pria bersungut seperti Jambariy, berjanggut dan berambut ala Tarzan dia seorang petapa. Kali ini Eliza datang membawa buah tangan untuk dua penghuni rumah kontrakan yang sederhana. Buah Tin dan Strawbery dibungkus dengan plastik dikemas menggunakan kotak plastik seperti perbekalan anak paud menuju ke sekolah. Kedua Tangan mungil Eliza membawa bingkisan sebagai hadiah untuk Ahmad zakaria masyhur dengan panggilan Uncle jack. Senyum gadis kecil Eliza tidak pernah lekang dari wajah mungilnya, cantik, seperti titisan caleopatra. Mata lebarnya memberi berita bahwa dirinya putri Mesir,mata lebar yang sering dijumpai di shoun atau ma’bad yang ada di bumi Mesir, rambut pirangnya juga menyingkap kedatangan Alexander dan emperium Romawi yang pernah berkunjung dan menetap hingga memiliki keturunan.
Tek..tek..tek.. hentakan kaki dengan sendal hitam Eliza menapaki tangga, langkahnya terus dipercepat tidak sabar bertemu Uncle Jack sang petapa.
“tok..tok..ammu..ammuu..fi ahad ghawwah” gadis kecil Eliza mengetuk pintu dengan tangan kirinya sebab tangan kananya masih memegang buah tangan. Tidak ada yang membuka pintu. Hanya suara lagu Nancy Ajram yang terdengar oleh Eliza.
“lauw saaltak inta mashriy ulli eiy..ulliy mashriy ibni mashriy waibni masriy allah ‘alaik, lauw saaltak inta mashriy ulli eiy..ulliy mashriy ibni mashriy waibni masriy allah ‘alaik, ul haq bi ala su’ wir fa’ ra’sak li fuk, ana mashriy wa buya masyriy, bisamari huluniy mashriy….wa kulli masry alalaik”
Abdurrahman teman serumah Ahmad Zakaria pencinta lagu-lagu Mesir dari Nancy, Eliza, Shirin, Jeenat, Mareyam, dan lainya. Mp 3 disambungkan ke sound ukuran sedang, tubuh abdurrahman direbahkan diatas sofa sambil tiduran membaca buku dihibur dengan lirik Nancy Ajram ditemani satu gelas ukuran besar juz jambu biji. Kenikmatan dunia menafikan Suara bidadari Mesir Eliza. Untuk memperdalam ilmu Bahasa Mesir Abdurrahman menempuh metode listning Egypt song.
“ahlan..ahlan ya habibiy al-biy…ya ‘aisyi..hubbiy..malesy ammu abdurrahman muys biyasma’ sautak..”
Zakariya menggandeng tangan kecil Eliza menuju ruang tamu. Diangkatnya tubuh kecil Eliza didudukkan di atas sofa. Eliza tersenyum melihat Uncle jack memperlakukannya seperti keponakan yang pernah diceritakan zakaria pada Eliza. Zakaria menuju dapur mengambil asir manggo, roti gandum dan dua gelas kaca. dituangkan juz mangga kedalam gelas dihidangkan biskuit Molto dari gandum lembut, tepung pilihan di dalam roti molto diisi dengan coklat yang nikmat. Eliza memberikan bingkisan buah kepada Zakaria. Mata Zakaria berbinar hilang wajah penjahatnya.
“ ey dah ya eliza?” apa ini? Eliza! itulah kira-kira ungkapan zakaria.
“dah hadayah min mareyam..” ini hadiah dari Mareyam.
“dari Mareyam kakakmu?” mata Zakaria terbelalak seperti mendapat hadiah dari Telkomsel. Tangannya berhenti sejenak menuang juz mangga dingin.
“hahhhahh bukan! mareyam penjual buah di depan rumah”
Eliza tertawa melihat ekpresi uncle jack. Penjual buah dapat ditemukan dipinggir jalan di bawa elitnya gedung-gedung tinggi. Biasa penjual datang dari pelosok perkampungan membawa hasil pertanian seperti sayuran dan buah-buahan. Jika sayur maka sayuran masih segar bila buah maka buah masih terlihat segar.
Zakaria tertawa dikicuh oleh gadis kecil berlesum pipit, Abdurrahman bangkit dari kursi empuk setelah mendengar kegembiraan pencinta buku bacaan. Abdurrahman menghampiri gadis kecil Eliza menyapa kabar Eliza, juga kabar ayahnya Hamido yang tidak mungkin terlewatkan adalah kabar kakaknya Mareyam. Eliza terlihat gembira dengan hangatnya penyambutan orang indonesia.
Mareyam bint Hamido
eliza, Mareyam, Ahmad Zakaria dan abdurrahman berencana jalan-jalan sore hari sebab Mareyam baru pulang dari rumah kedua ayahnya cairo. Bingkisan yang dititipkan oleh Eliza tidak sekedar membawa buah-buahan tetapi sepucuk surat untuk keluarga kecil indonesia agar kedua pemuda tampan jika dilihat dari samping kanan itu bersdia untuk menemani Mareyam dan Eliza jalan-jalan sore seperti ABG seusia Mareyam. Abdurrahman terlihat bahagia sebab dirinya yang pertama membaca surat dari Mareyam.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.12 WM waktu mesir. Ahmad zakaria baru pulang dari mushalla belakang rumah, kembali duduk di kursi dihadapannya meja tempat menulis pelajaran. Abdurrahman terlihat sibuk dari mandi, nyetrika baju celana, potong kumis hingga persiapan pound jika sewaktu-waktu diperlukan. Berbeda dengan Ahmad Zakaria, ia sibuk sendiri dengan baca-baca majalah.
“heiy bang jack! Mbok mandi, gosok gigi, potong kumis, rapikan brengosmu, setrika baju, pake bedak kayak aku ngene! kan keren, mwacho, stylis, dan trendi” Abdurrahman ngoceh seperti burung emprit di sawah.
“pilih aku tampil biasa atau seperti permintaanmu?”
“sip.. mandi..potong kumis ajalah jack! biar rapi ” abdurrahman menyarankan.
“yo wes tak mandi ndisek! Tungguin pintu.. sapa tau ada yang ngetuk-ngetuk.” Ahmad zakaria menyambar handuk dan pencukur kumis.
Abdurrahman mulai menanti kedatangan Mareyam dan adiknya Eliza, sambil menanti ia membaca buku filsafat diktat kuliah. Terus menanti hingga bedak wajahnya luntur tapi keluarga paman hamido belum juga datang. Zakaria keluar dengan santai merapikan rambut panjangnya.
“salamu’alaikum..” suara salam dari seorang perempuan.
“wa’alakum salam” Abdurrahman langsung berdiri tegak menuju pintu rumah. Membuka pintu dengan memasang tampang semenarik mungkin ditambah senyuman paling indah dalam hidupnya. Namun tidak semua yang jatuh dari pohon mangga itu buahnya. Begitu pula perempuan dihadapan abdurrahman. Seorang penjual halib jamus thabi’iy susu kerbau murni itulah yang dijual oleh seorang gadis mesir wajah lugu, berhijab hitam, memakai gamis hitam wajahnya penuh dengan debu, matanya merah akibat debu perjalanan, keningnya berkeringat, alis matanya tebal matanya teduh mata kejujuran bukan mata sembarang wanita, bibirnya kering akibat letihnya perjalanan. Saat yang datang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan abdurrahman pria berpenambilan mwacho ini berpaling dari penjual susu kerbau murni.
“jack langgananmu teko” wajah abdurrahman nelangsa.
“zayyak ya ‘aisyah? Aiys wahid bas..” ahmad zakaria menyapa kabar penjual susu. ‘Aisyah namanya merupakan langganan ahmad zakaria, ia seorang gadis mesir yang tinggal di pedesaan. Melanjutkan setudinya di al-azhar sekolah menengah atas. ‘Aisyah pernah bertemu saat zakaria berkunjung ke tempat temannya di pedesaan.
“hamdulillah ammu ahmad..anniy quwais insyaallah” gadis desa itu menyerahkan satu plastik satu kilo susu cair. Uang lima pound diterima ‘aisyah.
“izzay dirasatak ya ‘Aisyah..quwais bardhu?” zakaria juga bertanya soal studinya disekolah.
“hamdulillah kullu quwais insyaAllah” bibir keringnya tersenyum wajah berdebunya terlihat berseri-seri. Gadis desa itu berpamitan dan mengucap salam untuk paman abdurrahman. Orang mesir sering menitipkan salam untuk orang yang dikenal biasanya mereka berkata balligh salamiy ila fulan. Sampaikan salamku pada si fulam.
“orang ganteng! Ada salam dari ‘aisyah” pintu ditutup, zakaria berjalan menuju kulkas untuk menyimpan susu alami.
“ngeledek jack ya?” abdurrahman tambah sebel dan lemas.
“emm..diberi salam kok ngak gelem? Ada yang salah dengan wanita muslimah itu? Apa menurutmu tentang ‘Aisyah?” zakaria sedikit kecewa dengan sikap sahabatnya yang diberi salam namun menolak tanpa sebuah alasan yang pasti.
“sadar jack! Sadar! ‘Aisyah itu bocah ndeso, cah kampung! pakek an lagi! kampungan!” abdurrahman kecewa berat akibat takdir pertemuanya dengan gadis desa bernama ‘Aisyah.
“ya aku sadar ammu abdurrahman.. ahmad zakaria orang desa, kampungan seperti ‘Aisyah! Lalu bagaimana dengan dirimu?” zakaria mencoba meraba isi hati sahabatnya bahwa mereka berdua juga orang desa.
“loh beda toh jack! Kita di Mesir sekarang, Mesir! Luar negeri kita bukan orang desa lagi!” abdurrahman masih istiqamah dengan prespektif tentang dirinya sudah menjadi orang luar negeri.
“yo wes! Tapi menurutku ‘Aisyah itu gadis desa luar biasa, meskipun dia orang desa Ia tidak menaggalkan kehormatannya selaku wanita muslimah. Ia tetap berhijab menutup auratnya. Perlu diketahui abdurrahman ia menghafal kitab sucinya Al-qur’an secara sempurna tanpa ia sisakan sediktpun” zakaria menepuk bahu sahabatnya.
“Alllahhu akbar! Astaghfirullah! Aku terbawa bisikan setan jack!” abdurrahman tertunduk. Akhirnya ia sadar kalau dirinya juga orang desa yang tidak berbeda dengan ‘Aisyah. hanya saja Ia sedang diuji bersyukurkah dengan kesempatan dapat melanjutkan studi di bumi kinanah Mesir atau malah kufur dengan nikmat kesempatan belajar. Memang benar merantau membuat diri menjadi lebih baik dengan izinNya.
Diskusi berlajut hingga jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WM. Kedua titisan caleopatra belum juga datang. Zakaria hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya yang menyadari siapa mereka sebenarnya. Abdurrahman juga tersenyum meraih tangan zakaria erat-erat. Sahabat qarib tidak akan tergantikan. Karena sahabat yang akan mengingatkan jika kita khilaf sahabat akan meraih tangan kita saat terjatuh. Dengan adanya sahabat hidup terasa bermakna.
“assalamu’alaikum” kali ini suara wanita nada suaranya lebih lembut.
“wa’alaikum salam” zakaria dan abdurahman menjawab dari dalam rumah. Zakaria mempersilahkan abdurrahman membuka pintu. Sebelum membuka pintu abdurrahman tetap menampilkan wajah kegembiraan serta senyum yang menawan.
Dihadapan abdurrahman titisan caleoptara yang sudah besar kakak eliza. Mareyam berdiri dihadapan abdurrahman senyum mesirnya melumpuhakan abdurrahman. Bidadari mesir itu berpenampilan ala cairo. Merapikan rambut pirangnya yang dismoting lurus terlihat lembab tidak kering tidak bercabang diselipkan kep daun Hijau dirambutnya. Alis matanya hitam matanya lebar bola matanya berwarna hitam pekat, kornea dan rentinanya indah belum pernah abdurrahman melihat mata seindah mata mareyam, mata gadis mesir. Mareyam tersenyum kepada Abdurrahman.
“kha..kha…khalas Mareyam” abdurrahman kikuk.
“insyaAllahh..yallah ya abdarahman! Ammu ahmad!” Mareyam mengajak kedua pria ganteng jika dilihat dari sebelah kanan bila dari depan gubrak.
“Uncle Jak! You looked like Wolvrine!” eliza bersuara kalau ahmad zakaria seperti Wolvrine bintang x men.
“Really eliza? But I hope I looked like Mister Been” zakaria menirukan wajah kocak seperti Mister Been, Ia mulai bercanda dengan eliza. Ia raih tangan eliza, seperti ia meraih tangan keponakan yang ia sayangi Lailah.
“hahha.hahha..hahhaha..” Eliza tertawa, Mareyam terlihat tidak rela adiknya begitu akrab dengan zakaria dibanding dengan kakaknya sendirinya.
“ngelawak jek!” abdurrahman merasa keromantisan pertemuannya dengan Mareyam terusik akibat tawa kedua pencinta bacaan dan dongeng itu.
“khalash ya ‘am Yalla..nimsyi baah” zakaria berjalan dengan eliza. Disusul dengan Mareyam dan Abdurrahman.
CAFE AIS KARIMUN
wajah letih Mareyam terabadikan oleh camera digital. eliza memang sedikit usil dengan kakaknya Mareyam. Mungkin keusilan eliza yang menjadi faktor internal keenggenan hati mareyam untuk tinggal bersama Eliza. Bagaimana tidak, baru saja Mareyam duduk dengan wajah keletihan, bibir yang manyun serta mata terpejam. Clik! Habislah titisan caleopatra Mareyam, kini titisan nenek sihir. Abdurrahman tidak suka dengan tingkah eliza dan merampas camera miliknya yang dipegang oleh eliza dan menghapus foto jelek mareyam. Eliza cemberut manyun tidak ada raut kegembiraan wajah eliza tidak berbeda jeleknya dengan wajah Mareyam saat kecapeaan. Ahmad zakaria selaku pria yang suka membaca mencoba mengaplikasikan apa yang ia baca.
“look at around the streat! I look Amanda Sheyried!” zakaria memecahkeheningan.
“really uncle jack?” mareyam dan eliza penggemar aktor itu mencari-cari di sekitar jalan.
“where is she? You lier!” eliza dan marayem tambah manyun.
“now she sitting beside me” zakaria mencoba menghibur dan menyamakan eliza, mareyam dengan amanda syefried bermata lebar.
“Uncle Jack! I not like it” eliza memukul meja berulang ulang kegirangan, bibirnya tersenyum.
“uncle jack you really Mister Been, I Like You” mareyam geleng-geleng dengan bibir tersenyum raut wajah yang gembira.
“yes..that true Mareyam, you looked like Amanda! “ abdurrahman menyanjung Mareyam.
“i think that not true! Thats a trap! “ mareyam menganggap apa yang dilakukan oleh zakaria sebuah trap.
“it’s not a trap but reality”
Ice cream paling nikmat di kota itu disuguhkan. zakaria sudah tak sabar menikmati ice cream coklat kesukaannya. Eliza mendekatkan ice cream coklat pesanan zakaria dan menjauhkan es cream Farwalah pesanan Abdurrahman. mungkin eliza masih marah dengan abdurrahman. Mareyam hanya memandangi zakaria yang hening tanpa suara, tanpa kata-kata. Mulutnya sibuk mengumul Ice cream. tangannya tak henti-henti menciduk ice cream dengan sendok plastik. Wajah desanya terungkap, hilang wajah penjahat kala zakaria menikmati ice cream. Eliza hanya terdiam dan menikmati ice cream susu coklat pesanannya sebab eliza faham kalau zakaria rajanya makan ice cream. Abdurrahman mencoba berinteraksi dengan Mareyam soal kuliah di Cairo University.
“alhamdulillah..finish ” zakaria meraih tisu diatas meja membersihakan sisa coklat yang ada di tepi mulutnya.
“really ?” Mareyam tidak percaya sebab ia baru menikmati sepertiga ice cream miliknya.
“uncle jack, could you tell us a story?” eliza ingin dibacakam sebuah cerita.
“why not! What story you want my little sweety?”
“love story!” Mareyam menyela jawaban eliza.
“ you agree with your beuatiful Sister Eliza?”
“yes..to day I agree with My sister..just for this day! Only this moment..tomorrow isn’t”
“You Abdurrahman?”
“alah jack! Ndang cerito ndang wes!” abdurrahman paling alergi dengan cerita fiktif,cerita Novel, ia hanya suka cerita yang pasti-pasti saja. Maka interakasi abdurrahman sedikit kaku tidak romantis.

A Reader And A Writer

Di negeri dongeng hiduplah keluarga harmoni, sebab ayah dan ibu keluarga itu suka dengan kerukunan. Keluarga thomas Hendrik, ya Ayah dari kelurga bahagia itu thomas Hendrik ibu dari keluarga penuh kasih sayang itu Maria lathifa. Keluarga yang menganut keyakinan bahwa tiada tuhan selain Allah. Hanya keluarga thomas yang menganut agama hanif di negeri dongeng. Kedua pasangan serasi itu dikarunia dua putri yang cantik-cantik Diana Hanifah dan Syifau Qalbiy. Nama yang diberikan oleh pengunjung dari negeri padang pasir saat pedagang itu singgah di sungai reynah. Keluarga thomas menetap di pinggiran sungai reynah berkebun anggur dan berternak. Kedua putri mereka disekolahkan disebuah universitas artistik tertua negeri dongeng.
Diana Hanifa kakak dari syifau qalbiy, nama yang aneh bagi penduduk Negeri dongeng. Diana hanifa, wanita yang terlihat sangat dewasa. Berwajah kasih sayang seperti namanya hanifa. Secantik putri negeri Dongeng tetapi kecantikan diana disembunyikan dibalik hijab Hijau yang menutupi rahasia kecantikannya. Matanya bening seperti mata air sungai Reynah. Senyum bibirnya yang indah seperti anggur merah dikebun pinggir sungai reynah Manisnya ngak ketulungan.
Selaku keluarga terhormat Diana tampil terhormat pula Ia mengendarai kuda coklat untuk pergi menuju sekolah menulisnya. Seperti biasa putri-putri tuan thomas itu selalu pergi ke sekolah bersama bila Diana mengendarai kuda coklat maka syifa menaiki kuda putih yang lebih bagus lebih cantik dari kuda coklat. Sebagai kakak Diana tampil sebagai sosok kakak yang begitu dewasa Ia tidak ingin adiknya Syifa menangis merengek-rengek seperti anak kecil dan tidak berengkat ke sekolah. Meskipun kuda putih itu hakikatnya milik Diana sebab kuda putih itu hadiah dari Ratu Negeri dongeng saat dirinya memenangkan saibara menulis sejarah sungai reynah. Tetapi sifat kedewasaanya merasuk dalam dirinya melekat bagaikan perekat kayu kapal yang membawa dampak keselematan bagi penumpangnya.
Syifa gadis bungsu tuan thomas memiliki paras seperti ibunya, matanya Indah bercahaya seperti kilauan berlian, keningnya bersih sebersih sungai reynah, Alis matanya hitam, bulu matanya lentik, pipinya kemerah-merahan seperti buah delima. Tatapan matanya membawa sejuta rahasia yang tidak bisa diterjemahkan oleh penerjemah, senyumnya mengundang lebah untuk merenggut dari bibir tipisnya karena senyumannya lebih manis dari madu, dagunya menarik para pelayar untuk singgah sebentar menikmati indahnya lekukannya. Suatu kali syifa marah matanya tidak seperti ukuran yang biasa terlihat, bibirnya tidak bergerak ke arah kanan dan kiri, bola matanya mengarah ke atas. Meskipun sedang berang Ia tetap terlihat cantik. Kecantikannya melebihi kecantikan ratu negeri dongeng. Untuk menyembunyikan kecantikannya putri tuan thomas menggenakan hijab hitam, dan penutup muka hitam. Selendang hitam panjang ia gunakan sebagai penutup wajah cantiknya hanya mata indahnya yang terlihat.
“apakah syifa secantik diriku?” Eliza ingin seperti syifa.
“tentu saja bila dirimu menggenakan hijab sepertinya” zakaria menyarankan Eliza untuk menggenakan hijab seperti syifa bila ingin terlihat secantik bidadari sungai reynah.
“bagaimana denganku? Apakah ia lebih cantik dariku?” Mareyam ingin menyamakan dirinya dengan bidadari sungai reynah.
“tidak, bidadari sungai reynah itu bahkan lebih cantik darimu, tetapi bila dirimu mampu menutup wajah dan rambutmu dalam satu tahun dirimu akan terlihat secantik bidadari sungai reynah itu! ” zakaria memberi solusi kecantikan. Terapi kecantikan dengan berhijab.
“Really Uncle jack?” eliza dan mareyam tidak percaya.
“You should try what I said and Than you will know the answer!” zakaria memberi tantangan kedua titisan caleopatra untuk berhijab.
“wadoh jack! Dongengmu membuat manusia gila! Edan tenan dongeng dustamu jack!” abdurrahman protes dengan terapi kecantikan zakaria. Pada dasarnya wanita itu cantik, sedangkan kecantikan yang dimaksud oleh zakaria adalah kecantikan ruh bukan jasmaniy. Eliza dan Mareyam belum menyempurnakan kecantikan yang sesungguhnya oleh karena itu Ia mengarang dongeng tentang kecantikan.
“SHUT UP!!! ” mareyam dan Eliza berang kepada abdurrahman kedua putri tuan hamido memukul meja bersamaan mata kedua wanita mesir itu membesar menirukan mata syifa bidadari sungai reynah.
“I Will Read The Story Next Day” zakaria merapikan bajunya dan celana jeansya ingin beranjak dari kursi.
“plisssss uncle jack..don’t do that!” mareyam dan eliza memegang kepalanya. Wajahnya melas matanya ingin melanjutkan kisah bidadari sungai reynah.
“ hot choklat! I think this work!” eliza paling tahu dengan kesukaan ahmad zakaria. Mendengar tawaran satu cankir coklat hangat, matanya terbelalak, bibirnya tertarik kekanan dan kiri, ia tertawa dan kembali duduk.
“yes, i think i should continue my love story”
“ yes..yes..yes..its work!” eliza memandang Maryam merasa bangga berkat dirinya cerita dapat dilanjutkan.
Zakaria masih tetap terdiam sambil tiduran, karena secangkir coklat hangat belum berada dihadapannya. Seolah-olah ia tidak bertenaga karena secangkir coklat belum ia nikmati. Mareyam tidak ingin kalah dengan eliza, ia bergegas menuju pelayan merampas secangkir coklat hangat dari tangan pelayan dan menghidangkan untuk ahmad zakaria.
“reader? It’s what you want?” mareyam mempersilahkan zakaria untuk menikamti secankir coklat hangat.
“I smell a cup hot coklat!” mata zakaria, seolah-olah baru dari tidur kriyep-kriyep.
“Yes..yes I win! I win! I win and you…” mata mareyam mengarah ke arah eliza.
“wait” Eliza tidak ingin kalah. baru saja jack ingin menikmati secangkir coklat. eliza menyentuh cankir mengangkat dari piring kecil menepelkan ujung cankir keramik putih ke mulut zakaria. Zakaria sudah seperti bayi kolot yang disuapin.
“the real winner is ..” eliza menatap mata Mareyam. Kedua putri tuan mahmoud ini tidak pernah akur. Seperti thom and jerry.
“ok!..Diana Hanefah” zakaria menuturkan seorang nama penulis hebat.
“ndang wes jack!” saran abdurrahman agar mempercepat dongeng.
Diana hanifah putri tuan thomas itu memiliki keahlian dalam bidang menulis. Tulisannya mampu memenjarakan pembaca terperangkap lewat keindahan dalam merangkai kata. Apabila pembaca telah berada di dalam penjara tulisanya. Ia suguhkan cerita yang menggugah hati pembacanya. Diana mampu meramu dan meracik tulisan seperti meracik makanan itulah keistimewaan penulis putri Tuan thomas. Bila penulis lain menyuguhkan kritik sepedas cabai atau merica, diana mampu mengubah kritik lebih nikmat ia mampu memilih kata sehingga krtikan terasa lebih nikmat tidak terasa pedas. Krtikan yang disampaikan diana lewat tulisan ibarat sebuah nasihat sesama manusia yang saling menasehati. Penulis seperti diana merupakan penulis berhati kapas. Sebab kelembutan hatinya mampu membahagiakan pembacanya.
Suatu hari diana dan adiknya syifa menikmati liburan di pinggiran sungai reynah. Kedua putri tuan thomas menunggang kuda dan menelusuri pinggiran sungai. Diana membawa tas berisi peralatan menulis, sedangkan syifa membawa peralatan melukis. Syifa gadis cantik yang memiliki keahlian dalam bidang lukisan. Jemari lentiknya mampu mengcopy pemandangan ke dalam kanpas.
Pinggiran sungai di telusuri namun tempat untuk melukis dan menulis belum juga didapati. Kedua putri tuan thomas memperlambat kuda yang ditunggangi. Mata wanita cantik syifa terarah ke sebrang sungai sebuah pohon yang rindang dibawahnya batu ukuran besar. Sebuah tempat yang cocok untuk melukis panorama sungai reynah. Syifa menawarkan untuk menuju pohon rindang. Diana menyetujui tempat di seberang sungai. Kuda mereka ikat di sebuah pohon. Seorang pemuda berambut panjang memakai baju dari kulit binatang menghampiri kedua putri tuan thomas. Pemuda berkulit coklat itu menawarkan jasa penyebrangan.
Syifa mengemas peralatan lukisnya, diana membantu adiknya menaikan peralatan ke dalam sampan ukuran kecil. Pemuda berambut panjang itu membuka peti kotak berisi buku-buku bacaan. Menawarkan kepada penumpang kapal untuk memilih cerita apa yang mereka sukai. Syifa tidak menjawab tawaran pemuda berkulit coklat. Ia menatap keindahan sungai reynah menemukan inspirasi dan merekam dalam ingatnnya. Tangannya menyentuh dinding sampan memutar-mutar jemarinya seolah-olah ia sedang melukis.
Diana tertarik dengan tawaran pemuda sampan. Ia memilih cerita sungai reynah. Pemuda itu mulai mendongeng, sebenarnya buku-buku yang ada dalam petinya hanya buku kosong tidak ada cerita di buku itu. Tidak ada pula tulisan dibuku itu. Tetapi, sang pemuda pendongeng seolah-olah sedang membaca buku untuk meyakinkan penumpang sampaan kecilnya. Cerita itu tentang putri sungai reynah. Putri cantik yang hidup di pinggiran sungai reynah yang selalu terdiam bahasa yang Ia gunakan hanya bahasa jasadnya. Body languange.
Pemuda mulai bercerita, Hujan menyapa putri namun Ia tetap saja diam. Tiada kata atau ucapan. Mendengar cerita pemuda berbaju kulit hewan. Syifa angkat bicara.
“Sudihkan tuan menceritakan tentang merpati. Bila tuan bersedia aku akan mengikuti sampan kecil ini hingga cerita tuan berakhir”
“bagaimana nona cerita sungai reynah kita ubah?” pemuda berkulit coklat bertanya kepada diana.
“baik ikuti cerita adikku syifa” diana mengenalkan nama adiknya yang membisu. Mata syifa membesar, dahinya berkerut tetapi masih tetap cantik.
“Kenalkan nama saya, markewala” pemuda itu begitu percaya diri mengenalkan namanya.
“saya diana hanefa” diana tersenyum meraih pena dan kertas yang ada di tas miliknya.
Pemdua mulai bercerita panjang lebar tentang merpati, merpati hijau itu ibarat seorang perempuan yang shalihah, merpati hitam adalah wanita bangsawan, merpati putih ibarat sosok wanita yang cantik paras dan kepribadiannya. Putih merupakan simbol agamanya baik, hijau simbol kewara’an, dewasa, hitam simbol kebangsawanan.
Sang pendongeng mulai kehabisan cerita hingga ia terpaksa mengantarkan kedua putri tuan thomas ke sebrang sungai. Diana hanya tersenyum melihat pendongeng tak mampu melanjutkan ceritanya. Lembaran kertas diserahkan kepada pemuda sampan. Syifa menyerahkan sketsa kertas seorang pemuda yang sedang bercerita.
“markewala, kamu harus menulis! Bila tidak maka penumpang sampanmu akan meninggalkanmu” diana bertutur.
“markewala, kamu harus melukis! Bila tidak dirimu tidak dapat meneruskan ceritamu” syifa bertutur.
“bolehkan akau belajar menulis dan melukis dengan kalian?” markawela mendapatkan kedua putri tuan thomas terbelalak.
“ apa? Inikah sebuah perangkap? Engkau bercerita dan secara sengaja engaku hentikan cerita? kamu !” syifa akhirnya mengeluarkan suara kerasnya.
“baik ikutlah dengan kami” diana hanifa mempersilahkan marwalah untuk mengikuti perjalanan menulis dan melukis.
Pohon yang rindang dihadapan kedua putri tuan thomas, syifa bergegas menuju batu untuk melukis pemandangan. Diana meraih pena dan kertas duduk disamping adiknya menemani syifa melukis. Diana tidak menulis ia letakkan pena dan kertas miliknya disamping peralatan melukis. Diana belajar bagaimana adiknya melukis. Markewala tetap berada di sampan kayu miliknya sebab kedua putri tuan thomas belum juga mempersilahkan.
“Kemarilah” diana melambaikan tangan agar bersegera menuju tempat kedua putri tuan thomas berada.
Markewala datang dengan sopan, mengangkat kedua tanganya meletakkan di kedua pipinya. matanya menatap lukisan aliran sungai dan sebuah sampan, seorang manusia yang terus berdiri di atasnya. Markewala adalah objek lukisan syifau qalbiy.
“apakah itu aku?” markewala tidak percaya.
“ya itu dirimu yang selalu menanti” syifa akhirnya bertur lembut.
“diana sudihkah dirimu menuliskan arti dari bahasa yang digunakan oleh adikmu?” markewala tidak mampu memahami bahasa kanpas.
“adikku belum selesai belajar melukis, apkah dirimu masih ingin menunggunya? “ diana menjawab pertanyaan markewala.
“aku akan menantinya.. sebab pelukis dan pemilik bahasa kanpas itu akan aku ceritakan kepada anak-anakku kelak bila diriku telah tua” markewala bersedia menunggu.
“hufffff..baiklah” diana menghela nafas.
“aku akan menanti terjemahan dari bahasa kanpas adikmu di pinggiran sunggai Reynah. bila aku tiada atau tenggelam di sungai Reyna. Engkau cukup menghanyutkan tulisan itu di sungai reyna”
“ the end ” abdurrahman mengakhiri
“the story is over uncle jack?” eliza masih ingin mendengar cerita zakaria.
“ some day i will tell you” zakaria tersenyum.
“you promise me?” eliza menatap zakaria.
“aiiwa ya habibiy albi, ‘asyi, hubbiy, jamilati, ya malikatiiy shaghiratiy” zakaria bercanda dengan eliza..
“hah hahha hahha..” eliza tertawa melihat wajah kocak ahmad zakaria.
“I can take many lesson from your love story uncle jack?” mareyam mendapatkan hikmah cerita.
“ can you tell me what you got?” zakaria ingin tahu.
“ you told me how to love each other, like syifa and her sister diana” mareyam memeluk adiknya eliza mencium keningnya dan merapikan rambut pirang adiknya.
“only that’s what you got?” zakaria masih ingin tahu.
“ no..some day you will find me wearing hijab” mareyam berniat untuk berhijab.
“that good Idea! I think Abdurrahman will buy hijab for you” zakaria mulai ngerjain abdurrahman.
“emm..I..I..I..” andurraman kikuk.
“ i will wear hijab after this!” eliza juga berniat untuk berhijab.
“thats awsome princes off Nile” zakaria menyebut eliza dengan bidadari sungai Nil.
“i like hijab, i love hijab, yeaahhh” eliza kegirangan dengan gelar baru bidadari sungai Nile.
Ö Ö Ö
Lembaran Cerita
Tetesan hujan perlahan jatuh dari langit butiran-butiran air itu suci lagi mensucikan. para ulama fiqih mengistinbath bahwa air hujan dapat digunakan untuk bersuci. Air bening itu jatuh ke bumi mengalir dari cela-cela tanah, aliran parit yang sengaja digali manusia menuju sungai Oxus. Beningnya sungai oxus menarik perhatian sepasang bola mata manusia, kejernihan airnya mampu menggeringkan tenggorokan para musafir yang sengaja melintas di pinggiran oxus.
“tulit tulit tulit” handphon Abdurrahman berdering.
“assalamau’alaikum” suara wanita mesir.
“wa’alaikumsalam..maaf dengan siapa ini?” abdurrahman masih belum mengenal suara putri tuan mahmud.
“insyaAllah jack ada” abdurrahman menyerahkan handphon kepada sahabatnya zakaria.
“kakak eliza,Mareyam! ada hagah muhimmah katanya” tangan kanan abdurrahman menyerahkan alat komunikasi canggih kepada jack.
“ada apa? Putri tuan mahmud?” zakaria bertanya sesuatu yang dianggap penting oleh putri tuan mahmud.
“ada bingkisan coklat dari eliza untukmu..thuttt.thut..thuttt”
“Valentine !” zakaria kurang suka dengan momen valentine.
“ada apa jack?” abdurrahman serius bertanya.
“coklat valentine!”
“memang kenapa?” abdurrahman bertanya tentang coklat.
“kurang suka aja akhiy!”
“jangan berburuk sangka jack ora apik kata mbahku”
“firman Allah juga nyebutin buruk sangka ngak baek akhiy?”
“udah kita tunggu aja kedatangan eliza dan kakaknya”
Jack sempat terhenti menulis bidadari bernama anisa lathifa oxus dari kota bukhara. Pena diletakkan tepat di atas buku catatan miliknya. Tangan kanannya kembali meraih pena namun tak satu kata muncul dari benaknya.inspirasinya tersumbat oleh hati yang berburuk sangka.
Eliza dan kakaknya datang membawa bingkisan berisi coklat belgia yang sengaja dibeli oleh putri tuan mahmud di mall cairo. Kedua putri tuan mahmud ingin memberi hadiah untuk jack sebagai wujud syukur dan berbagi sesama muslim. Apa yang diduga oleh zakaria ternyata salah eliza tidak memberi hadiah karena momen valentine. Bidadari sungai Nil itu datang berhijab menutup rambut pirangnya dengan balutan hijab biru datang untuk memberi hadiah karena eliza mendapat juara Umum di sekolahnya. Selain itu eliza tercatat sebagai siswi pertama yang berani memakai hijab di chambric elementriy school.
Zakaria menerima hadiah dari eliza dan putri tuan mahmud. Zakaria terharu dengan kebaikan eliza dan kakaknya yang menganggapnya sebagai sahabat muslim. Abdurrahman menepuk punggung sahabatnya. Wajah abdurrahman tersenyum sebab zakaria telah sadar bahwa ia keliru dengan niat baik kedua putri tuan mahmud.
“thanks eliza, mareyam” zakaria sangat senang dengan hadiah putri tuan mahmud.
“jazakallah akhiy sudah ingatkan ana” mata teduh zakaria menatap abdurrahman lekat-lekat.
“sama-sama akhiy, semoga kita terus saling mengingatkan”
“amin akhiy” zakaria tersenyum dan mempersilahkan kedua putri tuan mahmud untuk duduk di ruang tamu.
“Tafadhaliy Ya ‘aslah..” zakaria mempersilahkan eliza dan kakaknya.
Kedua putri tuan mahmud duduk di kursi sambil menikmati pecel yang dihidangkan oleh abdurrahman. Zakaria menuangkan juz strawberiy. Empat gelas kaca terisi oleh juz strawberiy dan empat piring putih yang terhidang diatasnya pecel buatan abdurrahman. Syaqah orang indonesia kedatangan tamu istimewa. Sebagai orang indonesia mengenalkan masakan Nusantara kepada kedua putri tuan mahmud adalah kebahagiaan. Secara tidak langsung kedua pria Nusantara telah mengenalkan budaya indonesia yang cinta rasa.

۩ ۩ ۩

“Sudihkah dirimu mendongeng untuk kami?” mareyam berharap jack mendongeng untuk kedua putri tuan Mahmud.
“untuk keberhasilan eliza aku ingin mendongeng seorang bidadari sungai oxus” jack mengambil secarik kertas dan mulai membaca sekelumit tulisan miliknya.
“mengapa dirimu suka dengan latar sungai uncle jack?” eliza bertanya-tanya tentang setting yang disukai zakaria.
“air sumber kehidupan manusia dan bidadari itu memang tinggal di pinggiran sungai oxus eliza?” zakaria meneruskan dongeng Bidadari Oxus.
“siapa nama bidadari itu uncle jack?” eliza masih ingin tahu.
“anisa lathifa oxus nama yang indah bukan?”
Anisa Oxus gadis Uzbekistan bermata sipit memiliki sepasang dua bola mata indah yang tidak dimiliki oleh wanita di masanya. Bila Ia memakai penutup muka dan matanya masih terlihat oleh teman-temannya maka sudah dipastikan wanita bercadar itu Anisa Oxus karena hanya anisa oxus yang memiliki mata sipit lagi indah di kotanya Bukhara. Wanita bukhara menyebutnya bidadari oxus. Alis matanya halus tidak hitam melainkan tipis dan terlihat lembut. Bulu mata bidadari oxus terlihat lentik. Wajah bidadari itu bersih seperti wajah bidadari sungai reynah yang aku ceritakan. Bila anisa oxus tersenyum kedua pipi kemerah-marahan terlihat bulat seperti buah apel yang menarik.
“uncle jack mengapa dirimu selalu mendongeng dengan mata bidadari yang indah?”
“karena anisa oxus memiliki keturunan negeri yatsrib kota madinah dari ibunya. aku pernah membaca sebuah hadits bahwa mata wanita ansar itu sipit. Hadits itu terdapat dalam kitab shahih Muslim seorang imam dari negeri Naisabur. ”
“jadi wanita madinah itu bermata kecil?”sahut mareyam.
“iya mariyam Ia gadis bukhara bermata sipit tetapi tidak seperti mata sipit penduduk bukhara, mata bidadari oxus itu terlihat sangat indah”
Anisa oxus Bidadari kota Bukhara yang hidup dengan cara hidup shahabiyah. Ia suka dan cinta dengan cara dan pola hidup para shahabiyah. Ia suka dengan ilmu pengetahuan seperti ‘Aisyah, suka makanan yang sederhana seperti fathimah. Ia hidup dengan kesederhanaan. Bahkan dalam urusan berat badan Ia meneladani istri Rasulullah ‘Aisyah. Ia memiliki jasmani yang sederhana tidak berlebih berat badannya. Ia suka puasa sunnah senin dan kamis.
“pasti Anisa Oxus seperti diriku?” Mareyam merasa dirinya seperti Anisa Oxus.
“tepat sekali Ia berhijab sepertimu Mareyam”
“apa yang membuatnya menjadi bidadari uncle jack?” eliza ingin tahu lebih lanjut.
“akan aku ceritakan sesuatu yang menjadikan dirinya menjadi bidadari di kotanya”
Anisa oxus terlahir dari keluarga yang ta’at ayahnya seorang qadhiy yang memutuskan perkara keagamaan. Ibunya seorang Ilmuan dibidang matematika. Di bukhara kala itu ilmu hadis dan periwayatan hadist berkembang begitu pesatnya sehingga pelajar-pelajar dimasa itu lebih fokus dengan hadits dan ilmunya. Anisa oxus yang terlahir dari keluarga yang ta’at juga peduli dengan ilmu pengetahuan.
Suatu hari ayahnya mengunjungi kota Baghdad negeri ‘Iraq Anisa Oxus mengikuti perjalanan ayahnya ke kota Bahdad. Sesampai di kota Baghdad Ia tidak ingin kembali ke Bukhara. Anisa lebih memilih kota Baghdad kota ilmu pengetahuan dimasa itu. Anisa oxus menguasai ilmu-ilmu pengetahuan di kota baghdad. Pada usianya yang ke dua puluh ia menemukan cara mencairkan salju yang membeku di atap penduduk bukhara.
Setelah ilmu pencairan ice dengan proses ilmiah yang ia temukan. Anisa oxus kembali ke kota Bukhara, uzbekistan. Tepat di musim dingin yang dahsyat dimana lima tahun sebelumnya banyak bayi-bayi kecil muslim yang syahid kedinginan akibat salju yang mengubur rumah-rumah penduduk Bukhara. Saat itu pula ia mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang ia temukan dari pembelajarannya di kota baghdad.
ayah dari para bayi-bayi mungil mendatangi rumah qadhiy untuk meminta fatwa solusi agar bayi-bayi mereka selamat dari dinginnya Musim salju. Wajah-wajah para ayah yang baru menjadi seorang ayah terlihat cemas khawatir anaknya syahid seperti apa yang terjadi pada lima tahun silam. Qadhiy ayah anisa membeli peralatan yang diinginkan oleh anaknya. Tabungan untuk membangun istana kecil di kota bukhara di habiskan untuk kebutuhan penduduk setempat terutama bagi penduduk yang memiliki bayi-bayi kecil. Alat tersebut terbuat dari bahan penghantar panas yang diletakkan diatas atap dengan adanya proses pengapian dari dalam rumah menggunakan batang kayu yang kering alat penghantar panas itu akan mencairkan salju yang ada di atap rumah sehingga suhu dingin akan berkurang dan bayi muslim yang ada dirumah akan merasa lebih hangat di pelukan ibunya. Sedangkan para Ayah mengalirkan salju yang mencair dari atap rumahnya menuju sungai oxus. Senyum seorang ibu dan ayah serta tawa bayi mungil melihat ayahnya memucat kedinginan menghibur keluarga kecil.
Anisa lathifa oxus selain berparas bidadari Ia juga memiliki pengetahuan yang tinggi. Dari penemuannya serta kelembutan hatinya penduduk kota bukhara memanggilnya bidadari oxus. Sejak ia di panggil dengan bidadari oxus Ia menutup wajahnya dengan niqab hanya mata indahnya yang tidak bisa Ia sembunyikan. Karena anisa oxus yang memiliki mata indah di kota bukhara.
“maukah dirimu menjadi seperti bidadari oxus wahai eliza?” zakaria bertanya pada pendengar dongeng yang setia.
“aku ingin menjadi seperti bidadari oxus cantik parasnya juga cantik hatinya” wajah eliza tersenyum kemudian tangan kanannya merampas secarik kertas yang dipegang oleh zakaria.
“kembalikan lembaran cerita itu eliza?”
Eliza malah tertawa dan melipat lembaran cerita memasukannya kedalam saku gaun biru langit miliknya. Tamatlah dongeng zakaria.

Ö Ö Ö

Buku Catatan Salman

Tubuh kurus ini menggigil kedinginan disertai rasa lemas namun tetap bernafas dengan legah tanpa sesak di dada meskipun jemari –jemari bergetar. sedangkan ibu jari dan keluarganya mampu menulis cerita dengan wajah tersenyum diikuti bibir pecah-pecah yang indah. mata redup sayup kekeringan air mata Menatap cermin yang tidak pernah berdusta tentang dirinya. Meraih pena dan secarik kertas menulis cerita carekter bidadari-bidari surga.
Seorang gadis kecil mesir datang, gamis hitam dan hijab sutra membalut wajah cantik putri Tuan mahmoud. Ia bernama Eliza, membawa lembaran-lembaran cerita yang ingin Ia bacakan untuk seorang pria yang duduk ditemani secangkir coklat. Pria penuh tawa yang selalu menghibur Eliza kini terdiam tanpa kata-kata sebab Ia sedang menderita sariawan, bibirnya pecah-pecah matanya redup wajahnya memucat dan tangannya terlihat gemetar ketika menguk secangkir coklat minuman yang ia sukai. kenikmatanya secangkir coklat mampu membantu menghilangkan kesedihan dan rasa sakit yang Ia derita.
Eliza menyapa teman membacanya zakaria, sang pria hanya tersenyum menatap dua bola mata lebar lagi indah milik eliza. Eliza mencoba menghibur sang paman dengan membacakan cerita miliknya. Gadis kecil itu mengerti paman sedang tidak nikmat berbicara dan bercanda. ketika eliza membaca cerita miliknya Mata pria itu mulai berbinar bercahaya, wajahnya terlihat gembira bibirnya tidak kuasa untuk tersenyum meskipun harus menahan sakitnya luka di bibirnya. Darah segar mengalir dari bibirnya secepatnya ia sembunyikan dari tatapan mata eliza. mata yang mulai bercahaya mengalirkan air mata menahan perihnya luka di bibirnya. secepatnya ia menghapus dengan tisu putih dari sakunya. Pria itu masih saja terlihat gembira dengan wajah dan bibir tersenyum pecah-pecah serius mendengarkan cerita bidadari kecil Eliza.

Ö Ö Ö
Putri Asbaniya

Cerita putri Asbania dibacakan oleh Eliza dengan mimik dan cara membaca yang menarik pendengarnya. Berawal dari kota Baghdad. seorang pria berwajah parsie dengan jambang di dagu dan rahang keras miliknya. Mata tajam bola mata yang hitam. Pria berdarah parsie itu bernama Salman. Ia tertangkap oleh pasukan kerajaan sebab Ia menulis bahwa Al-qur’an itu kalam Allah bukan makhluq. Pasukan kerajaan membawanya ke dalam penjara memasukannya bersama para penulis bermazhab sepertinya. Salman pemuda pinggiran kota Baghdad hari-harinya disibukkan dengan berjualan kertas dan alat tulis di depan Madrasah di kota Baghdad. Sebuah pusat pendidikan para manusia berilmu tinggi kumpulan para Filusuf dan Mutakalimin. kali ini salman mendekam di penjara sebab Ia berani menulis bahwa Al-qur’an Al-karim itu kalam Allah bukan makhluq.
Penjara yang gelap, pengap lagi berbau tak sedap tetapi salman tetap nyaman hidup di dalam penjara karena Ia terbiasa dengan gelapnya gudang dan pengapnya udara. Saat salaman di luar penjara Ia selalu tidur di gudang-gudang milik wazir-wazir kaya kota Baghdad. Dua hari Ia hidup di penjara tetapi pemuda bernama salman tidak merasa tersiksa sehingga ia dipanggil oleh penjaga dan dibuang dari kota Baghdad. Ia dijadikan pekerja pelabuhan selat Giblaltar andalusia. Salman berterima kasih dengan sipir penjaga tahanan. Sang penjaga itupun terheran-heran padahal Ia akan dibuang dari kota Baghdad.
“engkau masih ingin mendengar ceritaku?” Eliza kembali meraih lembaran kertas kedua. Pria bernama zakaria hanya mengangguk dan tersenyum melihat putri tuan Mahmud bersedia membacakan cerita seperti dirinya membacakan cerita untuk gadis kecil Eliza.
Salman ditaqdirkan bertemu dengan seorang saudagar kaya di pelabuhan. Pria persia itu dibawa menuju kota untuk bekerja di sebuah toko buku di kota yang megah lagi indah bernama Qurthubah. Sesampainya di Qurthubah salman lansung dipekerjakan sebagai pembersih ruangan toko buku. Dari membersihkan debu yang melekat di buku-buku karya ulama Qurthubah maupun kota lainya. Menata buku-buku dengan rapi sungguh pekerjaan yang menyenangkan bagi Salman. Saat waktu shalat Ia diberi waktu untuk beribadah dan beristirahat saat waktu asar tiba.
Suatu hari Salman berangkat menuju Masjid terbesar kota Qurthubah. Menikmati air jernih yang segar dan indahnya panorama kota Qurthubah. Terasa Seperti di surga dimana sebelumnya Ia hanya penghuni gudang pengap kini Ia seorang yang bebas untuk beribadah. Saat ia berjalan menuju masjid terlihat olehnya seorang anak kecil bermain anjing kecil ditemani ayahnya. di Qurthubah mazhab yang dianut oleh penghuni kota adalah Mazhab Imam Malik.
Langkahnya terus menapaki jalan yang bersih jembatan penghubung sungai yang indah belum ada Qanathir seindah dan semegah itu di dunia. hanya di kota Qurthubah Qanathir indah itu ditemukan. Salman tersenyum sambil menorehkan tulisan di pinggir jembatan penghubung. Ia menulis tentang keindahan kota Qurthubah. Tangannya terhenti hatinya masih ingin mengunjungi Masjid Qurthubah.
Sesampai di Masjid Ia shalat Tahyatu Al-Masjid. Memuji pemilik ruh dan berdoa agar dipertemukan dengan kekasihNya Muhammad Rasulullah-shallallahu’alaihiwasalam- sehabis berdoa Ia menuju luar masjid.
“Malikah, malikah, malaikah?”
sura gemuru terdengar jauh dari luar Masjid Qurthubah. Salman mengambil buku,pena menghampiri kejadian untuk mengabadikan dalam buku catatannya. Seorang Putri Asbaniya mengunjungi kota Qurthubah, sebuah kebetulan yang menarik untuk ditulis.
Kereta kuda mewah membawa Putri Asbaniya empat kuda hitam mengkilap membawa gerbong berukiran penuh artistik terbuat dari kayu istimewa terkesan mewah. di dalamnya Putri Asbaniya, Putri itu tersenyum dan melambaikan tangannya menyapa penduduk kota Qurthubah. para pelukis merekam dalam ingatan para penulis meraih pena menulis peristiwa kunjungan putri Asbania ke kota Qurthubah.
Salman meraih pena dan kertas dari tas hitam. Mengejar dan memburu berita kedatangan putri ke kota Qurthubah. Begitu pula penulis-penulis lainnya berburu momen-momen penting yang berkaitan dengan putri Asbania.
Putri Asbania itu berhenti Ia turun dari kereta ditemani ibunya. Wanita dihadapan salman itu terlihat cantik, bila mata manusia melihatnya maka Putri Asbania bukan manusia but an angel. Pelukis tidak akan pernah melukis seorang wanita bila melihat Putri Asbania. Putri berparas cantik itu tersenyum kepada para penulis berita. Mempersilahkan para pelukis untuk melukis dirinya bersama ibunya. Dalam waktu lima belas menit para pelukis kota Qurthubah mengabadikan Putri Asbania dan ibunya ke dalam kertas sketsa. Keesokan harinya berita tentang kedatangan putri Asbania membanjiri pasar bacaan kota Qurthubah.

Ö Ö Ö

Salman terkagum dengan carekter Putri Asbania. Ia menulis awal pertemuannya dengan Putri Asbania. Bahwa pertemuannya bukan kebetulan. Ada taqdir tuhan didalam pertemuan. Seorang kakek tua menghampiri pemuda persi. Tangan kanan salman masih saja menulis meskipun wajahnya menatap wajah sang kakek tak sadar ia terlewat dari lembaran tulisan.
“anak muda engkau bernama Salman bukan?” sang kakek menyapa pemuda persia dan duduk di sebelahnya.
“saya salman siapa kakek sebenarnya?” salman ingin tahu.
“sebut saja dengan kakek tua itu lebih kakek sukai” kakek tua melihat tulisan salman kemudia ia berucap
“engkau seorang penulis?” kakek tua bergembira bertemu dengan seorang penulis.
“ya aku menulis dalam buku harian, aku bukan penulis berita”
“maukah dirimu menulis cerita dariku anak muda?” kakek tua berharap ada seorang penulis yang menulis cerita hidup sang kakek.
“tentu saja, aku bersedia”
“Aku pernah jatuh cinta” sang kakek mulai bercerita.
“ Dia wanita terpandang,terlahir dari keluarga terhormat, ia sosok wanita yang cerdas dalam berfikir, tidak banyak bicara. Suatu hari aku menulis surat Untuknya meskipun aku malu untuk menulis tulisanku yang tak penting baginya. Ia tidak membalas suratku tetapi Dalam tulisan hatinya ia berkata aku belum mampu mencintaimu sebab aku telah mencintai seorang pangeran yang telah mengisi hatiku. Aku takkan mungkin mengisi hati ini dengan dua atau lebih. aku hanya ingin mengisi hatiku dengan satu pangeran yang aku cintai dan aku percaya dengannya”
“lantas mengapa dirimu tidak menikah dengan wanita selainnya? Dia tidak mencintaimu wahai kakek?”
“sangat sederhana sekali anak muda. aku hanya ingin menikahi wanita yang aku sayangi sehingga diriku tidak menzaliminya dan itu dekat dengan surga. Bila diriku menikah dengan wanita yang tidak aku cintai aku khawatir tiada kasih sayang dan rahmat dalam keluargaku padahal hal itu nikmat tuhan yang diberikan bagi manusia yang menjalin kasih sayang”
“apakah engaku tidak kecewa dengan wanita yang memilih pria lain dibandingkan dirimu wahai kakek tua”salman masih tetap tidak percaya dengan sang kakek.
“sungguh aku tidak akan merasa kecewa. sudah bertahun-tahun aku melatih hatiku untuk tidak menyesali ketetapan tuhan. Aku hanya menunggunya hingga ia mencintaiku. Bila tiga puluh tahun yang silam Ia belum mampu mencintaiku, mungkin esok hari Ia akan mencintaiku, bila esok ia tidak kunjung mencintaiku aku tetap menanti cintanya dan aku bahagia anak muda menanti datangnya cinta dari hatinya”
“berarti engkau akan terus menantinya wahai kakek tua?”salman menulis kata-kata kakek tanpa ia tinggalkan sedikitpun.
“aku masih mencintainya sebab hatinya menulis jiwanya belum mencintaiku. Dengan demikian kakek masih berpeluang untuk dicintai” sang kakek tersenyum dengan wajah optimisnya.
“oh tidak! Karena Ia menulis belum mencintai kakek. Kakek tetap menunggunya sampai sekarang?” salman tidak percaya dengan kakek yang duduk membawa tongkat kayu di hadapnnya.
“benar sekali anak muda. Engkau akan merasa senang dengan kebahagian orang yang engkau cintai. Saat ia berwajah gembira dengan pemberian dari kekasihnya.”
“kebahagian seperti apa wahai kakek?”
“Aku selalu tersenyum saat meilhat bunga mawar karena bidadari itu terlihat sangat girang dan gembira dengan pemberian setangkai mawar Merah. mata sipit yang bening terlihat berkilau seperti embun pagi di terpa oleh matahari, pipinya kemerah-merahan terlihat manis tak kuasa menahan kegembiraan yang meluap dari hatinya, bibir tipisnya tersenyum seperti tipisnya lipatan-lipatan mawar merah yang merekah. Wajah bidadari itu terbalut oleh hijab sutra dari negeri syam. Di momen penuh bahagia itu ia diberi setangkai mawar merah oleh pangeran Asbaniya sosok pangeran yang gagah berani lagi tampan seperti titisan Nabi Yusuf.”
“kenikmatan seperti apa yang engkau rasakan wahai kakek?” salman masih tetap tidak percaya dengan kisah mustahil dari sang kakek.
“Engkau akan merasakan kenikmatan menunggu anak muda. Engkau tidak akan duduk berdua dengan wanita yang bukan mahrammu sebab engkau hanya ingin duduk bersanding dengan orang yang engkau cintai. Engkau tidak akan menyentuh dan disentuh oleh wanita yang bukan mahrammu. aku merasakan kenikmatan tidak menyentuh dan tidak duduk bersanding dengan wanita yang bukan mahramku anak muda” kakek tua itu tersenyum, wajahnya tidak setampan ketika Ia muda dahulu tetapi Ia masih mampu untuk tersenyum.
“mengapa dirimu tidak duduk dengan wanita bukan mahrammu wahai kakek?” salman mencoba bertanya.
“karena diriku hanya ingin bersanding dengan wanita yang aku cintai lagi halal untukku, kakek berharap jika kakek meninggalkan bersanding dengan wanita yang tidak halal niscaya tuhan akan menggantinya dengan wanita yang kakek cintai”
“aku pernah mendengar seorang muhadits berkata ketika diriku berada di majlis para ulama kota Baghdad. Seorang Muhaddits membacakan sebuah Riwayat. ”siapa diantara hamba Allah yang meninggalkan sesuatu karenaNya niscaya Allah akan mengantinya dengan yang baik pula”
“engkau pernah berada di kota Baghdad?” kakek tua menggeser posisi duduknya menatap wajah pria persia dihadapannya.
“aku lahir di persia ibuku membawaku ke kota Baghdad ayahku meninggal di kota baghdad kata ibuku dan aku percaya dengan cerita ibu” salman kembali meraih pena untuk menulis.
“engkau pernah memiliki kisah cinta dengan wanita kota Baghdad wahai anak muda?”
“tidak wahai wahai kakek tua di Baghdad aku sibuk dengan perniagaan. Tikus dan kucing yang cinta denganku” salman tidak jujur dengan sang kakek.
“baiklah anak muda semoga dirimu menikmati penantianmu” sang kakek beranjak menuju Masjid Qurthubah untuk mengikuti pengajian fiqih mazhab maliki.
“tunggu kakek tua..aku ingin ikut denganmu”
“mari kita mendengarkan kajian fiqih bersama syekh Muhammad Yusuf Al-Qurthubiy Al-Malikiy” kakek meraih tangan pemuda persia menuju masjid Qurthubah.
“bolehkan diriku mencintai Putri Asbaniya karena Allah wahai kakek?”
“tanyakan saja pada syekh Muhammad yusuf jika boleh engkau bisa memulai untuk menulisnya. Jika tidak engkau harus tetap menulisnya sebab dirimu jatuh cinta dengan carakter putri Asbaniya bukan?”
“tepat sekali kakek..aku jatuh cinta dengan carakter putri asbaniya dengan senyum bibir tipisnya yang mewakili kelembutan hatinya”
“mengapa dirimu tidak menemuinya wahai salman?”
“aku ingin mengabadikan lewat tulisan hanya itu yang aku bisa” salman tersenyum
“baiklah kalau begitu kita menuju Masjid Qurthubah!”
Penulis parsi dan sang penanti bertongkat menuju Masjid Qurthubah menanti kedatangan Syekh Muhammad Yusuf Al-Qurthubiy Al-Malikiy.
“engkau suka dengan cerita ini Unlce jack?”
“ya aku suka Eliza, bersediakah dirimu mengantarku ke Masjid Bukhariy Eliza?”
“untuk apa uncle jack ke Masjid Bukhariy?” eliza bertanya-tanya
“aku ingin bermunajat seperti Salman di Masjid Bukhariy, berdoa agar yang jauh didekatkan,yang haram dihalalkan, yang tertutup dibukakan, yang terlupa diingatkan, yang sakit disembuhkan, yang halus dilembutkan, yang hitam diputihkan” zakaria berdiri dari tempat duduknya.
“baiklah Uncle jackh aku akan membawamu ke Masjid Bukhariy dengan sepeda Milikku, tapi engkau yang memboncengku, engkau bersedia bukan?” Eliza juga tak sabar dibonceng dengan sepeda miliknya.
“tentu saja eliza aku yang akan memboncengmu”
“Hore Jalan-Jalan” eliza kegirangan dengan kesempatan berjalan-jalan ditemani dengan paman jack.

“Al-hamdulillah ‘ala kulli hal
Al-hamdulillahilladzi anzala assakinah fi qulubi al-mu’minin.
Al-hamdulillahilladzi ja’alaniy mumtasiman.
Al-ibtisam yuzilu al-masyakil wa ya’tiniy al-rhidha wa al-hubb”

Asfur

Malam kali ini lebih menarik dibandingkan dengan malam kemarin sebab bintang-bintang bertebaran di angkasa. bintang mengedipkan matanya bercanda satu sama lainnya. Bulan hanya terdiam melihat keindahan bintang yang terpancar dari sinarnya yang berkilau. Keluarga bintang kini sedang bersenang-senang. sebagai penghuni jagad raya bulan ikut tersenyum melihat keluarga bintang yang terlihat harmoni. Meskipun sendiri bulan percaya suatu saat ada teman yang bersedia menemaninya.
Di bumi Cairo bila malam hari seperti surga penuh dengan lampu yang bersinar. Pohon kurma yang dililit oleh lampu serta pepohonan yang berdaun cahaya lampu semua terlihat bersinar. Bila bintang berkerlip kota Cairo juga demikian. Penduduk Cairo lebih memilih berjalan-jalan dimalam hari. Begitu pula Eliza, Mareyam, Zakaria dan Abdurrahman keempat saudara seiman ini menapaki bumi Cairo mengunjungi piramida dan membeli Asfur perhiasan yang digemari akhwat-akhwat Asia seperti Akhwat Indonesia, Malaysia, Juga Thailan. Kali ini zakaria mengajak putri tuan Mahmud berkunjung untuk mencari benda-benda kesukaan kaum hawa.
Ketika agenda traveling dan shoping berakhir putri Tuan Mahmud mengajak untuk kembali ke kota ice cream. Kereta metro megulurkan tangannya seolah-olah Ia berkata “hold my hand before Am old” karcis tiket berwarna kuning terang ditengahnya garis lurus berwarna coklat. Zakaria meyerahkan kepada eliza dan dua rekannya Abdurrahman dan Mareyam gadis bermata lebar titisan bidadari Mesir. Langkah menuju gerbong metro anyar dengan desine serba hijau muda menghegemoni ruang tempat duduk. Keempat pengunjung toko asfur itu duduk berjauhan eliza disamping eliza abdurrahman disamping zakaria sedangkan mareyam berada diujung dekat dengan tonggak besi putih yang mengkilap. Didepan mereka terseisa bangku kosong baru saja abdurrahman ingin beranjak seorang gadis eropa menyelinap dengan pria berwajah Asia.
Seorang gadis berhijab merah berdesine bunga-bunga duduk disamping pria berambut hitam berwajah asia hidung mancung bibir kemerah-merahan sepertinya pria itu berasal dari philipina. Gadis eropa berwajah teduh, mata tajam lagi bening senyuman yang indah. Dua tangan kedua pasangan itu tidak bersentuhan sama sekali hanya saja duduk mereka berdekatan. Melihat pemandangan seperti itu Eliza bertutur.
“ That’s a couple?” Eliza menatap mata gadis eropa berwajah teduh.
“sepertinya bukan Eliza” zakaria tersenyum menatap mata pria asia berambut hitam.
“lantas mengapa mereka duduk berdua?” Eliza beranggapan bila ada dua manusia lawan jenis yang duduk bersanding menunjukkan pasangan suami istri. Sebab di bumi Mesir pemandangan demikian sangatlah tabu.
“coba tarik nafasmu perlahan Eliza..aku rasa mereka berdua hanya bersahabat..aku rasa pria berhidung mancung itu hanya ingin menjaga saudari muslimahnya. Aku rasa wanita berhijab itu hanya ingin ditemani agar Ia terjaga” zakaria menatap mata Eliza.
“lantas mengapa mereka duduk berdua Uncle jack?” Mareyam angkat bicara.
“menurutku gadis berhijab merah itu gadis yang cerdas Ia memutuskan untuk mengambil Mudharat yang lebih kecil, bila Ia bersama dengan pria ganteng itu Ia akan dijaga sebab pria itu sahabatnya. bila ia sendiri berpergian di malam hari tentunya hal itu akan menimbulkan mudharat yang lebih besar. Hal ini juga pernah terjadi kepada ‘Aisyah ketika Ia tertinggal rombongan kemudian datanglah Shafwan Bin Al-Mu’thal. bukankan begitu Mas Abdurrahman” zakaria menoleh ke arah abdurrahman.
“saya sependapat dengan zakaria, saya beri permislan. Bila mareyam pergi sendiri tanpa ditemani olehku dan zakaria tentunya Mudharat akan lebih besar. Bila aku dan zakaria menemani mareyam tentunya mudharat akan lebih kecil meskipun aku dan zakaria bukan mahram mareyam. tapi tentunya bila dalam keadaan darurat” Abdurrahman mencoba memberi pandangan kepada Mareyam.
“baik kalau begitu kalian berdua akan menjadi my body gurd kemana saja aku pergi” mareyam menunjuk dua pria bernasib malang.
“ooo alah ngger?..habis kita Jack!!” Abdurrahman memegang keningnya.
Zakaria hanya tertawa melihat abdurrahman. Ia mengeluarkan secarik kertas yang ia temukan di bukit pasir piramida. Sepertinya catatan seorang petualang yang tercecer atau mungkin saja terhempas oleh nakalnya angin gurun.

Ö Ö Ö

Allah Subhanahu Wa Ta’ala He know inside our heart
I don’t know inside your heart that because Am human but I still happy with the words that you told me. You said “ Halal Is Only Definition Of Love”. I learn more than one lesson I take knowladges and practice. Like what you told me “cursing not solve, crying wont change but a smile could lighten things up :)” this lesson like my beloved prophet Muhammad Shallallahu’alahi Wasallam said ” Tabassamuka Fi Wajhi Akhika Shadaqah”. I can’t refuse that I trust lesson from my beloved Muhammad-shalallallahu’alaihi wasalam- and also your lesson about smile. And am sorry.. I always look at your smile face and then I trust you.
You have dreams ..I have dreams. You have plan to finish your study and also am I, i want to finish my tesis. You want to make your family smile like your cute smile and also am I, I want too. I dream a mother who could teach me and my beloved sons. And I always ask this du’a for almighty Allah jalla wa ‘ala.
Every one has a reason to do. Every muslim have to do the best for his life, his family, his wife and sons, his country and his riligion. And then I wait you even you never wait me. I try to practice words “halal is only definition of love” By waiting some one who never met me I got sweet of waiting.
If you read what I write i hope you feel better. But if my words hurd you. you can save in your note book but dont save it in your heart it’s will be hurd your life. Am so sorry for every thing what I done. If you deny it you should practice what you said : “cursing not solve, crying wont change but a smile could lighten things up ”.
“apa yang kau baca uncle jack?” eliza ingin tahu dengan kertas lusuh yang dipegang oleh zakaria.
“tulisan” zakaria masih terus membaca tulisan usang berpasir.
“tulisan apa Uncle Jack?” eliza tetap saja ingin tahu dengan secarik kertas yang dipegang zakaria.
“tulisan seseorang” zakaria terus membaca.
“Huffpp” tangan eliza menyambar secarik kertas yang dibaca zakaria tetapi kali ini eliza gagal dengan cepat zakaria mengangkat secarik kertas. Eliza terus merebut secarik kertas hingga kertas itu terjatuh di hadapan gadis eropa berhijab.
“take it little sweety” gadis eropa berhijab itu tersenyum tangan kanan dengan jemari yang terlihat lentik menyerahkan kertas yang jatuh dihadapannya.
Eliza berterima kasih kepada gadis eropa berhati lembut itu, menatap dua bola mata kejujuran bahwa ia wanita baik-baik tidak seperti apa yang dibanyakan oleh eliza. Meraih secarik kertas dari tangan lembutnya terlihat benda asfur berwarna pink dipergelangan tangan gadis eropa.

Ö Ö Ö
Andalus
Kehidupan sosial masyarakat andalus, masyarakat andalus terdiri dari beberapa unsur ras yang berbeda. Setidaknya ada empat unsur yang mendominasi seperti : Arab,Barbar,Asbania,keturunan pertalian Arab dan Barbar.ikatan pernikahan terjadi antara arab dan ras asbania yang berkulit putih, berambut pirang, mata berwarna biru.orang asbania terkenal pintar,pemberani,juga gagah.Bangsa arab ketika memasuki andalus mereka terperangah ta’jub lantas mereka berkata :
ان للجنة بالاندلس ….مجتلى مراي ورى نفس
فسنا صبحتها من شنب ….ودجى ظلمتها من لعس
فاذا ماهبت الريح صاا…صحت واشوقى الى الاندلس
Sisi kehidupan orang andalus berbeda dengan biah timur dari berbagai sudut pandang kehidupan. Diantara ciri orang andalus mereka suka dengan kebersihan, bersih dalam hal berpakain juga makanan. Mereka menjaga makanan dari higgapnya kotoran, selain itu mereka terbiasa dengan berjalan di jalan sudut-sudut kota tanpa menggunakan penutup kepala meskipun ia seorang Qhadhiy, atau Muftiy. Mereka juga terbiasa mengunakan pakaian putih.seperti sya’ir berikut ini.
البياض لباس حزن…باندلس فقلت من الصواب يقولون

.الم ترانى لبست بياض شعري لانى قد حزنت على الشباب.
Dari segi pendidikan Menurut ibnu khaldun dan ibnu ‘Arabiy orang andalus memiliki cara yang berbeda dengan orang timur. Jika orang timur terlebih dahulu menghafal Al-Qur’an sebelum anak-anak itu memahami maknanya, kemudian diajarkan bahasa arab. Sedangkan orang andalus mereka mengajarkan bahasa arab terlebih dahulu kemudian menghafal Al-Qur’an.
“Thuuutttt “ suara air yang telah mendidih mirip dengan suara lokomotif.
Pena dan buku catatan ditinggalkan di atas meja. Sang penerjemah beralih menuju dapur. sepertinya kerongkongannya kering dan lidahnya terasa pahit. Pria berkaos oblong itu ingin segera menikmati coklat bubuk ditambah susu. Tangan kanan mengambil dua cangkir keramik putih dan piring kecil sebagai Alas. Meletakkan cangkir tepat diatas piring kecil membuka kemasan bungkus coklat. Susu bubuk dan coklat dimasukkan perlahan kedalam cangkir kemudian air panas dituangkan. Aroma coklat panas yang nikmat. Sang pria tersenyum sendiri melihat dua cangkir coklat susu panas. Beginilah menanti cinta yang halal terasa Nikmat.
“Bismillah” sang pria mencicipi minuman buatannya dan ternyata terasa nikmat. Namun lebih nikmat bila yang menuangkan dan menghidangkan Bidadari Surga. Bidadari surga itu tidak akan pernah wujud bila Ia belumlah halal. Langkah kaki sang pria berkaos oblong menuju kamar sahabatnya. Dua tangannya membawa dua cankir susu coklat panas untuk dinikmati dibalkon.
“Permisi tuan boleh saya masuk” pria itu menirukan seorang pelayan.
“mlebu wae jack, ora dikunci” Abdurrahman bersuara dari dalam kamar.
“assalamu’alaikum ‘ammu..minum-minum biar anget?” zakaria menghampiri sahabatnya yang termenung di balkon kamarnya. Abdurrahman terdiam diatas kursi tanpa ditemani oleh siapa pun. Dia tidak biasa menulis pria ini lebih suka berfikir. Zakaria meletakkan dua cangkir minuman hangat diatas meja dan ikut duduk dikursi rotan menikmati lalu lalang kendaraan juga penduduk mesir yang sibuk shoping.
“ada apa anak muda? Cerita dong?” zakaria membujuk sahabatnya untuk cerita.
“Ah aku malu cerita sama kamu jack!” abdurrahman ingin beranjak dari kursi rotan menuju kasur.
“wait..wait minum dulu,ceritain ke ane baru bobok!” zakaria menutup pintu kamar Balkon. Abdurrahman mengurungkan niatnya untuk berpaling dari sang pendongeng ia memilih duduk diatas kursi rotan Minuman susu coklat hangat dan berusaha cerita tentang masalahnya.
“coba cicipi dulu coklat belgia dan susu Mesir yang mengepul ini ” zakaria menikmati susu coklat dan merasakan kenikmatannya. Abdurrahman meraih susu coklat hangat bibirnya menyentuh cangkir putih berisi susu coklat.
“Mareyam jack?” abdurrahman membuka gembok rahasia.
“Ono opo sama Mareyam?” zakaria berusaha rileks agar abdurrahman tersuasana.
“aku suka dengan Mareyam jack! Bagaimana menurutmu?” abdurrahman kembali meneguk susu coklat.
“suka dengan Gadis seperti Mareyam itu fitrah abdurrahman. Siapa yang tidak suka dengan gadis cerdas berhijab, berpendidikan dan akhlaknya baik seperti Mareyam?” zakaria menatap mata sahabatnya yang sedang diuji dengan fitrah yang ada pada jiwanya.
“lalu apa solusinya jack?” abdurrahman mulai bersemangat untuk berdialog lebih lanjut.
“kamu mau dia Halal untukmu?” zakaria terlihat serius aura wajahnya seperti seorang yang lagi fokus dengan sebuah perkara penting.
“halal maksudmu? Nikah?” abdurrahman terlihat bingung.
“Aiywa Huwa Dah! Nikah.” Zakaria meraih pena dari sakunya dan menorehkan tulisan berbasa arab diatas kertas. Al-nikah huwa al-hal li al-hubb al-fithr. Tangan kanan zakaria menyerahkan kepada Abdurrahman.
“aku masih ingin studi jack!” Abdurrahman belum siap untuk meminang Mareyam.
“kamu siap kalau dia duluan?”
“ahhh..kamu ini jack ! jangan nakut-nakuti aku gitu ngapa?”
“loh ini konsekuensi kalau kamu ambil keputusan untuk lanjut studi akhiy…aku ngak nakut-nakuti antum” zakaria tersenyum meledek abdurrahman yang salah tingkah.
“huff..Bismillah aku siap untuk itu jack!” abdurrahman memilih untuk bertamu ke rumah Tuan Mahmoud.
“Al-Hamdulilah.. semoga Niat baikmu ini dicatat disisiNya sebagai kebaikan dan dimudahkan olehNya. Amien ya rabb” zakaria kembali tersenyum menatap sahabatnya abdurrahman.
“amien ya rabbb..”

Ö Ö Ö

“abdurrahman hpmu bunyi?” zakaria mengingatkan dari dapur.
“tolong angkatne jack aku isek nyuci” abdurrahman menyahut dari kamar mandi yang pintunya terbuka agar tidak pengap.
“sip-sip tak mateni kompor sek!” zakaria memutar kearah kanan hingga api biru padam, langkah kakinya menuju kamar abdurrahman menekan tombol bergambar telpon warna hijau.
“halo jugak! Ohhh..aiwa..aiwa masyi..hadhir..InsyaAllah..ok! biiznillah..aiwa? ley? Dilwa’ti? ba’ada dhurh!..insyaAlllah!” zakaria seperti sedang di wawancara oleh putri tuan mahmud Mareyam.
“ada apa tho jack? Aiwa..aiwa..ok! musy ‘arif?” abdurrahman pingin tahu siapa yang telpon sepertinya ribet banget.
“tu barusan bidadarimu nelpon! Katanya abdurrahman sedang sibuk ya? Ku jawab aiwa! Kamu juga sibuk aku bilang aiwa!, bisa ketemu setelah pekerjaan selesai,tak jawab masyi..hadhir insyaAllah! Ok!, terus bidadarimu ngomong setelah zuhur ya? Tak jawab biiznillah! Bisa bilangin ke abdurrahman untuk …aku ngak krungu trus aku aiwa?..untuk hadir bawa sesuatu..aku bilang ley? Dia diem ya aku bilang setelah zuhur insyaallah.” Zakaria menjabarkan.
“ohh..siplah jack!” abdurrahman tersenyum.
“ wah sesuatu yang indah bahkan terjadi sepertinya?” zakaria beralih kembali menuju dapur untuk potong-potong sayur zabaneh buat sayur bening.
“hmm mulai mas jack?” abdurrahman mulai ligat ngucek cucian tak sabar bertemu dengan mareyam gadis mesir yang menjadi bidadari baginya.
“santai aja ngujeknya mas broo..nanti malah robek..” zakaria buru-buru kabur dari pintu kamar mandi.
“ini ni indahh” abdurrahman mengangkat tangan menyiram zakaria namun yang terjadi deterjen menggelembung ke udara.
“memang indah mas bro seindah gelembung-gelembung cinta yang berterbangan di udara.aku merasakan keindahan akan terjadi sebentar lagi..selamat berbahagia mas broo” zakaria semangkin menjadi.
“pelayan makan siang sudah siap?”
“maaf-maaf aku terlarut dengan gelembung-gelembung cinta tuan”
“udah jack!! Bendera putih jack!!”
“maleys ‘ammu!! Maleys!!” suara zakaria dari dapur.
Cahaya sinar matahari mulai menerobos pentilasi rumah, siang hari selamat siang. Penghuni rumah melangkah menuju sebuah tempat yang telah disepakati oleh abdurrahman dan bidadarinya. Rumah tuan Mahmud di mabarah kawasan perumahan elit. Langkah abdurrahman begitu semangat hingga butiran-butiran keringat mengucur dari pelipisnya. Zakaria memberi saran agar naik taksi tapi Abdurrahman ingin memperjuangkan cintanya dengan jalan kaki. Bingkisan yang Ia kemas dengan kertas kado berwarna hijau bermotif bunga tulip kuning. Sepertinya benda itu berasal dari Indonesia.
Imarah yang dituju di depan mata, Abdurrahman mengangakat kedua tangannya berdoa dan melangkah optimis. Zakaria menepuk bahu sahabatnya sambil berucap semangat orang indonesia jangan menyerah sebelum berusaha. Mata abdurrahman menatap mata zakaria sorot mata garuda indonesia yang tajam optimis lagi pantang menyerah, bibirnya tersenyum lebar.
“Bismillah” bel rumah tuan mahmud dipencet oleh abdurrahman.
“’ammu..Itfadhol!!!” Eliza menyapa orang indonesia dengan keluguaannya, tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kedua orang indonesia itu.
“assalamu’alaikum Ya baba mahmud”
“wa’alaikassalam ya andunisiy..itfadhol” tuan mahmud mempersilahkan pemuda indonesia untuk duduk.
Tak lama minuman datang seorang putri Kerajaan dinasti mahmud menyajikan minuman beserta makanan sejenis manisan. Eliza juga datang membawa buah sambil tersenyum. Seorang perempuan bermata biru menyapa kedua pemuda indonesia, bahasa arabnya kurang fasih. Setelah berta’aruf ternyat wanita itu ibu mareyam dan eliza. Wanita bermata biru itu kebangsaan prancis.
Tuan mahmud mulai membuka pembicaraan tentang ibu mareyam yang berasal dari kota marseille prancis. Dan tuhan mempertemukan keduannya dalam pernikahan yang bahagia. Berbincang tentang pernikahan tuan mahmud menjabarkan panjang lebar tentang adat pernikahan di mesir. Dari mulai persiapan mahar yang beribu-ribu pound Mesir hingga flat yang siap huni jika dibahasakan dengan bahasa yang sederhana flat yang sempurna. Tidak hanya itu masih ada lagi adat iring-iringan dengan mobil yang menjadi kebiasaan yang terlihat meriah.
“bagaimana jack?” abdurrahman mulai tidak percaya diri.
“ jangan menyerah akhiy” zakaria hanya bisa berkata-kata.
Abdurrahman membuka bingkisan berupa kain batik yang dibawanya dari indonesia. Batik itu ditoreh sendiri oleh keuletan tangan ibunya, tangan kartini yang sabar melewati lika-liku motif batik. Kain sederhana bernilai seni tinggi itu memang tidak seindah gaun pengantin yang didambakan oleh para gadis Mesir namun batik asli itu sebuah amanah seorang ibu untuk anaknya agar anaknya memberikan kain batik untuk bidadari yang bersedia mendampingi hidup anaknya. Abdurrahman menitipkan batik kepada tuan mahmud untuk siapa batik itu. Bila tuan mahmud tidak menemukan seorang bidadari yang pantas menurut tuan mahmaud, batik coklat itu bisa dikembalikan kepada pemiliknya.
“ini indah sekali” ibu Mareyam mengambil kain batik meraba goresan seorang ibu yang digores dengan penuh kesabaran untuk bidadari pilihan putra tersayang. Mata biru manusia eropa itu menatap lekat-lekat setiap alur muara batik yang terlihat sempurna.
“Yup Mom Its So Beuatiful” mareyam meraba batik coklat milik abdurrahman.
“gamil awiy!” Eliza gadis ingusan ikut-ikut pegang batik.
“abdurrahman ini buatan ibumu?” ibu mareyam masih tidak percaya kalau batik itu buatan ibunya.
“ya madam..ibuku yang membuatnya” abdurrahman tersenyum melihat madam tertarik dengan batik buatan ibunya.
Batik yang indah penuh artistik dan falsafah kehidupan tidak mampu meyakinkan tuan mahmud. Batik nusantara itu tidak tepat untuk keluarga Mahmud. Kini kain bercorak artistik itu dikembalikan oleh tuan mahmud kepada pemiliknya abdurrahman. Sepertinya mareyam memang tidak pantas bersanding dengan abdurrahman dengan batik jawa mungkin gaun penganntin yang didatangkan dari kota marseille yang serasi bagi bidadari berdarah Mesir prancis itu. When everything is gone you have heart even it broken.

Ö Ö Ö

Ibu

“jack tolong tulis ya, Aku mau ngomong sendiri dengan ibuku” Abdurrahman menatap langit malam disana ada bintang bulan juga pesawat yang sedang mengudara.
“ok !!!ok!!!” zakaria sibuk cari pena dan kertas Hps.
“Cinta…dirimu seperti Batik yang kupegang erat-erat..
cinta..keidahan artistikmu seperti Batik..cinta..
Ibu..aku gagal mempersembahkan batik artistik ibu
Ibu..apa maksud ibu memberiku batik? mengapa ibu tidak memberiku sesuatu yang mengilaukan bidadariku..permata..emas..daimon?”
“Udah ditulis kan jack?” abdurrahman menghampiri kertas torehan zakaria.
“behhh berbahaya juga filosof kalau mengungkap cinta?” zakaria tersenyum memperlihatkan ocehan sahabatnya.
“boleh aku jawab mengapa ibumu memberi batik bukan sesuatu yang mengilaukan bidadarimu abdurrahman” zakaria mencoba memberi jawaban.
“boleh”
“ibumu pingin kamu pulang dulu ke indonesia nah sampai disana baru ada yang mau sama batik buatan ibumu”
“wah kalu seperti itu berarti batik ngak disukai forigen people dong?”
“ngggak itu broo maksudku? Maksudku yang memahami falsafah dari batik itu sendiri adalah orang Nusantara itu sendiri.”
“oklah bro kalau itu memang benar mungkin bidadari sungai Nil belum menjadi jodohku”
“ya jangan pesimis dulu..kejar terus sampai di Ujung piramid”
“ahh edan itu namanya jack”
“yo wes yang penting kamu ngak sedih lagi “ zakaria tersenyum melihat abdurrahman bermuka gembira.
“hadir
Saat kedua bola mata tak sanggup menghadirkan kehadirannya bahkan bayangannya tidak tanpak. Kedua bola mata bukan satu-satunya pancaindra yang mampu menghadirkan kehadirannya.
“kamu bisa santai apa kamu tidak merasakan seperti apa yang aku rasakan penulis?”
“aku juga merasa abdurrahman”
”dengan siapa jack?”
“aku jatuh cinta dengan bidadari yang aku tulis sendiri”
“berarti cintamu ilusi!”
“bisa dikatakan demikian sebab aku jatuh cinta dengan bidadari yang tidak pernah aku lihat tetapi aku merasakan kehadirannya”

Ö Ö Ö

My Little Angel

Langit yang biru kini mulai menghitam awan menggumpal terlihat berat menahan gelembung air yang tak sabar untuk jatuh membasahi makhluk-makhluk tuhan yang ada di planet bernama El-ardh. Hujan memperkenalkan seorang makhluk bumi kepada bidadari penghuni surga. Rintikan kata-kata bidadari yang tertulis seperti tetesan dingin menyejukkan hati.
Littel angel membuka jendela meninggalkan kertas dan pensil hadiah dari seorang penjual buku. Mata bidadari kecil itu menatap rintikan hujan hingga bibirnya tersenyum. Diulurkan tangannya keluar jendela mencoba merasakan dinginnya air hujan, sayang tangan bidadari kecil itu hanya merasakan percikan hujan. Wajahnya tetap tersenyum meskipun hanya percikan air dari langit yang Ia rasakan. Air hujan yang menjaga tangannya untuk siapa ia berkenalan.
Littel angel kembali melukis diatas secarik kertas, menggoreskan pensil perlahan penuh kesabaran. Matanya yang bening sering terpejam untuk merasakan kehadiran bidadari surga yang diceritakan seorang penjual buku. Bidadari kecil pernah mendengar cerita tentang bidadari surga yang wujud dalam karya sastra. Penjual buku itu bercerita.
Secarik kertas bertemu dengan pena Milik seorang putri raja. Kertas itu mulanya Malu untuk memperkenalkan namanya bukan karena ia makhluk yang selalu menjadi alas tetapi itulah kertas, ketika ia memberanikan diri untuk memperkenalkan namanya sebagai makhluk berwujud kertas sang putri kerajaan membawa pena kesayangan pergi ke negeri peradaban untuk menulis cerita-cerita yang lebih menarik meninggalkan kertas.
Pena berdampingan dengan kertas-kertas negeri peradaban tertulislah dari tinta pena sang putri kisah makhluk bumi yang memiliki cita-cita setinggi langit makhluk itu berkerudung memilik mata yang indah wajah yang bersahabat. Dan dirinya hanya menginginkan satu balon yang mengantarnya ke surga.

pada akhirnya semuanya mampu tersenyum :)….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s